Cinta Yang Belum Selesai

Cinta Yang Belum Selesai
bab20


__ADS_3

Panjang, dosen mata kuliah siang ini nampak sedang menerangkan sesuatu yang sudah hampir sejam bahkan tak ada satupun yang singgah di otak Khalilah.


Dan nampaknya bukan cuma dirinya. Hampir semua mahasiswa yang mengikuti kuliah online via zoom siang ini sudah terlihat mengantuk bahkan ada yang sudah terlihat sangat mengantuk hingga beberapa kali kepalanya terantuk mejanya sendiri, satu hal yang membuat Khalilah tersenyum.


Hampir setahun kuliah online bukan membuat dirinya pinter malah membuatnya semakin goblok. Tapi mau bagaimana lagi? Dunia sedang di landa yang namanya pandemi. Tiap hari TV hanya menyiarkan seputar covid 19, berapa yang tertular, berapa yang mati semakin membuat stress. Kapan pandemi berakhir Ya Allah...


Akhirnya kuliah online siang ini berakhir dengan tugas yang harus di serahkan besok melalui email. Khalilah menggerutu kecil sambil mematikan laptopnya dan beranjak ke ranjangnya untuk sekedar rebahan meluruskan badan dan tidur sedikit.


Belum juga matanya terpejam ponselnya berbunyi dan nama Mpok Ghea terpampang di layar ponselnya.


Assalamualaikum, apaan ganggu siang-siang, aku ngantuk mpok Ghea," salam Khalilah malas sambil sedikit bergumam.


Siang? Ini sudah jam tiga lo bilang siang? Bangun woy bangun !!," tereak Ghea dari seberang dengan suara cemprengnya.


"Berisik !!," sahut Khalilah sambil menutup wajahnya dengan bantal.


Bersisik? Apaan ikan ?," tanyanya dari seberang.


Iya kamu ikan dugong! BERISIK!," teriak Khalilah tepat di lubang mic ponselnya.


Ohh berisik, bilang napa," tanggapan Ghea santai.


Khalilah malas menimpali. " Kenapa mpok nelpon ? Ada apa, what wrong ? Wei wei wei!!???," tanya Khalilah lagi plus dengan logat cewek-cewek di drakor kalau kesel bertanya pada si oppa oppanya.


Gue bosen! Tau ga seharian gue cuma sibuk ngezoom mana dosennya hanya ngasih tugas tiap hari kayak apa aja dah. Tugas matkul gue sudah bertumpuk kayak cucian gue seminggu. Bete !! Gue mau healing healing tapi kagak boleh keluar!! Gue len sumpahin deh ini virus sialan," cerocos Ghea sih sudah kayak kereta api panjangnya membuat Khalilah tertawa.


Aku penasaran seberapa dekil mpok Ghea sekarang? Secara mpok Ghea sudah bulukan tinggal di rumah hahaha," tawa Khalilah yang ditanggapi seruan umpatan dari seberang. "Eh kata bunda anak gadis ga boleh suka mengumpat, jodohnya jauh," Khalilah mengingatkan.

__ADS_1


Jodoh gue emang jauh noh di Singapura, gegara pandemi nih dia kejebak di sono ga pulang-pulang padahal sebagai bininya gue tuh menimisu banget," cocor Ghea "Apaan menimisu?," tanya


Klaim


Khalilah


Menimisu kagak tau ? kemana aja lo sampai ga tau ? Itulah kelamaan ga gaul sama gue jadinya lo kudet alias kurang apdet," cerocos Ghea lagi.


Bacot, apaan ?," ucap Khalilah dengan nada kesal.


Menimisu itu artinya Men I Mis U. Me-Ni-Mis-U Menimisu ," jawab Ghea.


"Halah mending langsung aja bilang kangen pake menimisu ada juga meneketehe Maesaroh !!


Dih dia nanya dia sewot." Biarin, suka-suka aku."


Idih nekat amat mau jalan-jalan ketangkap juga nanti sama satpol."


Aaarghtt kesabaran gue dah setipis kulit ari buah salak, gue merana, gelisah, gundah gulana, pedih. Apakah kau tak dengar jeritan memanggil nama gue? Ghea datanglah....Ghea datanglah.... Ghea....."


"Istighfar Mpok Ghea !!," potong Khalilah sebelum sahabatnya itu berucap sepanjang jalan kenangan.


Gue udah istighfar sampai khatam tauk ga sih Khay, demi apa gue benci bekurung begini seakan burung dalam sangkar sungguh nasibmu malang benar tak seorangpun ambil tahu apa yang ada di hatimuuu huuuuuhh huuuuh."


Khalilah menjauhkan dari ponselnya saat mendengar suara fals milik Ghea yang rasanya siap merusak gendang telinganya.


"Ehh kutu loncat, suara fals jangan di paksain nyanyi nanti dia tertekan !!," teriak Khalilah dan terdengar tawa terbahak-bahak dari seberang.

__ADS_1


"Dah ahh di panggil bunda sholat ashar, sholat sholat minta sama Allah pamdemi cepat pergi


biar kamu bisa tuh menghilangkan menimisu sama mal-mal Jakarta. Bye! Wassalamualaikum, " ucap Khalilah setelah tadi di dengarnya ketukan di pintu kamarnya dan suara bunda yang memanggil buat sholat berjamaah di musholla rumah.


Pandemi mungkin bikin kita takut, was was dan khawatir sampai ke bawa stress karena tinggal di rumah tak ada aktivitas diluar kecuali berjemur di halaman rumah.


Tapi pandemi juga semakin mendekatkan kita pada keluarga terkhusus pada Allah. Terbukti sejak pandemi, ayah yang biasanya dari pagi sampai menjelang magrib dan kadang malah harus keluar kota berhari-hari akhirnya setahun ini bekerja dari rumah, semuanya sistem WFO alias Work From Home, tiap hari mengadakan meeting zoom dan mengirim file lewat email.buat di periksa.


Dan yang paling


menyenangkan adalah kini waktu bersama keluarga jadi lebih banyak. Ayah Bram memutuskan membuat satu sudut pada rumah mereka menjadi musholla kecil-kecilan. Setiap waktu sholat semuanya berkumpul termasuk Bik Yati dan suaminya, berjamaah dengan Ayah Brasebagai imannya kemudian tadaruzan setiap magrib hingga Isya. Suasana rumah betul-betul menjadi religius dan itu sangat berdampak baik bagi seisi rumah. Khususnya keluarga mereka kini jadi lebih banyak bercengkrama berdiskusi saling bantu urusan sekolah dan kuliah serta bunda yang kini kembali menjadi asisten Ayah yang kerja di rumah.


Tidak semua hal buruk mendatangkan keburukan jika kita masih bisa melihat dari sudut kandang yang lain.


Sementara itu melintas benua, Gibran sedang menatap keluar jendela apartemennya, menatap langit jingga sore hari yang kini hanya bisa di nikmati melalui kaca jendela apartemennya.


Pandemi yang sudah berjalan setahun lebih membuat banyak rencana Gibran harus di pending.


Dia yang seharusnya tahun ini bisa menyelesaikan intership sebagai persyaratan kelulusan, juga berharap akhir tahun bisa sidang tugas akhir dan segera menjadi sarjana. Tetapi semua harus di tunda karena PPKM yang di terapkan pemerintah Australia sangat ketat dan siapapun yang melanggar akanmendapat ganjaran dan denda yang tidak sedikit.


Bagaimana keadaan kamu di sana dek ?," tanya Gibran bercakap sendiri pada pantulan dirinya di kaca jendela. " Semoga adek di sana sehat-sehat dan keluarga adek juga demikian," lanjutnya bermonolog sendiri." Semoga adek masih sabar menunggu kakak yang terjebak di sini karena pandemi."


Gibran cukup beralasan sedikit merasa khawatir. Setiap kali dia mengecek berita covid 19 dari tanah air hatinya terasa miris melihat semakin melonjaknya angka kematian dari hari ke hari. Angka terinfeksi pun semakin tinggi walaupun angka sembuh juga tetap ada tapi tetap membuat khawatir.


Gibran bukan hanya memikirkan Khalilah tapi juga memikirkan keadaan bik Sumi dan suaminya. Setiap hati dia menyempatkan menelpon mereka apakah mereka baik-baik saja dan kalau ada gejala cepat ke rumah sakit, tapi Alhamdulillah mereka dalam keadaan sehat dan tetap patuh pada apa yang di sarankan oleh Pemerintah. Mereka hanya sesekali keluar buat belanja keperluan rumah itupun dengan prosedur kesehatan yang ketat.


Kembali Gibran menarik.

__ADS_1


__ADS_2