Cinta Yang Belum Selesai

Cinta Yang Belum Selesai
bab10


__ADS_3

Makasih bik," ucap Gibran saat perempuan yang selama ini selalu menjadi pengganti kedua orang tuanya mengurus dirinya tersebut menyuguhkan makan siang untuknya.


Semua yang tersaji adalah makanan yang dia rindukan. Tempe goreng, sambal terasi dan sayur nangka muda kuah santan serta udang goreng tepung. Rasanya seperti berada di surga.


Gibran makan dengan lahap hingga hampir sebagian besar piring berisi makanan yang tersaji di depannya habis tak bersisa.


"Wah lapar banget ya den ?," tanya Bik Sumi yang datang membereskan meja makan. Tersenyum melihat tuan mudanya melahap semua apa yang dia sajikan.


"Lapar plus kangen masakan bik Sumi," jawab Gibran sambil meneguk sisa air minum di gelasnya biar sekalian ikut di bereskan bersama piring kotor lainnya.


Gibran lalu beranjak dan naik kembali ke kamarnya tidak dia sudah turun dengan baju yang sudah terganti. Celana jeans dengan kaos oblong abu-abu dan jaket varsity kesayangannya serta sneaker yang masih ada noda kopinya.


"Mau kemana den ?," tanya Bik Sumi.


Mau ke makam Oma dulu bik, kangen sama Oma," jawab Gibran.


Ga tunggu agak sorean? Ini kan masih jam satu siang, den," kata Bik Sumi.


Pengen jalan-jalan dulu bik ," jawab Gibran sambil memakai topinya dan menyampir rangselnya ke pundaknya.


Mau diantar Pak Soleh, den ?," tanya Bik Sumi.

__ADS_1


"Aku minta kunci mobilnya saja bik, biar aku bawa sendiri mobilnya," jawab Gibran lalu tertawa saat melihat wajah perempuan itu meragu. " Gibran sudah dua puluh tahun lho bik, sudah kuliah, sudah punya SIM internasional jadi jangan takut, Gibran bisa kok mengendarai mobil."


Bik Sumi cengengesan sendiri membuat Gibran memeluk wanita tersebut.


"Makasih lho, cuma bik Sumi yang selalu khawatir sama saya," ucap Gibran bersyukur setidaknya masih ada yang benar-benar sayang padanya dengan tulus.


"Ya sudah bik Sumi bilangin Soleh siapin mobilnya."


Bik Sumi mengangguk lalu menghilang ke belakang sementara Gibran berjalan keluar menunggu mobil di keluarkan dari garasi mobil.


Teringat pesan ayahnya yang menyuruhnya singgah ke kantor pusat untuk mengecek kerjaan para staf karena saat ini ayahnya sedang berada di Canada bersama Ibunya yang belakangan meminta resign pada rumah sakit dan memilih menemani ayahnya.


Walaupun malas, tapi Gibran tak bisa mengabaikan pesan tersebut karena toh pada akhirnya dialah nanti yang akan menangani kantor yang ada di Jakarta setelah dia berhasil menyelesaikan magisternya dua tahun lagi.


Gibran mengucap terima kasih pada pria yang sudah berusia hampir lima puluh tahun yang merupakan suami bik Sumi tersebut lalu naik ke balik kemudi dan memasang seatbeltnya memasukkan titik tujuannya pada layar GPS lebih karena dia takut nyasar karena dia tidak tahu apa saja yang sudah berubah selama dia di Aussie.


Gibran melajukan mobilnya dan melewati rumah di mana dulu dia sering mengantar seseorang hingga ke depan gerbangnya. Terlihat sepi tapi bukan hal baru, bukankah delapan tahun yang lalu rumah itu memang selalu sepi seperti rumahnya sendiri?


Sebuah senyum terukir di bibir Gibran. Dia berencana memberi kejutan pada Khalilah malam ini karenanya dia memilih menyelesaikan tugas yang di berikan papanya lalu mengunjungi rumah peristirahatan terakhir Omanya.


Assalamu'alaikum bunda," salam Khalilah sambil mencium tangan wanita berwajah teduh yang sedang sibuk menata vas bunga di meja nakas samping tangga menuju ke atas.

__ADS_1


"Wa'alaikumsalam. Baru pulang, nak?," balasnya lalu mencium kening Khalilah. Hal yang selalu dia lakukan saat semua anaknya pulang dari berkegiatan.


"Iya Bun, tadi habis antar Ghea ke bandara," jawab Khalilah sambil berlalu ke arah dapur dan mendekat ke arah dispenser mengambil gelas yang berada di dekat benda tersebut lalu mengisi gelasnya dengan air dingin dan membawa gelas berisi air tersebut ke arah tangga lalu dia duduk di anak tangga dan meminum air yang tadi diambilnya.


Ngapain Ghea ke bandara ? ," tanya bundanya yang ikut duduk di anak tangga di samping Khalilah.


"Antar Rangga pacarnya si Ghea, diakan lanjut kuliah ke Singapura, bunda. Gila aja Khay kepayahan di buat lari-larian sama tuh anak di bandara mana pake nabrak orang lagi," jawab Khalilah sekaligus bercerita pengalamannya di bandara tadi.


"Ya Allah ada-ada aja," komentar bunda Intan sambil membelai lembut rambut Khalilah." Sekarang kamu bersih-bersih dulu, lalu sholat dhuhur dan makan," perintahnya pada putri sambungnya tersebut.


Ya, bunda Intan adalah ibu sambung Khalilah. Setelah drama perselingkuhan ibunya dan drama perceraian dan perebutan hak asuh yang panjang, Khalilah akhirnya ikut dengan Ayahnya, Pak Bramastya Pambudi. Intan sendiri adalah asisten pribadi ayah Khalilah, setelah perceraian, Intan lebih banyak di tugaskan mengasuh Khalilah hingga hubungan keduanya begitu akrab dan Intan mencintai Khalilah seperti anaknya sendiri. Dan setelah dua tahun perceraiannya, Pak Bram melamar Intan untuk menjadi istrinya setelah setengah tahun terakhir mereka berhubungan sebagai sepasang kekasih.


Dari pernikahan itu lahirlah Ghalib yang kini berusia enam tahun dan bersyukur Khalilah sangat menyayangi adiknya tersebut dan keluarga mereka semakin harmonis karena walaupun sebagai ibu sambung, Intan tak pernah membedakan kasih sayangnya pada Khalilah dan juga Ghalib.


Baik Bunda," kata Khalilah dan bunda Intan mengambil gelas di tangan Khalilah.


Biar gelasnya bunda yang bawa ke dapur, kamu buruan gih, takut waktu sholatnya habis,"


Kata bunda sambil menepuk lengan Khalilah lembut lalu beranjak berdiri dari duduknya yang disebelah Khalilah yang masih duduk dianak tangga rumah mereka.


"Makasih bunda sayang," ucap Khalilah sambil memeluk tubuh bunda sambungnya tersebut lalu berlari naik ke lantai atas di mana kamarmya berada tepat di sebelah kamar Ghalib, adik laki-lakinya.

__ADS_1


Khalilah masuk ke kamarnya lalu buru-buu menyalin bajunya dan meraih handuk dan menghilang ke kamar mandi. Tidak lama dia sudah keluar dari kamar mandi menuju walk in mininya dan mengambil baju kaos dan celana joget abu-abunya selanjutnya setelah itu Khalilah melaksanakan sholat dhuhur yang selalu di ingatkan bunda untuk Jangan pernah di lupakan apapun kondisinya kecuali dalam keadaan uzur.


Gibran memarkirkan mobilnya di depan sebuah pemakaman khusus di mana Omanya di makamkan delapan tahun yang lalu. Beberapa orang nampak juga sedang melakukan hal yang sama dengannya, berziarah ke makam keluarga mereka.


__ADS_2