Cinta Untuk Aiden

Cinta Untuk Aiden
Cinta Aiden - Part 24


__ADS_3

Acara lamaran Aiden dan Rosa akhirnya gagal. Aiden ingin bertemu Rosa tapi sampai seminggu lewat, Rosa masih belum bisa ditemui. Gadis itu bahkan tidak ada di kantor dan kontaknya tidak aktif. Aiden kembali mendatangi kediaman orangtua Rosa, masih belum ada tanda-tanda gadis itu pulang. Bahkan sang Ibu mengatakan Rosa masih menata hati. Dia tidak kecewa pada Aiden ataupun Cantika.


Cantika, tentu saja dia merasa bersalah. Bagaimana pun Rosa adalah kerabatnya dan kepergian Rosa kali ini karena ulahnya juga.


“PAk Aiden,” panggil Cantika saat Aiden akan menemui Edwin. “Apa Rosa sudah ada kabar?’


“Belum. Jangan dipikirkan, kemarahan Rosa karena aku bukan karenamu.”


“Tidak bisa begitu, aku ….”


“Sudahlah, aku bilang jangan dipikirkan.” Aiden pun meninggalkan Cantika dan memasuki ruangan Edwin.


Saat masih berdiskusi bersama Edwin, ponsel Aiden bergetar. Pria itu melihat sekilas layar ponselnya, ada notifikasi pesan dari Pram.


“Segera laksanakan, minta bagian HRD untuk mengurus acara ini,” titah Edwin.


“Hm,” sahut Aiden kemudian membuka pesan dari Pram.


[Bro, ada Rosa nih. Katanya dia mau temui Pak Irwan]


Sudah lebih dari satu minggu tidak masuk kerja, sekarang dia menemui Pak Irwan. Apa jangan-jangan Rosa mau resign, batin Aiden.


“Aiden, kamu dengar ….


“Dengar, tentu saja dengar. Aku akan sampaikan ke HRD untuk tindak lanjut. Sekarang aku harus pergi,” ujar Aiden lalu meninggalkan ruangan Edwin.


“Ah, Cantika,” ujar Aiden. “Aku akan menemui Rosa, kalau dia menghubungimu ajak dia bertemu.”


“PAk Aiden mau temui Rosa? Aku boleh ikut?”


“Tidak, kamu ingin Papaku marah? Tunggu saja kabar dariku.”


...***...


“Wah, lihatlah siapa yang datang?” Mai tersenyum sinis menatap Aiden yang baru saja keluar dari lift. “Ada perlu apa kamu di sini?”


“PAk Irwan, aku ingin bertemu beliau.”


“Sepertinya kamu harus tunggu antrian, aku sudah lebih dulu.”


“Maaf, Pak Irwan sedang ada teleconference,” ujar sekretaris Irwan.


Mai mengumpat sedangkan Aiden menghela nafasnya.

__ADS_1


“Apa tadi Rosa bertemu Pak Irwan?”


“Iya Pak. Baru lima atau sepuluh menit yang lalu pergi.”


“Jadi kamu ke sini karena urusan Rosa?” tanya Mai lagi.


Aiden mengabaikan Mai dan berlalu pergi. “Kalau lima menit yang lalu, dia pasti belum jauh,” gumam Aiden dan benar saja Aiden melihat Rosa di depan lobby sedang memandang layar ponselnya.


“Rosa.”


Gadis itu menoleh dan terkejut ada Aiden di sana.


“Ikut aku, kita perlu bicara,” ajak Aiden.


“Tidak ada yang perlu dibicarakan, urusan kita sudah selesai.”


“Selesai kalau kamu tidak pergi dan memblokir kontak aku juga Cantika,” ungkap Aiden.


Rosa terkekeh sambil membuang pandangan. “Bahkan sekarang kamu semakin peduli dengan Cantika.”


“Aku bukan peduli tapi Cantika pun berusaha mencarimu, dia merasa bersalah dan aku tahu dia sedang merencanakan untuk kembali ke kampung halaman orangtuanya.”


“Apa? Kalau dia pulang berarti akan bertemu dengan Ayahnya Naila,” tutur Rosa.


Rosa pun mengekor langkah Aiden, termasuk ikut ke dalam mobil dan duduk di samping kemudi. Hanya bisa pasrah dan ikut ke mana Aiden mengemudikan mobilnya yang ternyata berbelok ke salah satu restoran.


Aiden memesan private room dan tanpa diketahui oleh Rosa, pria itu mengirimkan pesan pada Cantika agar menyusul dengan mengirim lokasi.


“Aku tidak akan lama, lebih baik aku menemui Cantika daripada berlama denganmu,” ucap Rosa.


“Terserah, tapi aku lapar.” Aiden membuka buku menu, dia sengaja memperlambat agar Cantika segera datang dan mereka bertiga bisa duduk bersama untuk membicarakan masalah mereka.


“Kamn bisa makan setelah ini.”


“Tidak bisa, tadi pagi aku tidak sarapan,” sahut Aiden lagi.


Lokasi restoran yang Aiden pilih tidak jauh dari kantor, jadi Cantika lebih mudah dan cepat tiba di sana. Tidak lama setelah Aiden menyampaikan pesanan pada pelayan, Cantika pun datang.


“Rosa.”


“Aku bilang akan bertemu dengan Cantika tapi tanpa ada kamu,” keluh Rosa pada Aiden.


Sedangkan Aiden hanya mengedikkan bahu.

__ADS_1


“Duduklah, kita bicarakan baik-baik.” Aiden melipat kedua tangannya di dada, menatap kedua wanita yang sedang berdiri menatap dirinya.


Cantika pun akhirnya duduk, begitu pula dengan Rosa.


“Rosa, aku ….”


“Selesai, urusan kita selesai,” potong Rosa.


Aideng mengusap kasar wajahnya, Rosa ternyata cukup keras kepala sama seperti dirinya.


“Oke kita anggap selesai, tapi kenapa kamu harus pergi dan membatasi komunikasi dengan kami?” tanya Aiden. “Pertanyaanku ini bukan berarti mewakili Cantika tapi kami mengeluhkan hal yang sama.”


“Karena aku perlu waktu untuk menata hati. Aiden, di sini aku yang patah hati. Seharusnya kamu mengerti.”


“Rosa, maafkan aku,” ujar Cantika.


“Mbak tidak ada yang salah, hanya kita berdua harus terlibat dengan pria yang sama. Aku harap Mbak Cantika tidak menyalahkan diri sendiri. Walaupun kalian tidak bisa bersama,  aku yakin bukan karena aku atau sebaliknya.”


“Tapi Ros ….”


“Apa kamu mengajukan resign?” tanya Aiden pada Rosa.


“Hm tapi ditolak oleh PAk Irwan.”


Rosa menatap Cantika, “ Aku harap Mbak tidak memutuskan kembali ke kampung, apalagi harus menikah dengan Ayah Naila,” tutur Rosa. “Aku malah berharap Mbak Cantika kembali dengan dia,” tunjuknya pada Aiden. “Dari pada jadi istri kedua Ayahnya Naila.”


“Tidak, aku tidak akan bersama dia.”


“Memang aku kenapa?”


Rosa dan Cantika berdecak bersamaan.


“Lalu masalah kita?”


“Selesai, Pak. AKu sudah tidak peduli Pak Aiden akan pilih kembali pada Cantika atau dengan yang lain.”


Berikutnya Cantika dan Rosa terlibat pembicaraan tapi tidak melibatkan Aiden, membuat pria itu hanya melamun menatap kedua wanita di hadapannya.


“Sudah selesai? Jadi kamu mengizinkan aku kembali dengan masa laluku?” tanya Aiden pada Rosa.


“Sepertinya kamu harus kerja keras karena Cantika tidak akan dengan begitu mudah menerimu,” ungkap Rosa.


 

__ADS_1


__ADS_2