
“Bunda….” Suara Naila begitu lirih.
Cantika dan Aiden pun menghampiri ranjang. “Iya sayang, Bunda di sini,” sahut Cantika yang sudah duduk dan mengusap tangan Naila.
Aiden menekan tombol darurat untuk memanggil dokter karena Naila kembali diperiksa keadaannya setelah sadar dari tindakan. Rosa masih berada di sofa, membiarkan para tenaga kesehatan memeriksa kondisi Naila. Saat dinyatakan hasil operasi tidak ada komplikasi dan Naila baik-baik saja, Aiden menghela nafasnya lega.
“Jadi kapan Pak Aiden akan menikahi Cantika?” tanya Rosa ketika Aiden kembali duduk di sofa sambil memperhatikan interaksi Cantika dan Naila.
“Aku belum putuskan dan belum sampaikan pada Papa dan Bunda.”
“Sebaiknya cepat Pak, karena Ayahnya Naila dari dulu ingin sekali mendapatkan Mbak Cantika dan Ibu Ayana sangat mendukung agar Cantika segera menerima pria itu."
Aiden mengusap wajahnya, memikirkan kapan waktu yang tepat untuk segera merealisasikan niatnya. Tidak ingin Adi akan mengacaukan rencananya untuk menikahi Cantika. Rosa sudah pamit pulang, sedangkan Aiden masih berada di kamar menemani Cantika dan Naila. Bahkan pria itu sudah memesan makanan untuk mereka makan malam.
Saat Naila kembali tidur, Cantika membenarkan posisi selimut bocah itu lalu menghampiri Aiden yang duduk di sofa tamu.
“Sudah tidur?”
“Hm.”
“Cantika,” panggil Aiden yang meletakkan ponselnya di atas meja, karena sejak tadi pria ini sibuk mengecek pekerjaan hari ini. “Aku sudah pikirkan rencana kita.”
__ADS_1
“Rencana?”
“Iya, menikah. Aku akan segera menemui Ibumu untuk melamar.”
“Pak Aiden, aku ….”
“Sudahlah, jangan bohongi diri sendiri jika kamu pun memiliki perasaan denganku.”
Cantika hanya menunduk dengan wajah merona, Aiden bisa tahu perasaannya karena Ibu Ayana yang menyampaikan alasan Cantika menolak Ayah Naila adalah cinta dengan Aiden.
“Bagaimana kalau Naila tidak setuju?”
“Tidak akan, tentu saja Naila akan setuju walaupun dengan perlahan. Rasanya aku sudah tidak sabar menjadikanmu Nyonya Aiden.” Aiden terkekeh karena Cantika semakin malu dengan pernyataan pria itu.
“Aku ingin melamar Cantika, secepatnya,” ujar Aiden saat berada di meja makan dengan keluarganya.
Sarapan kali ini, Aiden jadikan ajang untuk menyampaikan niatnya.
Ayu menatap Edwin, wanita itu khawatir kalau suaminya akan menolak atau kedua pria di meja makan ini akan berdebat. Edwin sendiri sempat terdiam sejenak, kemudian mengalihkan pandanganya pada Aiden.
“Katakan, apa yang membuatmu begitu yakin dengan Cantika dan hal apa yang bisa membuat kami yakin kalau wanita itu adalah menantu yang cocok untuk kami?”
__ADS_1
“Mas,” tegur Ayu pada suaminya.
“Aku masih ingat saat-saat aku dirundung karena tidak punya Ibu, bahkan aku sendiri tidak tahu rasanya kasih sayang seorang Ibu dan Naila merasakan apa yang aku rasakan. Cantika mengakui dan menyayangi Naila sebagai putrinya sendiri, tidak perlu kita cari tahu lagi seperti apa hati dan kebaikannya. Sama seperti Bunda Ayu yang datang ke dalam kehidupanku, memberikan kasih sayang layaknya seorang Ibu kandung. Bukan hanya karena dia mencintai Papa tapi aku tahu kalau rasa sayangnya tulus. Dia marah ketika aku nakal dan senang ketika aku berlaku baik,” tutur Aiden.
“Aku sangat mencintai Bunda, mungkin dia cinta pertamaku sebagai seorang anak dan orangtua tentunya tapi dengan Cantika, aku akan jadikan dia duniaku. Aku mengharapkan dukungan dari kalian,” ungkap Aiden.
Ayu menatap Aiden, tidak menduga kalau putra sambungnya begitu memuja dirinya.
“Bunda, akan mendukung siapapun pilihanmu,” cetus Ayu.
“Terima Kasih,” jawab Aiden.
Edwin menghela nafasnya.
“Papa harap tidak ada drama diantara kalian setelah menikah nanti.”
“Jadi, Papa setuju aku dengan Cantika?”
\=\=\=\=
Selamat Idul Fitri, bagi yang merayakan 🥰
__ADS_1