Cinta Untuk Aiden

Cinta Untuk Aiden
Cinta Aiden - Part 22


__ADS_3

“PAk Aiden bertemu di mana?”


“Untuk apa kamu berbohong?” tanya Aiden.


“Berbohong? Maksudnya bagaimana Pak?”


Aiden menghela nafasnya, ternyata Cantika memang mengesalkan. Di saat dia sudah mengetahui kebenaran, wanita itu malah berkelit.


“Come on Cantika, aku sudah tahu kalau Adi itu ayah dari Naila dan kamu bukan ibu kandungnya. Pria yang sudah melamarmu adalah Adi dan kamu akan dijadikan istri kedua. Kamu menolaknya bukan? Tapi kenapa kamu mengatakan kepadaku bahwa kamu sedang dalam lamaran seorang pria,” tutur Aiden.


“Kalau aku jujur, untuk apa juga?”


“Untuk apa, katamu. Selama ini aku menunggu dan mencari, bagaimana bisa aku melepaskan begitu saja orang yang selama ini aku tunggu,” tutur Aiden.


Cantika menggelengkan kepalanya.


“Tidak bisa begitu, setelah sekian tahun ini segalanya berubah. Pak Aiden sebaiknya lanjutkan hidup dan rencana Pak Aiden.”


“Kamu tahu aku harus memutuskan menerima wanita lain karena tidak ingin menjadi orang ketiga dalam hubunganmu dengan pria itu. Nyatanya kalian tidak ada hubungan bahkan orang tuaku menduga kamu benar-benar single parent.”


“Menyerahlah Pak Aiden, jangan mempersulit hidupmu.”


“Menyerah katamu, bagaimana tidak sulit. Aku akan menikahi wanita lain dan setiap hari aku akan bertemu dengan cintaku. Apa namanya kalau bukan menyiksa diri?”


Tanpa Aiden dan Cantika ketahui, sudah ada seseorang berdiri di tengah pintu, memperhatikan dan menyimak apa yang dibicarakan oleh kedua orang itu.


“Kalian? jadi ternyata kalian ….”


“Rosa,” ujar Aiden dan Cantika berbarengan.

__ADS_1


“Jadi wanita dari masa lalu Pak Aiden adalah Mbak Cantika dan pria yang di maksud Mbak adalah Pak Aiden. Ternyata Ibu Mai benar, kalau aku hanya terjebak diantara hubungan kalian,” tutur Rosa.


Cantika menghampiri Rosa.


“Aku bisa jelaskan, semua tidak seperti yang kamu pikirkan,” bujuk Cantika.


Rosa terkekeh, dia ingat betul apa yang pernah dikatakan oleh sepupunya mengenai pria itu yang ternyata adalah Aiden. Sedangkan Aidan mengusap kasar wajahnya, dia tidak menduga akan berada di dalam situasi seperti  ini.


“Memang apa yang aku pikirkan?” tanya Rosa. “Pak Aiden, sepertinya keragu-raguanku sudah terjawab.”


Aiden menoleh, “Apa maksudmu? Apa kalian saling kenal?”


“Rosa dan aku, kami sepupu.”


“Apa?” tanya Aiden seakan tidak percaya. Ternyata dunia selebar daun kelor, mungkin istilah itu tepat untuk kejadian dan situasi saat ini.


“Sebaiknya kita jangan teruskan rencana kelanjutan hubungan kita,” pinta Rosa dengan begitu sulit diungkapkan.


“Tidak, aku tidak bisa menyiksa batinku dengan menikahi pria yang mencintai wanita lain bahkan memikirkanku juga tidak.”


Aiden menghampiri Rosa.


“Bukan begitu Ros, Cantika dan aku ....”


“Cukup!”


“Rosa, ini tidak seperti yang kamu pikirkan,” ungkap Cantika. “Aku dan Pak Aiden tidak ada apa-apa, semua hanya masa lalu dan terjadi saat kami remaja.”


“Justru karena masa lalu itu yang membuat pria ini tidak bisa membuka hatinya, “ tutur Rosa sambil menatap Aiden. Sedangkan pria yang ditatap tidak dapat berkutik, karena yang disampaikan Rosa kenyataan dan kebenaran yang terjadi. “Bukankah kamu cemburu mendengar pria ini akan melamar wanita lain,” tunjuk Rosa pada Aiden.

__ADS_1


“Bukan begitu, aku hanya penasaran siapa wanita yang beruntung mendapatkan tempat di hatinya. Aku tidak menduga kalau gadis itu adalah kamu.”


“Pak Aiden, Mbak Cantika masih gadis sama sepertiku. Naila bukan anaknya, dia hanya membesarkannya sesuai amanat. Jadi belum terlambat kalau Pak Aiden ingin meneruskan hubungan dengannya,” tutur Rosa.


“Rosa, bicara apa kamu?”


“Aku bicara benar, jangan datang untuk meneruskan rencana kita. Aku tidak bisa melanjutkan ini.”


“Tidak, PAk Aiden akan tetap dengan rencananya. Urusan denganku sudah berakhir sejak aku meninggalkanmu.”


Rosa terkekeh, “Kamu lihat Mbak, dia tidak bisa menyangkal dan berbohong. Memang di hatinya hanya ada Mbak Cantika.”


“Aiden, katakan kalau diantara kita sudah selesai?”


Aiden bergeming, dia bingung memilih mengakhiri atau melanjutkan rencana bersama Rosa.


“Rosa jangan begini,” bujuk Cantika.


“Kamu lihat Mbak, dia tidak bisa menjawab karena di hatinya memang masih ada kamu, aku bukan siapa-siapa.”


“Tapi ….”


“Rosa, besok malam. Orangtuaku akan datang,” ungkap Aiden.


“Tidak perlu, aku tidak akan ada di rumah. Mbak Cantika tidak perlu merasa bersalah, memang ini yang terbaik.” Rosa tersenyum kemudian meninggalkan Aiden dan Cantika.


“Pak Aiden, Rosa ….”


“Biarkan, dia butuh waktu. Percuma aku kejar, yang ada hanya emosi.”

__ADS_1


“Ada apa ini?” tanya Edwin yang tadi melihat Rosa meninggalkan ruangan Aiden dan saat ini ada Cantika bersama Aiden.


 


__ADS_2