
Halaman rumahnya.
"Terima kasih pak Ustadz biar saya tanya warga yang lain. Assalamualaikum," ucapnya lalu mematikan sambungan ponselnya.
Bagaimana Pak RT ?," tanya Gibran.
Kata Pak Ustadz, oma kamu tidak kelihatan di masjid subuh ini," jawab Pak RT juga mulai merasa khawatir.
"Panjat saja Pak RT, takut Oma kenapa-kenapa," pinta Gibran mulai merasa ada yang tidak beres.
Iya yah kita panjat aja pagarnya," putus Pak RT kemudian mendekat ke arah pagar rumah Ibu Narti yang merupakan ibu dari Ayah Gibran. Atau kamu dulu yang manjat nanti bapak angkat kamunya naik
Gibran mengangguk setuju. Lalu anak laki-laki tersebut mulai menapakkan satu kakinya ke pagar sementara Pak RT memegang pinggangnya dan membantunya naik hingga akhirnya Gibran bisa menyeberang masuk ke halaman rumah Omanya dan di susul oleh Pak RT.
Kedua laki-laki berbeda usia tersebut lalu mendekat ke teras rumah Oma Gibran. Keduanya mengintip ke balik tirai yang masih tertutup.
Kita coba intip jendela kamar Oma aja Pak RT," usul Gibran dan langsung memutar ke samping dan mulai mengintip ke dalam kamar Omanya yang tirainya juga masih tertutup tapi Gibran bisa melihat ke dalam melalui celah tirai yang sedikit tersingkap.
OMA !!!," teriak Gibran saat melihat neneknya tersebut tergeletak di depan kamar mandi yang ada di dalam kamar Omanya.
Buru-buru Pak RT menggeser Gibran dan mengintip dan melihat apa yang Gibran lihat.
Gibran sendiri mulai berlari ke arah teras dan mulai membentur-benturkan tubuhnya ke pintu rumah Omanya dengan mata yang berkaca-kaca.
Tidak !! Jangan Oma !!, teriaknya merusuh dalam hati. Apapun asal jangan Oma !!
Pak RT menarik tubuh Gibran yang sudah berusaha mendobrak pintu rumah milik Omanya tersebut.
Kalau kamu sendiri tidak akan bisa. Pintu rumah Ibu Narti sangat kuat di dobrak juga bakalan sia-sia," sahut Pak RT.
__ADS_1
Mendengar ucapan tersebut Gibran malah melangkah ke halaman dan mengambil sebongkah batu yang cukup besar lalu anak laki-laki berusia dua belas tahun itu berjalan mantap menuju teras dan menghantamkan batu tersebut ke kaca jendela milik Omanya hingga bunyi kaca yang pecah serta berjatuhan ke lantai menarik perhatian beberapa warga yang berada di sekitar rumah dan berkerumun depan pagar.
bahkan sudah ada yang ikut melompat pagar dan bergabung bersama Gibran dan Pak RT.
"Ada apa pak RT ?," tanya salah satu diantara mereka.
Bu Narti sepertinya terjatuh di kamar mandi Pak, " jawab Pak RT
Gibran sendiri mulai memasukkan tangannya perlahan membuka kunci yang tergantung di balik pintu tersebut hingga terdengar bunyi klik yang menandakan kuncinya terbuka.
Gibran memegang gagang pintu berusaha membuka tapi tetap tidak terbuka.
"Sepertinya ada slip kunci di bagian atas pintu dalam," sahut salah seorang bapak yang berdiri di belakang pak RT.
Pak RT maju dan memasukkan tangannya hati-hati ke dalam jendela kaca yang pecah lalu meraba pelan ke atas hingga mendapatkan slot kunci lalu dia pelan melepas slot tersebut.
Sial!! Sungut Gibran
"Terkunci ya Nak ?," tanya Pak RT lalu menarik tangan Gibran menepi dan dia di bantu beberapa bapak-bapak mulai mendobrak pintu tersebut hingga akhirnya terbuka dan semuanya menghambur masuk terlebih-lebih Gibran yang langsung berlari ke arah dimana Omanya tergeletak dengan tubuh sebagian berada di kamar mandi.
Oma !! Oma bangun !!," seru Gibran sambil menggoyang-goyangkan tubuh tua renta milik Omanya tersebut.
"Ayo kita angkat dulu ke ranjang," perintah Pak RT lalu mengangkat tubuh kaku itu lalu membaringkan ke atas ranjang lalu memeriksa tubuh Ibu Narti mulai dari memeriksa detak nadinya hingga menempelkan telinganya ke mulut perempuan tua itu tapi tanda-tanda adanya kehidupan sudah tidak ada. Bibir Ibu Narti sendiri sudah membiru.
Pak RT menggeleng pada beberapa pria yang ada di ruangan tersebut. Beberapa langsung mengucap kalimat istirja.
Sebaiknya kabarkan keluarganya Pak RT," saran seorang bapak.
Gibran yang heran mengapa para pria di dalam kamar Omanya itu tiba-tiba berucap kalimat bela sungkawa itu langsung mendekat ke arah Omanya dan mulai mengguncangnya sambil terus berteriak memanggil Omanya hingga Pak RT memegang bahunya dan memeluknya.
__ADS_1
Oma kamu sudah tidak ada lagi, Gibran. Kamu harus kuat dan ikhlas ya," ucap Pak RT tapi Gibran hanya menatapnya tak percaya.
"Ayo kita bawa Oma ke rumah sakit Pak RT. Oma butuh di tolong dokter !," ucapnya tidak terima yang diucapkan Pak RT. " Panggil ambulance Pak RT, panggil ambulance !!," pintanya kini dengan air mata yang mengalir di pipinya hingga kembali Pak RT memeluk Gibran.
Assalamu'alaikum," ucap seseorang.
"Waalaikum'salam Pak Ustadz," jawab Pak RT yang masih memeluk Gibran yang beronta ingin membangunkan Omanya.
Innalilahi wa innailaihi raji' un," ucapnya setelah menyentuh dan mengecek tubuh kaku dan dingin milik Ibu Narti yang di baringkan di atas ranjang. " Sebaiknya hubungi anaknya kabarkan bahwa Ibunya sudah berpulang," kata Pak Ustadz yang di angguki Pak RT.
Gibran kini hanya bisa terduduk di samping tubuh Omanya yang terbujur kaku, tangisnya terus terdengar di sertai panggilan pada Omanya dan sesekali meminta Omanya tersebut jangan meninggalkan dia sendiri.
Pak RT kemudian mencoba menghubungi Pak Mahardika tapi tak kunjung tersambung malah teleponnya dialihkan ke inbox.
Coba telepon Bu Dokter saja," kata Pak Ustadz yang menutupi tubuh Ibu Narti dengan selimut hingga ke kepalanya.
Pak RT pun berhasil menghubungi istri dari Pak Mahardika yang tak lain dari bunda Gibran yang terkejut mendapat berita tersebut dan berpesan akan segera ke sana dan dia yang akan menelpon suaminya.
Gibran kini terdiam walaupun masih terisak pelan. Kini dia tidak lagi punya tempat untuk melarikan kesepiannya. Kini tak ada lagi sapuan tangan Omanya di kepalanya. Tak ada lagi yang memasak makanan kesukaan Gibran.
Tak ada lagi tempat untuk dirinya benar-benar merasa pulang.....
Gibran mengunci dirinya di dalam kamarnya sementara di lantai bawah masih terdengar alunan ayat Al Qur'an yang sedang di dzikir tahlilkan untuk seminggu berpulangnya Omanya ke Rahmatullah.
Gibran menatap photo dirinya dan Omanya yang selalu dia simpan di nakas samping ranjangnya. Sungguh dia merasa kini benar-benar sendiri tak ada lagi tempat untuk mendapatkan kasih sayang yang tidak dia.
Jangan lupa mampir di ig saya denasepta27.
Dan jangan lupa mampirr di cerita selnjutnya.
__ADS_1