Cinta Yang Belum Selesai

Cinta Yang Belum Selesai
bab12


__ADS_3

Tersebut punya informasi alamat ayah Khalilah atau mungkin ibunya.


Sayangnya pria tersebut menggeleng. "Kalau ibu Ajeng?," tanya Gibran lagi.


"Kalau Ibu Ajeng ikut suaminya tinggal di Swiss kalau ga salah, makanya rumah ini mau dia jual," jawab pria tersebut.


Swiss? Apakah Khalilah sekarang ada di Swiss bersama ibunya ?


"Terima kasih Pak, maaf mengganggu. Selamat malam," pamit Gibran lalu melangkah ke arah dimana mobilnya terparkir. Dia butuh kembali ke rumah menemui bik Sumi. Semoga perempuan itu bisa memberinya sedikit petunjuk tentang apa yang terjadi dengan keluarga kekasih kecilnya tersebut.


Pak Bram?," tanya Bik Sumi saat Gibran yang kembali ke rumah dan buru-buru menemuinya lalu mengajaknya duduk di kursi makan.


"Iya Pak Bramastya yang di blok depan itu yang rumahnya mau di jual," jawab Gibran memperjelas.


Pak Bram yang ayahnya non Khalilah ?," tanya Bik Sumi dan Gibran mengangguk cepat." Memang kenapa dengan Pak Bram ?," tanya Bik Sumi heran kenapa putra tuan dan nyonyanya itu tiba-tiba bertanya tentang Pak Bram.


Apa yang terjadi? Mengapa rumah mereka mau di jual ?," tanya Gibran.


Bik Sumi terdiam, keningnya berkerut sepertinya sedang me-recall kembali kenangannya ke saat kejadian jika benar ada kejadian tentu saja.


Katanya mereka bercerai, Pak Bram dan Bu Ajeng. Kok bisa ?," tanya Gibran tak sabaran karena melihat perempuan di depannya malah terdiam.


"Mereka cerai karena ibu Ajeng ketahuan selingkuh dengan pria asing," jawab bik Sumi sepertinya sudah bisa mengingat kembali kisah masa itu. " Waktu itu cukup heboh sih soalnya Bu Ajeng kedapatan selingkuh sama Pak Bram di rumah mereka itu. Pak Bram sampai mengusir Bu Ajeng dan pria bule itu dari rumah mereka," cerita bik Sumi.


Kali ini Gibran yang terdiam mencoba menempatkan dirinya di posisinya Khalilah saat itu. Padahal Khalilah baru sepuluh tahun pasti gadis kecilnya tersebut sangat terluka. Gibran kembali merasa perih dalam dadanya sehingga laki-laki itu mengelus dadanya.


"Terus apa yang terjadi selanjutnya?," tanya Gibran yang masih juga penasaran.


"Setahu bibik, Pak Bram mengajukan gugatan cerai dan memberikan rumah tersebut pada ibu Ajeng, begitu sih kata si Yati waktu itu," jawab bik Sumi. " Perceraian mereka kata si Yati cukup alot karena keduanya memperebutkan hak asuh Khalilah yang sempat trauma dengan kejadian itu," lanjut bik Sumi.

__ADS_1


Trauma? Ya Allah. Anak sekecil itu pasti trauma. " Dan akhirnya siapa yang mengasuh Khalilah ?."


Pak Bram yang memenangkan hak asuh non Khalilah dan si Yati ikut sama pak Bram untuk menemani Khalilah."


Jadi Khalilah tidak bersama ibunya di Swiss. Gibran sedikit lega. "Bik Sumi tahu mereka pindah kemana ?," tanya Gibran.


Tidak den, waktu itu Pak Bram keluar dari rumah mereka saat malam hari hanya membawa kompor berisi perlengkapan Non Khalilah serta bajunya sendiri. Tidak ada tetangga yang di beritahu di mana mereka pindah. Mungkin agar ibunya Non Khalilah tidak di perbolehkan bertemu dengan Non Khalilah takutnya mantan istrinya nekad menculik Khalilah," jawab bik Sumi panjang.


Bibik punya nomor ponsel bik Yati, mungkin ?," tanya Gibran lagi dan lagi dengan penuh harapan tapi harapannya pupus seketika saat bik Sumi menggelengkan kepalanya.


"Ya sudah bik, terima kasih. Gibran ke kamar dulu," ucap Gibran sambil beranjak dari kursinya meninggalkan perempuan yang menatapnya heran menapaki anak tangga menuju ke lantai atas.


Gibran menghempaskan tubuhnya ke atas ranjangnya, menatap lurus ke langit-langit kamarnya.


Dek, kamu sekarang dimana?," bisik Gibran sambil membayangkan wajah Khalilah kecil yang tersenyum lebar. " Kakak kangen pengen ketemu kamu," bisiknya lagi.


Gibran menutup matanya mengingat kembali saat terakhir bertemu Khalilah di belakang sekolah selesai penerimaan ijazah SDnya.


"Jadi kakak beneran akan tinggalkan Khalilah ya ?," tanya Khalilah dengan mata yang mulai berair. Gadis kecil itu tak berani membayangkan bagaimana hari-harinya nanti tanpa ada Gibran yang selalu menemaninya.


"Iya dek. Kakak ga bisa apa-apa semua keputusan ayah, kakak akan berangkat besok pagi ke Australia," jawab Gibran yang juga di lingkup perasaan sedih. Tak rela meninggalkan kekasihnya tersebut seorang diri. Siapa nanti yang akan menjaganya dari anak-anak brandal belakang kompleks atau siapa yang akan menemaninya saat dia sedih dan merindukan kedua orang tuanya.


Jadi siapa yang akan menjaga Khalilah kalau kakak pergi ?," ucapnya sambil terisak. Gibran lalu mengeluarkan sapu tangannya dan menghapus genangan airmata di pipi kekasihnya tersebut.


"Adek harus berani mulai sekarang ya, ga boleh cengeng harus jadi cewek pemberani, kalau ada yang ganggu adek harus lawan. Okey?," ucap Gibran.


"Tidak okey," geleng Khalilah masih dengan airmatanya yang terus mengalir. " Nanti kalau Khalilah kangen bagaimana ?," tanyanya.


Nanti kakak akan tulis surat buat adek. Janji nanti di balas ya kalau suratnya di terima adek," jawab Gibran kembali menghapus airmata di pipi dan mata Khalilah.

__ADS_1


Gadis mungil itu mengangguk lalu memeluk Gibran erat seakan tidak ingin melepas kekasihnya tersebut. Bukankah dia terlalu muda buat merasakan perpisahan dengan kekasih?


Gibran balas memeluk tubuh mungil Khalilah sambil membelai rambut gadisnya tersebut yang sedikit bergelombang.


Kakak sayang banget sama adek. Janji ya jaga hati buat kakak saja," ucap Gibran meminta Khalilah berjanji. ' Jangan beri cinta kamu buat yang lain ya, kakak pasti akan pulang dan menemui adek."


Khalilah mengangguk dalam pelukan Gibran. " Kakak harus pulang dan menemui Khalilah ya, janji ?."


"Iya kakak janji kakak akan pulang dan menemui adek," janji Gibran lalu melerai pelukannya.


"Ingat cincin yang kakak beli waktu itu ?," khalilah mengangguk sebagai jawaban pertanyaan Gibran. " Cincin itu adalah pemersatu hati kita. Nanti kalau cincin itu sudah muat di jari manis kamu, harus di pakai ya jangan di lepas," ucap Gibran.


Kakak juga ?," tanya Khalilah dan Gibran mengangguk.


Cincin itu jangan sampai hilang ya, karena kakak percaya nanti cincin itu yang akan menyatukan kita."


\=\=


FLASHBACK OFF


Gibran menarik napas dalam-dalam sambil mengangkat tangannya dan membuka jemarinya dan menatap cincin yang melingkar di jari manisnya.


Gibran kembali menarik napas dan kini dia memghembuskannya kasar seakan sedang memarahi drinyasendiri.


Seharusnya dia menulis surat kepada Khalilah seperti janjinya tapi apa yang dia lakukan dia bahkan terlalu sibuk hingga melupakan janjinya untuk menulis surat pada kekasih kecilnya tersebut.


Seandainya saja dia saat itu menyempatkan waktu untuk bersurat Gibran pasti tahu apa yang terjadi pada keluarga Khalilah. Hal tersebut membuat Gibran mengerang dan meremas rambutnya.


Bodoh!, rutuknya. Kau tidak pantas menyebut dirimu mencinta Khalilah bila

__ADS_1


\=\=


__ADS_2