
Enak kan?," tanya Khalilah dan Gibran mengangguk sambil mengunyah potongan roti tersebut lalu membuka lagi mulutnya meminta Khalilah kembali menyuapkan roti tersebut tapi Khalilah tak mau rugi memasukkan potongan terakhir roti miliknya tersebut ke mulutnya dengan wajah cengengesan membuat Gibran kembali mendelik protes.
Maaf tapi Khalilah masih mau hehehe," kekehnya sambil meminta maaf.
Untung kakak sayang," sahut Gibran.
Khalilah juga sayang sama kak Gibran."
Iya kakak tahu," sahut Gibran lagi tersenyum." Sayangnya seberapa besar?," tanya Gibran.
Sebesar....," Khalilah terdiam terlihat berpikir sejenak sambil mengerutkan keningnya dan matanya memicing lucu seakan sedang memikirkan tentang kedamaian dunia.
Hal tersebut membuat Gibran tergelak.
"Ihh kakak ngetawain Khalilah ya," dengusnya mempoutkan bibirnya.
Habisnya muka adik lucu gitu kan kakak jadi geli liatnya," jawabnya masih tertawa walaupun sedikit lebih pelan.
Habisnya kakak nanyanya kayak pak guru sih, Icha kan pusing jawabnya," protes Khalilah.
Lain kali adik jawab sayangnya adik sama kakak itu sebesar hati karena besarnya hati tak ada yang dapat mengukurnya. Ingat ya kalau lain kali kakak tanya," pesan Gibran dan Khalilah mengangguk faham.
Nah coba kakak tanya lagi sayangnya berapa besar ?," ulang Gibran.
Sebesar hati Khalilah dong tak terhitung," jawab Khalilah sambil merentangkan kedua tangannya.
"Eh anak kecil ngapain dua-duaan di sini pagi-pagi. Pulang - pulang di cariin orang tua. Masih kecil ga boleh pacaran. Sekolah dulu baik-baik," celutuk seorang pria yang datang bersama tiga orang temannya dengan menggunakan seragam olahraga sepertinya mereka habis jogging bersama.
Gibran menatap pria tersebut dengan pandangan tak suka tapi dia kemudian membereskan botol minuman mereka yang sudah kosong begitupun bungkus roti bakar Khalilah memasukkan ke dalam plastik bekas belanjaan mereka tadi sementara roti punyanya yang masih tersisa beberapa potong di biarkan tetap tinggal di meja.
"'Yuk dik, kita pulang," ajak sambil menggengam tangan Khalilah mengajaknya meninggalkan meja mereka yang sepertinya hendak di tempati pria tersebut.
__ADS_1
"Eh ini rotinya kenapa di tinggal ?," teriak salah satu dari mereka.
Buat Om saja sapa tahu ga beli," sahut Gibran lalu mengajak Khalilah bergegas berlalu sementara dari arah belakang mereka terdengar satu orang berteriak.
Songong ye, masih kecil juga. Dasar bocah jaman sekarang!."
Gibran Dari mana kamu ?!."
Gibran melangkah diam melewati Bundanya yang sepertinya baru bangun. Entah jam berapa semalam dia pulang. Gibran bahkan tidak mau tahu.
Gibran ! Kamu dengar Bunda tidak ?!," tanya perempuan tiga puluhan itu yang kini menghalangi langkah Gibran, berdiri berkacak pinggang tepat di tengah tangga yang menuju ke lantai atas.
Gibran menghentikan langkahnya dan menatap wajah bundanya dingin. Walaupun jarang bertemu perasaan rindu di hati Gibran sudah terlanjur membeku tak ada lagi perasaan kehilangan kasih sayang atau apalah namanya tidak ada lagi yang tersisa.
Kamu dari mana jam segini baru pulang? Bik Sumi bilang kamu keluar rumah sejak subuh tadi. Darimana kamu huh?," tanya Bunda Gibran sambil menatap lurus ke arah putranya tersebut.
keluar jam berapa, pulang jam berapa, pergi kemana, apa peduli Bunda ?!," tantang Gibran dingin. "Tidak usah sok peduli seperti Gibran juga tidak peduli Bunda dimana, pulang kapan. Gibran tak ingin tahu," lanjut Gibran. " Dan tolong jangan halangin jalan, Gibran ngantuk," pinta bocah laki-laki berusia dua belas tahun tersebut.
Gibran sudah terlalu pintar untuk ikut les privat seperti itu," jawab Gibran acuh. " Gibran bilang kalo Gibran lagi ngantuk, lebih baik bunda menyingkir jangan menghalangi."
Kamu ini kok ga ada sopan nya sama bunda ! Bunda ini ibumu, kamu harus patuh dan dengerin semua perkataan dan nasehat bunda. Faham kamu!."
" Basi!," cemooh Gibran sambil berbalik dan melangkah turun meninggalkan bundanya yang membelalak marah melihatnya tidak mengacuhkan ucapannya.
GIBRAN !!" Panggilnya dengan suara menggelegar sehingga bik Sumi yang sedang membereskan dapur buru-buru keluar melihat apa yang terjadi.
Bik Sumi, Gibran ke rumah oma, malas di rumah ada bunda," pamit Gibran pada wanita lima puluh tahun yang sejak kecil mengasuhnya.
"Tapi..."
Sudahlah bik, kabari saja kalau bunda pergi lagi. Assalamualaikum," potong Gibran lalu mengucap salam dan berlari keluar rumah, menyetop taksi yang kebetulan lewat dan menyebut alamat omanya.
__ADS_1
Rumah sederhana yang sangat berbanding jauh dari rumah mewah milik orang tuanya tersebut terlihat lengang.
Mobil yang di tumpangi Gibran berhenti tepat di depan pagar dan Gibran kemudian membayar ongkos yang sesuai dengan yang tercantum di aplikasinya.
"Terima kasih, Om," ucap Gibran saat hendak turun dan diangguki oleh driver mobil tersebut
Pagar rumah Oma masih terkunci padahal sudah hampir jam sembilan pagi. Biasanya pagar sudah tidak tergembok setelah oma pulang dari masjid buat sholat subuh.
mengetuk-ngetukkan gembok yang mengunci pagar beberapa kali tapi pintu rumah omanya tersebut tidak juga terbuka.
Apakah oma sedang tidak di rumah ? tanya Gibran dalam hati.
Gibran lalu mencoba melihat ke seputar rumah Oma buat sekedar bertanya apakah tahu kemana omanya, namun sepertinya para tetangga rumah oma lebih senang berada di dalam rumah karena tak satupun yang Gibran lihat sedang beraktifitas di halaman rumahnya.
Gibran kembali mengetuk gembok pagar rumah omanya dengan ketukan yang lebih keras, tidak peduli akan ada yang menegur malah lebih bagus kan jadi dia bisa bertanya.
'Astaghfirullah, nak Gibran. Kenapa kok ribut sekali pagi-pagi begini !," tegur seseorang yang menghentikan laju motornya sambil menatap ke arah Gibran.
Pak RT tahu tidak oma kemana?," Gibran yang bersyukur bahwa yang menegurnya adalah Pak RT lingkungan rumah Omanya.
"Lho Oma Narti belum pulang dari masjid kah?," tanya Pak RT sambil melihat ke arah rumah warganya tersebut. Keningnya sedikit berkerut.
Laki-laki itu kemudian tutun dari motornya menyandar satu, lalu dia berjalan mendekati Gibran dan menengok ke balik pagar.
Lampu teras Ibu Narti masih menyala," gumamnya lalu merogoh sakunya mengeluarkan ponselnya lalu menghubungi salah satu pengurus masjid.
"Assalamualaikum Ustadz, maaf mau tanya apa tadi subuh Ibu Narti ketemu Pak Ustadz di masjid ?," tanya Pak RT pada seseorang yang dia telepon.
Pria itu mengangguk. " Saya tadi subuh baru sampai dari luar kota, saudara yang sedang ada hajatan jadi ga sempat ke masjid, Ustadz," jawabnya sepertinya pak ustadz yang di teleponnya justru mempertanyakan ketidak hadirannya di masjid.
"Jadi tadi subuh Pak Ustadz tidak bertemu Bu Narti? Saya sedang di depan rumahnya Pak Ustadz ada cucunya ibu Narti datang berkunjung tapi tumben pagar masih tergembok dan lampu teras masih menyala," Pak RT mengungkapkan keheranannya karena warganya itu cukup rajin beraktifitas pagi di.
__ADS_1