Cinta Untuk Aiden

Cinta Untuk Aiden
Cinta Aiden - Bab 21


__ADS_3

“Hei apa hakmu mengusirku? Sedangkan aku hanya ingin bertemu dengan Cantika.”


“Kamu tanya hakku, tentu saja aku berhak. Aku pemilik perusahaan ini,” ungkap Aiden membuat pria itu bungkam.


“Jangan biarkan pria ini kembali,” titah Aiden pada resepsionis kemudian berlalu.


Jadi, Cantika selama ini membohongiku, batin Aiden.


“Untuk apa dia berbohong? Apa untuk menghindariku?” gumam Aiden.


Aiden sudah berada di ruangannya, masih memikirkan ulah Cantika yang sudah membohonginya.


“Dia bilang bocah itu anaknya tapi … jangan-jangan pria yang melamarnya adalah laki-laki tadi. Berarti Cantika sudah menolaknya dan tidak menunggu laki-laki itu.”


“Shittt, aku harus tanyakan langsung hak ini pada Cantika. Kapan dia pulang?”


Aiden mengecek kembali perjalanan luar yang dilakukan Cantika bersama rekan lainnya, termasuk Edwin. Beberapa hari ke depan adalah jadwal Aiden melamar putri salah satu orang tertinggi di kota.


[Jangan lupa dua hari lagi]


Aiden membaca pesan dari Rosa dan baru menyadari bahwa tanggal lamaran yang akan dilakukan olehnya pada Rosa semakin dekat. Pikirannya kacau, menyadari waktu yang sudah dekat dan dia mendapatkan bukti kebenaran tentang Cantika.


...***...


“Jangan sombong,” ujar Mai.

__ADS_1


“Maaf, maksud Ibu apa ya?”


Mai terkekeh geli, lalu tersenyum sinis pada Rosa.


“Aku sudah bilang, Aiden tidak benar-benar mencintaimu. Masih ada yang lain di hatinya, jangan ditanya tapi buktikan dengan langsung menemuinya. Kamu pasti akan terkejut,” tutur Mai.


“Sebenarnya maksud Ibu apa sih?”


“Aku hanya kasihan padamu yang terlalu percaya diri, akhirnya malah terjebak dalam hubungan yang rumit.”


Rosa memilih meninggalkan Mai, dia malas menanggapi wanita itu. walaupun dalam hati memang meragukan Aiden. Apalagi semakin dekat waktu lamaran, pria itu malah jarang berkomunikasi dengannya.


“Wanita itu hanya iri, jangan terlalu dipedulikan. Aku tahu Aiden sudah move on, buktinya dia berani mengajak orang tuanya menemui Ibu.”


Rosa melamun di meja kerjanya, bahkan sempat mendapatkan teguran. Memikirkan Aiden malah membuat pekerjaannya berantakan.


Sedangkan di tempat berbeda, Aiden hari ini full berada di tengah rapat manajemen dan rapat divisi. Belum sempat menemui Cantika, padahal wanita itu hari ini sudah kembali bertugas setelah kembali  dari luar kota.


“Aiden,” panggil Edwin saat coffee break rapat.


Aiden pun menghampiri papanya.


“Besok malam, apa semua sudah siap?”


“Hm, Bunda bilang sudah disiapkan, kita menggunakan pihak ketiga untuk hantaran lamaran,” sahut Aiden.

__ADS_1


Edwin menganggukkan kepalanya lalu menepuk pundak Aiden, dari pada terus mengenalkan putranya dengan putri rekan bisnisnya dan selalu berakhir kecewa karena tidak  ada yang dipilih Aiden. Merestui Aiden dengan Rosa bukan hal yang buruk, daripada Aiden terus mengejar Cantika.


“Pak Aiden,” panggil salah satu staf divisinya, Aiden pun kembali ke ruang rapat.


Rasanya rapat berjalan begitu lambat dan monoton, Aiden bahkan sempat menegur bawahannya yang menjelaskan laporan proyek yang sudah lewat karena bertele-tele dan tidak sesuai prosedur.


“Akhirnya,” gumam Aiden ketika mengakhiri rapat.


Pria itu melirik jam tangannya, sudah hampir jam pulang. Bergegas kembali ke ruangannya dan memanggil Cantika. Sambil menunggu kedatangan Cantika, pria itu sempat berjalan mondar-mandir. Bagaimana tidak, dia begitu gugup untuk menanyakan kebenaran status Cantika.


“Bagaimana jika Cantika berbohong? Lalu untuk apa aku mempermasalahkan ini?” gumam Aiden.


“Permisi Pak,” ujar Cantika yang sudah berada di tengah pintu.


“Ah, masuklah,” titah Aiden.


Tanpa mempersilahkan Cantika duduk, saat ini keduanya masih berdiri berhadapan dengan Aiden melipat kedua tangan di dada.


“Kemarin aku bertemu dengan Adi,” ujar Aiden.


“Adi ….”


“Adi, ayah dari Naila.”


Deg.

__ADS_1


Entah mengapa Cantika jadi khawatir dengan pernyataan Aiden. Pria itu bertemu dengan Ayah Naila, apa yang dikatakan oleh pria yang begitu dia benci pada Aiden.


 


__ADS_2