
Tempat sampai Ghea menendang kakinya.
"Ya sudah, aku berangkat dulu ya. Kamu ingat jaga kesehatan ya sayang," pamit Rangga setelah kembali terdengar pengumuman keberangkatan pesawat.
Kembali keduanya berpelukan seakan enggan saling melepaskan dan Khalilah hanya menggaruk alis tebalnya yang tiba-tiba gatal sambil memutar bola matanya.
Akhirnya Ghea dan Khalilah hanya bisa melambai seiring Rangga yang menghilang di balik pintu otomatis yang terbuka dan tertutup sendiri.
Ghea lalu memeluk tubuh Khalilah dan menumpahkan rasa sedihnya pada sahabatnya tersebut.
"Sabar, dia kan ke Singapura buat kuliah bukan buat nikah," ucap Khalilah sambil mengusap punggung Ghea tapi malah mendapat tepukan keras di punggungnya.
Perkataan adalah doa,
Maesaroh !!."
"Aamiin Maemunah ...," Khalilah malah mengaamiini membuat Ghea melepas pelukannya dan mulai bersiap menepuk Khalilah tapi Khalilah sudah lebih dulu berlari menjauh dan hasilnya mereka berdua jadi kejar-kejaran berapa peron bandara seakan lapangan bermain keduanya hingga bisa seenaknya kejar-kejaran.
KHAY AWAS!!."
BUG!!
Tubuh Khalilah sukses menabrak sesosok tubuh tinggi kekar saat dirinya sedang berbalik mengolok Ghea.
Sebuah cup terjatuh dan di lantai bandara dan mengenai sepatu sneaker merek ternama milik laki-laki tersebut.
"Astagfirullah," refleks Khalilah berucap dan memandang kearah tumpahan kopi di lantai mengkilap tersebut.
Diangkatnya wajahnya kini menatap si pemilik kopi dan juga sneaker yang ketumpahan kopi tersebut dengan wajah meringis merasa bersalah. " Ma-af," ucap Khalilah sementara Ghea hanya bisa menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya.
Khai lalu mengeluarkan satu pack tissue basah yang selalu di bawanya lalu berjongkok dan bermaksud membersihkan sepatu tersebut tapi si pemilik sepatu malah memundurkan kakinya beberapa langkah.
__ADS_1
Tatapannya dingin menatap ke arah Khalilah yang mendongak. Mata hazelnya terpencar rasa marah.
"Maaf," ulang Khalilah sekali lagi memohon maaf atas kelalaiannya.
"Lain kali hati-hati. Ini ruang publik bukan halaman sekolah yang bisa buat kejar-kejaran," ucapnya datar dan dingin dengan suara yang berat terkesan angkuh.
Setelah berkata seperti itu pria tersebit kembali melangkah menarik kopernya menuju ke arah sebuah mobil mewah yang sepertinya menjemputnya. .
Khalilah berdiri sambil mengerutkan bibirnya menatap dengan tatapan sebel.
"Makanya jangan lari-larian ," tepuk Ghea." Untung dia ga minta ganti kopinya atau malah minta ganti sepatunya," tegur gadis yang berpakaian putih abu-abu sama seperti dirinya.
Kesal Khalilah melangkah meninggalkan Ghea yang masih sibuk berceloteh tentang kelalaiannya menabrak orang.
Khay!! Tunggu woy !!," teriak Ghea yang baru sadar sudah di tinggal sahabatnya tersebut.
"KHALILAH !! TUNGGU !!
Gibran menghentikan gerakannya yang hendak masuk ke dalam mobil jemputannya saat di dengarnya nama tersebut di teriakkan oleh seseorang.
Refleks Gibran menoleh ke arah gadis berbaju putih abu-abu yang sedang mengejar temannya yang tadi menabrak dirinya.
Khalilah, sebuah nama yang menjadi penghuni setiap relung dalam hatinya, setiap sel dalam otaknya dan setiap denyut dari jantungnya.
Apa kabar gadis kecil tercintanya itu?
Gibran menarik napas panjang. Sebenarnya dia sedang kesal. Kopi yang baru saja di isipnya sekali dan masih panas itu harus tumpah parahnya lagi kena ke sepatu dan jempolnya terasa perih tersiram air kopi panas. Tapi mendengar nama itu semua kekesalan menguar menghadirkan senyuman rindu.
Kira-kira wajah Khalilah bagaimana ya sekarang? Apakah dia masih akan kenal dengan aku ?
Pikiran itu terus mengusik pikiran Gibran hingga mobil jemputannya meninggalkan kawasan bandara dan mulai membaur dengan padatnya kendaraan lainnya.
__ADS_1
Delapan tahun akhirnya Gibran kembali menginjakkan kakinya ke tanah air. Di paksa masuk boarding school di salah satu boarding school khusus laki-laki yang merupakan salah satu boarding school terbaik di sana membuat hari-hari Gibran di isi dengan belajar dan belajar dan hanya weekend dia bisa menikmati kota Aussie tapi itupun jarang sekali karena dia lebih suka menghabiskan harinya di kamar dengan laptopnya menjelajahi apapun kecuali situs dewasa yang di blokir pengurus asrama agar para siswa tetap fokus walaupun kadang-kadang tetap saja kenakalan tersebut menjadi cerita unik tersendiri bagi para penghuni asrama putra tersebut.
Gibran menatap pemandangan dari jendela. Melihat betapa banyak sudah perubahan yang terjadi. Jakarta bukan lagi kota seperti waktu dia tinggalkan. Sungguh walaupun Aussie adalah negara yang begitu maju, tapi Indonesia tetap yang tercinta bagi seorang Gibran apalagi pemilik hatinya berdiam di tercinta ini.
Sekali lagi senyum tipis mengembang di bibirnya. Tak ada yang berubah dari rumah kediamannya semenjak delapan tahun lalu. Walaupun tetap terawat tapi penghuninya tetap sibuk dengan urusan masing-masing.
Gibran turun dari mobil dan mendapati wajah haru milik Bik Sumi yang berdiri di teras menyambutnya membuat Gibran tersenyum.
Benar tak ada yang berubah dari dulu hanya bik Sumi yang selalu menyambutnya bukan bundanya atau juga ayahnya.
Perempuan yang kini terlihat makin tua itu memeluk Gibran sambil memangis.
"Ya Allah den Gibran sudah seganteng ini," katanya saat melepas pelukannya dan Gibran tertawa.
Bik Sumi lupa ya kan sejak kecil aku sudah ganteng ?," canda Gibran dan mendapat anggukan dari wajah terharu itu.
Bibi sudah menyiapkan makan siang kesukaan den Gibran," kata bik Sumi saat mereka sudah melangkah masuk ke dalam rumah.
"Nanti aku makan, sekarang mau ke kamar dulu. Capek pengen rebahan sebentar nanti habis sholat dhuhur baru aku makan ya, Bik Sumi," ucap Gibran sambil merangkul tubuh bik Sumi.
Gibran mengangkat kopornya menaiki anak tangga menuju lantai dua dimana kamarnya berada. Perasaan rumah menyeruak saat dia membuka pintu kamarnya.
Tak ada yang berubah semua tetap bersih dan rapi serta wangi. Seprei dan bed cover sepertinya baru di ganti sama Bik Sumi.
Gibran menutup pintu dan membiarkan kopornya tergeletak begitu saja karena kini dia sedang membuka tirai kamarnya lalu melangkah menuju ranjangnya dan duduk di bibirnya sambil mengambil figura kecil dari meja nakasnya di mana ada photo dirinya dan Omanya.
Apa kabar Oma, kangen banget sama Oma....
Gibran memeluk photo itu di dadanya sebentar lalu meletakkannya kembali. Menunduk melepas sneaker nya dan kembali melihat noda kopi yang tadi tertumpah.
Khalilah, aku harus bertemu denganmu sebelum aku harus kembali ke Aussie dan entah kapan lagi akan kembali ke Jakarta...
__ADS_1