Cinta Untuk Aiden

Cinta Untuk Aiden
Cinta Aiden - Part 31


__ADS_3

“Aku sudah move on, Mbak. Bertahan juga percuma, bertepuk sebelah tangan. Jadi, lebih baik mencintai orang yang mencintai aku,” tutur Rosa.


“Dan orang itu adalah ….”


Rosa terkekeh, “Entahlah, aku masih memastikan dulu dia benar cinta atau hanya sekedar suka. Ya sudah, aku pulang deh. Kabar-kabari ya, apa  yang harus aku bantu.”


Cantika melambaikan tangan saat Rosa membunyikan klakson sebelum akhirnya melaju.


“Bunda, tadi Om Aiden kasih Naila ini,” ujar Naila menunjukkan ponsel. “Katanya biar mudah kalau menghubungi.”


Cantika menghela nafasnya, belum apa-apa Aiden sudah memanjakan Naila.


“Ayo ke kamar, ini sudah malam.”


Setelah Naila tidur, Cantika belum bisa memejamkan mata lalu membuka ponselnya. Ada pesan dari Aiden yang terkirim beberapa satu lalu.


[Sudah tidur?]


[Satu bulan lagi, kita akan tidur bersama juga dengan Naila]


[Rasanya tidak sabar]


Wajah Cantika tersenyum membaca pesan Aiden yang begitu menantikan pernikahan mereka. Teringat ponsel yang pria itu berikan pada Naila, Cantika pun membahasnya.


[Kamu kasih Naila ponsel?]


[Iya. Biar mudah menghubungi kita] ~ Pak Aiden.


Cantika mengetik pesan balasan.


[Jangan terlalu memanjakan Naila. Berikutnya untuk kebutuhan Naila, kita harus komunikasi dulu.]


[Baiklah, cinta]


...***...

__ADS_1


Informasi mengenai rencana pernikahan Cantika sudah didengar oleh Ayah kandung Naila. Pria itu mendatangi rumah yang ditempat Cantika dan mendorong Ibu Ayana untuk mengembalikan uang yang dipakai oleh wanita itu.


“Kalau tidak bisa kembalikan, maka nikahkan Cantika dengan ku,” ujar Adi.


“Ibu tidak ada uang, lagi pula anakmu diasuh oleh kami masa kamu tega menagih hutangmu,” pekik Ibu Ayana.


“Atau mau Naila aku bawa?”


“Kamu tidak pernah menafkahi Naila, sekarang menagih uang dan ingin mengambil Naila. Mau kamu apa hah?”


Naila yang mendengar perbedabatan nenek serta ayahnya, menangis lalu bersembunyi di pinggir lemari. Mencari kontak Aiden dan menghubungi pria itu.


“Halo Nai,” ujar Aiden di ujung telepon.


“Om Aiden, tolong aku,” ujar Naila sambil berbisik.


“Halo, Naila. Om tidak bisa mendengar suaramu.”


“Tolong aku, Ayah mau bawa aku. Dia marahi Nenek dan mengancam nenek,” lirih Aiden sambil terisak.


“Kamu tunggu dan sembunyi. Om Aiden ke sana ya.”


Tidak ada lima belas menit, Aiden yang menggunakan motor entah milik siapa akhirnya tiba.


“Cukup!” teriak Aiden.


Ketiga orang dewasa itu akhirnya diam.


“Apa yang kalian ributkan?”


“Ini bukan urusanmu,” sahut Adi. “Aku kemari akan mengambil anakku.”


“Anak katamu? Kemana saja selama ini, bahkan setelah Ibu Naila tidak ada, kamu malah pergi,” pekik Cantika.


“Aku harus berikan keluarga yang baik untuk Naila, jadi wajar kalau sementara aku pergi untuk kebaikannya.”

__ADS_1


“Lalu kemana kamu saat Naila butuh perawatan. Bahkan biaya pengobatan yang akan dikeluarkan harus pamrih dengan aku menikahimu. Sebagai orangtua kamu cukup gila,” jerit Cantika.


“Cantika, sudahlah. Cari Naila,” ujar Aiden.


“Hah. Naila. Kenapa aku bisa lupa.”


“Jadi apa maumu?” tanya Aiden apda Ayah kandung Naila.


“Cantika itu ibu pengganti untuk Naila dan akan menjadi istriku,” sahut Adi. “Aku akan bawa Naila dan kamu bayarlah hutang-hutangmu,” pekik Adi pada Ibu Ayana.


“Berapa hutang-hutang Ibu?”


“Jangan Nak Aiden, harusnya dia mengabaikan hutang piutang itu. Selama ini dia tidak pernah memberikan nafkah untuk Naila.”


Adi tertawa mendengar tuduhan Ibu Ayana. “Untuk apa aku beri nafkah kalau uangku yang ada di kalian cukup banyak.”


“Berapa?” tanya Aiden.


“Yah hampir empat puluh juta, mungkin dengan bunganya bisa sampai lima puluh juta.”


“Kirimkan nomor rekening kamu, aku akan transfer sekarang juga,” ujar Aiden.


“Jangan sombong, aku juga akan bawa Naila,” ancam Ayah NAila


“Jangan sembarangan, masalah Naila kamu bisa dapatkan kalau menang di pengadilan. Aku sudah mengecek dokumen yang disampaikan oleh Ibu kandung Naila agar dia tetap diasuh oleh Cantika termasuk juga bukti kalau kamu tidak ingin mengasuh Naila. Bahkan saat Naila terancam nyawanya, kamu memberikan pilihan menikahi Cantika dari pada kesehatan putrimu sendiri.”


Penuturan Aiden membuat nyali Adi ciut, pria itu akhirnya menuliskan nomor rekening dan meninggalkannya untuk Aiden.


“Aku tunggu pembayaran hutangnya,” tunjuk Adi pada Ibu Ayana. “Untuk Naila, aku tidak peduli.”


Aiden meraih secarik kertas yang diberikan Adi.


“Kemana dia?” tanya Cantika yang baru kembali ke ruang tamu.


“Sudah pergi, ujung-ujungnya menagih hutang,” jawab Ibu Ayana.

__ADS_1


“Bagaimana Naila?” tanya Aiden.


“Dia ketakutan tapi sekarang sudah tidur. Lalu Naila bagaimana, apa Ayahnya akan ambil Naila?” 


__ADS_2