
Kejadian hari itu membuat Naila semakin tidak menyukai Ayahnya dan sosok Aiden tentu saja menjadi tokoh pahlawan. Bocah itu semakin menjatuhkan hati pada Aiden dan antusias menunggu waktu di mana pria itu akan menikah dengan Cantika dan keduanya menjadi orangtua bagi Naila.
“Bunda,” ucap Naila.
Cantika yang menyelimuti bocah itu hanya berdehem menjawab panggilan anak angkatnya.
“Kalau Bunda dan Om Aiden sudah menikah, apa Ayah Adi akan bawa aku bersamanya?”
“Kamu jangan khawatir, Om Aiden akan bantu kita untuk mengurus surat adopsi kamu. Jadi Ayah Adi tidak akan bisa lagi ambil atau mengancam akan membawa kamu,” jelas Cantika sambil mengusap kepala Naila.
Setelah memastikan Naila tertidur, Cantika keluar dari kamar dan Ibu Ayana sudah menunggunya.
“Ibu perlu bicara.”
Saat ini Cantika dan Ibunya sudah berada di ruang tamu dan dudung berhadapan di sofa yang ada.
“Setelah kamu menikah, pasti akan ikut suamimu dan Naila juga dibawa. Lalu bagaimana dengan Ibu?”
__ADS_1
Iya ya, aku belum kepikiran hal ini dan belum bicarakan juga masalah ini dengan Aiden, batin Cantika.
“Aku belum tahu bu, nanti aku bicarakan lagi dengan Aiden. Kebetulan besok sepulang kerja, kami akan cari cincin pernikahan dan perhiasan untuk mas kawin.”
“Eh, jangan lupa belikan untuk Ibu ya. Masa nanti di pelaminan Ibu tidak pakai perhiasan, cuma gelang dan kalung emas itupun gramnya tidak seberapa.”
“Aku tidak ada uang untuk beli perhiasan Ibu.”
“Minta saja dengan Aiden, dia sanggup bayarkan hutang kita pada Adi dan dia putra dari pemilik perusahaan tempat kamu bekerja masa hanya beli perhiasan untuk Ibu tidak mampu,” ungkap Ibu Ayana yang membuat Cantika harus menghela dan bersabar menanggapi karakter sang Ibu yang terkadang cukup materialistis.
“Lihat besok, deh.”
Cantika mengernyitkan dahinya mendengar permintaan Ibunya. Bagaimana bisa dia memberikan syarat pada Aiden sebelum menikah antara lain permintaan Ibunya.
“Bu. Aiden memang harus bertanggung jawab terhadap aku sebagai istrinya ketika kami sudah menikah tapi kalau aku memaksakan apa yang ibu minta rasanya tidak enak. Aiden pasti akan pikirkan juga masalah ini, jadi kita bersabar dulu,” tutur Cantika memberi penjelasan yang cukup masuk akal.
Namun, bukannya mengerti Ayana malah menghardik Cantika.
__ADS_1
“Kamu jangan ingin enak sendiri. Dapat suami kaya tapi ingin menikmati dan membahagiakan diri sendiri dan lupa sama Ibu. Ingat Cantika, Ibu yang melahirkan dan besarkan kamu termasuk memastikan pendidikan kamu. Apa seperti ini balasannya?” tanya Ayana sambil memekik.
“Sudahlah, pokoknya ibu minta yang tadi. Kalau tidak disiapkan, jangan harap kamu akan dapat restu dari Ibu. Tidak akan aku biarkan kamu enak sendiri.”
“Maksud Ibu apa? Di mana yang enak sendiri, aku lebih memilih Aiden karena tahu masa lalunya dan dia bersikap baik,” sahut Cantika.
“Jawab mulu, ikuti saja apa yang Ibu perintahkan,” pekik Ibu Ayana lalu meninggalkan Cantika yang masih heran dan terpaku memikirkan permintaan Ibunya.
...***...
“Kamu kenapa sih, kok diam aja?” tanya Aiden. Saat ini keduanya sudah berada di dalam mobil menuju pusat perbelanjaan. Sesuai rencana mereka akan mencari cincin pernikahan dan set perhiasan sebagai mas kawin atau hantaran.
“Nggak apa-apa.”
“Ini pasti ada apa-apa, kalau nggak mana mungkin kamu hanya diam,” ungkap Aiden yang masih fokus pada kemudi walaupun sesekali dia menoleh ke arah Cantika berada.
“Sungguh, aku tidak ada masalah. Hanya sejak tadi ada beberapa hal yang harus aku pikirkan terkait hal setelah kita menikah termasuk kelanjutan hubungan aku dengan perusahaan kalau ….”
__ADS_1
“Kita akan bicarakan, tapi setelah ke sana,” tunjuk Aiden pada toko perhiasan yang cukup terkenal.