Cinta Untuk Aiden

Cinta Untuk Aiden
Cinta Aiden - Part 30


__ADS_3

Aiden sudah berdiri di depan meja Cantika, pria itu tersenyum lalu menunjuk ruangan Edwin.


“Pak Edwin ada di dalam,” ucap Cantika.


Aiden pun melewati Cantika lalu kembali lagi dan berbisik, “Kamu makin cantik dan aku rindu.”


Tubuh Cantika sempat meremang saat hembusan nafas Aiden terasa di pipinya, wanita itu lalu menoleh tapi Aiden sudah kembali berjalan menuju pintu ruangan Edwin.


“Rindu tapi nggak ada kabar. Katanya mau nikahi aku tapi ….”


Atensi Cantika beralih ke ponselnya yang bergetar, ternyata pesan dari Aiden.


[Sabar ya, kita tidak boleh bertemu selain di kantor oleh Papa. Dua hari lagi, kami akan datang untuk melamar kamu]


Cantika tersenyum membaca pesan yang dikirim oleh Aiden. Sempat bingung untuk membalas pesan tersebut. Bahkan Cantika sudah dua kali mengetik pesan balasan tapi kembali dihapus.


[Hanya dibaca?]


Aiden kembali mengirimkan pesan.


“Huft, aku harus balas apa. Rasanya tidak percaya kalau kamu akan menjadi suamiku,” gumam Cantika.


...***...


Akhirnya malam yang dinanti pun tiba, Aiden bersama keluarganya mendatangi tempat tinggal Cantika. Naila menyambut kedatangan Aiden.


“Om Aiden akan jadi Ayah aku?”


Aiden meraih tubuh Naila dan menggendongnya lalu mengusap kepala bocah itu. Ibu Ayana kurang menyetujui Cantika bersama Aiden, tapi saat melihat Edwin serta Ayu yang mengenalkan diri sebagai atasan Cantika sikapnya berubah.


“Beginilah keadaan kami, saya harap tidak menjadikan Bapak dan Ibu mengurungkan niat baik untuk melamar Cantika menjadi istri Nak Aiden,” tutur Ibu Ayana.


Cantika hanya diam melihat perubahan sikap Ibunya, sedangkan Aiden yang duduk sambil memangku menatap Cantika.


Tidak berlama-lama, Edwin pun mengutarakan maksud kedatangannya dan Ayana langsung menerima lamaran Aiden tanpa bertanya lagi pada Cantika.

__ADS_1


“Kita akan adakan akad nikah serta resepsi satu bulan dari sekarang, semua hal akan diurus oleh WO jadi Ibu Ayana tidak perlu sibuk atau kesulitan mempersiapkan pernikahan mereka,” tutur Edwin.


“Paling nanti kita ketemu untuk urus seragam saat akad dan resepsi,” tambah Ayu.


“Bagaimana Aiden, ada yang ingin kamu sampaikan?” tanya Edwin. kedatangan mereka benar-benar to the point.


“Hm, kalau aku sih maunya lebih cepat,” usul Aiden yang langsung mendapat ejekan dari Melody.


“Tuh dengar Cantika, dia nggak sabar banget. Padahal satu bulan itu sebentar dan kalian sudah lewati lebih dari sepuluh tahun ya,” ujar Ayu.


Cantika tersenyum lalu menundukkan wajahnya karena malu.


“Asyik, Om Aiden akan jadi Ayah aku,” teriak Naila.


Saat semua sedang menikmati hidangan yang disiapkan, Aiden mengajak Cantika keluar rumah dan bicara di beranda.


“Satu bulan lagi, aku akan ajak kamu keluar dari rumah ini,” ujar Aiden. “Kalau Ayah kandung Naila datang untuk mengajak atau memaksa kamu, sampaikan padaku.”


“Hm.”


“Aku juga serius, kalau tidak mungkin sudah lama aku terima niat Mas Adi dan menjadi istri sirinya,” tutur Cantika.


“Mungkin kita akan sibuk dan jarang berkomunikasi tapi aku harap itu tidak menjadi masalah yang penting selalu berkabar. Papa tidak mengizinkan aku terlalu dekat denganmu sebelum menikah, makanya lebih baik menyegerakan pernikahan kita.”


Cantika menganggukkan kepala, tanda mengerti maksud Aiden.


“Pengobatan Naila, jangan sampai tertunda atau lupa walaupun kita disibukkan dengan persiapan pernikahan. Kamu sudah berjanji menerima Naila, berikutnya kita bersama yang bertanggung jawab terhadap Naila bukan hanya kamu,” ungkap Aiden membuat hati Cantika menghangat.


Pria lain mungkin saja akan keberatan, tapi Aiden malah dengan tangan terbuka menerima Naila yang jelas-jelas bukan saudara apalagi keturunannya.


“Kalau Mas Adi menginginkan hak asus Naila, bagaimana?”


“Kita akan tempuh lewat pengadilan. Kalau memang dia menginginkan anaknya, sudah pasti sejak dulu dia minta tapi ini karena kamu berkali-kali menolaknya lalu dia berniat mengambil Naila. Sepertinya tidak mungkin.”


“Lusa, kita akan bertemu dengan WO. Kamu bisa sampaikan juga konsep pernikahan yang kamu inginkan seperti apa,” titah Aiden.

__ADS_1


“Aku tidak ada ….”


“Pikirkan dulu,” ujar Aiden menyela ucapan Cantika. “Ada waktu dua hari untuk meyakinkan konsep pernikahan impian kamu. Kita berharap menikah hanya sekali seumur hidup.”


“Baiklah, aku akan pikirkan dulu. Lalu Naila?”


“Saat pernikahan nanti dia pasti akan berada di pelaminan bersama kita, tapi aku sudah menghubungi perawat yang akan menjaganya beberapa hari mulai dari menjelang pernikahan,” cetus Aiden.


Naila menatap Aiden, tidak percaya kalau pria itu bukan hanya mencintai dirinya juga Naila bahkan hal kecil untuk kebutuhan Naila pun dia sudah pikirkan. Rupanya Tuhan sudah mengirimkan seorang pria yang benar-benar idaman dan terbaik untuk hidupnya.


“Aiden, ajak Cantika masuk,” titah Ayu.


Cantika dan Aiden pun kembali ke dalam rumah, karena Edwin mengajak undur diri.


“Jadi begitu ya jeng, nanti saya kabari kalau kita akan bertemu untuk bicarakan hal lain,” ujar Ayu pada Ibu Ayana.


Cantika dan Naila mengantarkan keluarga Aiden sampai ke mobil, bahkan Naila sempat melambaikan tangan saat mobil perlahan menjauh. Baru saja Cantika akan menutup pintu pagar rumahnya, saat ada motor berhenti.


“Rosa,” ujar Cantika.


Rosa yang baru saja membuka helmnya, menatap keliling.


“Kok sepi, emang gak jadi lamarannya?”


“Baru pada pulang,” jawab Cantika.


“Wah aku ketinggalan ya, tadi lembur dulu. Aku pikir bakal keburu. Lalu gimana, diterima?” tanya Rosa yang masih berada di atas motor dan Cantika berdiri di belakang pagar.


“Iya.”


“Lalu?”


“Bulan depan, kami akan menikah bulan depan.”


Rosa menganggukkan kepalanya. “Semoga lancar sampai pelaksanaan, aku turut bahagia,” ungkap Rosa.

__ADS_1


“Kamu serius sudah berhasil melupakan Aiden dan melepaskan cintanya?” tanya Cantika. 


__ADS_2