Cinta Yang Belum Selesai

Cinta Yang Belum Selesai
bab02


__ADS_3

Sekarang kamu pacar aku. Ayo pulang... Aku sudah lapar soalnya pengen cepat-cepat sampai rumah "


#FLASHBACK OFF#


Dek, besok minggu kita ke taman kompleks yuk jalan-jalan pagi, mau?" tanya Gibran saat keduanya sudah dekat dengan rumah Khalilah. " Banyak jajanan di sana kita bisa jajan "


"Tapi biasanya kalo minggu, aku bangunnya suka telat " jawab Khalilah.


Makanya mulai minggu ini kamu bangunnya harus pagi, Sholat subuh lalu mandi jam enam aku jemput. Oke ya ? " Gibran berhenti melangkah sambil menghadap ke arah Khalilah menatap wajah kekasih kecilnya tersebut. Menunggu jawaban Khalilah.


Oke kak " jawab Khalilah mengangguk membuat Gibran tersenyum. "Tapi kakak punya uang kah buat jajan ?"


'Punya dong, tenang saja kamu jajan apa aja aku beliin " boleh dong Gibran sedikit sombong secara memang oleh orang tuanya dia selalu di beri uang jajan yang lebih dari cukup untuknya setiap hari dan Gibran bukan type yang suka jajan karena membawa bekal sediakan oleh bik Sumi, pengasuhnya. yang di


"Tapi kok ga pernah jajanin Khalilah di sekolah?" tanya Khalilah sedikit protes.


"Kita kan ga boleh terlihat dekat di sekolah nanti di marahin guru. Tau dong gimana kalo ketahuan kita bisa di cie - cie in tuh sama teman-teman. Kalo aku sih gapapa tapi kan kasian kamunya " jawab Gibran sambil membelai puncak kepala Khalilah yang panas karena sengatan matahari.


"Ayo dek, buruan antar pulang kasihan kamu kepanasan.


Besok - besok bawa topi sekolah ya biar kepala kamu tidak kepanasan "


Khalilah mengangguk. Gibran lalu melepas rangselnya dan menutupi kepala Khalilah dengan rangselnya tersebut.


Keduanya melanjutkan perjalanan mereka hingga tiba di depan sebuah rumah mewah pagar yang tinggi.


"Sampai rumah jangan lupa bersih-bersih sebelum makan siang ya, kan badan kita kotor habis sekolah " pesan Gibran yang memang dalam hal bersih-bersih cukup disiplin karena ajaran Mamanya yang seorang Dokter.

__ADS_1


Iya kak " jawab Khalilah sambil mengangguk. " Aku masuk dulu ya, kakak hati-hati pulangnya ya" ucap Khalilah.


"Iya kakak pasti hati-hati, sudah kamu masuk gih aku tungguin " suruh Gibran.


Assalamualaikum kakak. Khalilah sayang kak Gibran. dadah kakak...."


"Waalaikumsalam, kakak juga sayang sama adek. Masuk buruan kakak lapar nih" usir Gibran menyuruh Khalilah cepat masuk ke rumahnya.


Khalilah mengangguk lalu berlari kecil ke depan pagar rumahnya yang dengan cepat di buka oleh sekuriti yang menjaga rumahnya. Berpaling sebentar lalu melambaikan tangannya ke arah Gibran yang di balas Gibran dengan lambaian tangan. Lalu dia sendiri berjalan cepat menuju rumahnya yang masih berjarak tiga blok dari rumah Khalilah.


"Bik Yati, besok minggu boleh tidak bangunin Khalilah jam setengah enam ?," tanya Khalilah saat dia sedang duduk di meja makan bersiap untuk makan siang.


"Buat apa non? Kan tidak sekolah kok tumben mau bangun pagi ?," tanya Bik Yati sambil menyajikan makan siang ke meja makan depan Khalilah.


"Mau jalan jalan pagi bosan di rumah aja," jawab Khalilah sambil mulai menyendok nasi ke piringnya.


Bik Yati kepo deh," jawab Khalilah sambil mulai menyuapkan makanan ke mulutnya.


Perempuan berusia sekitar empat puluh tahun itu lalu duduk di kursi depan nona kecilnya tersebut yang sejak lahir sudah jadi tanggungjawabnya karena kesibukan orang tuanya yang terkadang keluar kota atau bahkan keluar negeri berhari-hari.


Di pandangnya wajah kecil di depannya yang tak pernah protes akan ketidak hadiran orang tuanya setiap penerimaan rapor dari sejak Khalilah duduk di kelas satu hingga kini dia sudah duduk di kelas empat sekolah dasar.


Khalilah adalah putri dari tuan Bramastya Pambudi dan Ajeng Sri Rahayu, pasangan suami istri yang begitu sibuk mengejar dunia tapi melupakan titipan Allah yang di berikan pada mereka.


Pasangan suami istri yang mempunyai dua perusahaan besar yang di wariskan oleh orang tua masing-masing sehingga kesibukan mereka benar-benar menghabiskan semua waktu untuk sekedar menemani Khalilah bermain.


Bik Yati bukan kepo, tapi kalau nanti Papi dan Mami tanya kan bibi Yati harus tanggung jawab," ucap Bik Yati kali ini dia mengisi gelas kosong yang ada di depannya lalu dia geser hingga ke depan Khalilah.

__ADS_1


" Mereka ga akan peduli kalau Khalilah ngelakuin apa aja bik Yati. Tapi besok minggu Khalilah janji ke taman depan dengan teman sekolah Khalilah. Jadi jangan lupa bangunin pagi-pagi. Oh iya hampir lupa bangunin sholat subuh," sahut Khalilah yang hampir saja membuat Bik Yati terjatuh dari kursinya.


"Non Khalilah bilang apa ? Sholat subuh ?," tanya Bik Yati meyakinkan jika pendengarannya tidak salah.


Khalilah mengangguk sambil masih menikmati makan siang di piringnya.


Non Khalilah mau sholat subuh ?," tanya Bik Yati lagi.


Iya bik," jawab Khalilah. " Ajarin ya gimana caranya," pintanya dan wanita di depannya mengangguk terharu.


Bik Yati kok ga makan ?," tanya Khalilah setelah makanan di piringnya habis.


"Nanti non, sekarang Bik Yati ngurus non Khalilah dulu baru itu makan," jawab Bik Yati sambil membereskan meja makan dan mengangkat piring yang tadi Khalilah pakai ke dapur lalu kembali membereskan makanan yang lainnya.


"Bik Yati besok-besok temani Khalilah makan bersama aja ya," perintah Khalilah.


Baik Non. Sekarang Non Khalilah sebaiknya istirahat tidur siang biar capeknya hilang," ucap Bik Yati dan diangguki oleh Khalilah yang langsung berdiri dan berjalan menaiki anak tangga menuju lantai atas dimana kamarnya yang bak kamar seorang putri raja berada.


Bik Yati menatap kepergian nona kecilnya tersebut dengan tatapan sedih. Dia bisa merasakan betapa kesepiannya gadis kecil tersebut tapi berusaha dia sembunyikan.


Semoga Tuan Bram dan Ibu Ajeng cepat menyadari rasa sepi putri mereka tersebut dan mulai bisa meluangkan waktu untuk sekedar menemaninya makan.


Gibran menatap jam tangan dipergelangannya, pukul enam kurang sepuluh menit. Gibran menaikkan restleting jaket hoodienya hingga ke lehernya karena pagi ini sedikit dingin.


"Apa Khalilah masih tidur ya ?," monolognya sambil menatap ke arah bangunan megah rumah Khalilah. Gibran duduk di trotoar seberang jalan menunggu sejak setengah jam yang lalu. Dia yang selepas sholat subuh, mandi dan langsung cabut keluar rumah dan hanya pamit pada bik Sumi karena Bundanya masih berada di luar kota untuk sebuah seminar kesehatan. Sementara Ayahnya sudah seminggu berada di Aussie sedang melakukan kunjungan bisnis ke beberapa kantor cabang. Keduanya terlalu sibuk untuk sekedar meluangkan waktu bersama Gibran putra mereka semata wayang.


Kakak !,"

__ADS_1


Sebuah seruan dan tepukan di pundaknya membuat Gibran tersadar dari lamunannya. Dia menoleh dan mendapati Khalilah tersenyum lebar dengan mengenakan jaket hoodie dan celana training warna senada.


__ADS_2