Cinta Yang Belum Selesai

Cinta Yang Belum Selesai
bab19


__ADS_3

Menunjuk lukisan di kamar Khalilah.


Buat apa bunda, toh Ayah juga ga bakalan ngasih izin buat Khalilah ke sana," jawab Khalilah mendesah sambil menarik napas.


Kalau bunda tahu alasannya mungkin bunda bisa membujuk ayah," ucap Bunda membuat Khalilah mengubah posisi tidurnya jadi menghadap ke arah bundanya dengan memiringkan tubuhnya.


Benar bunda ?," tanya Khalilah dan di jawab bundanya dengan mengangguk.


Khalilah lalu memeluk tubuh ibu sambungnya tersebut dengan penuh rasa senang.


Jadi apa alasan kakak kok ngebet banget berangkat ke Aussie ?."


Khalilah diam sejenak menimbang-nimbang apakah tidak apa-apa jika dia bercerita tentang Gibran.


Kok diam ?," tanya Bunda melihat putri remajanya tersebut terdiam. "Kalau ga mau bilang juga ga apa-apa kak, senyaman kamu saja jangan merasa terpaksa."


Khay pengen mencari pemberi cincin ini, bunda," jawab Khalilah lirih dan pelan membuat bunda Intan harus menggeserkepalanya lebih dekat ke arah Khalilah.


Pemberi cincin ?," tanyanya dan diangguki Khalilah lalu gadis tersebut mengeluarkan cincin dari jari manisnya dan memperlihatkan kepada bundanya.


Cincin ini bunda ?," tunjuk Khalilah.


"Boleh bunda pegang ?," tanya Bunda Intan dan Khalilah mengangguk.


Bunda Intan kemudian menerima cincin tersebut lalu mengamatinya seksama.


Cincin yang sederhana namun Bunda bisa melihat kalau permata kecil yang berkilau itu adalah berlian. Bunda Intan meraba cincin tersebut dan merasakan ada ukiran nama di cincin tersebut lalu dia memicingkan matanya membaca nama yang terukir di cincin tersebut.

__ADS_1


Gibran, baca bunda Intan dalam hati. Jadi benar kata Bik Yati, alasan Khalilah ingin ke Australia karena pemilik nama tersebut.


Gibran ?," tanya Bunda menyuarakan pertanyaan dalam hatinya. Bunda Intan menyerahkan kembali cincin yang dari modelnya saja jelas bukan cincin murahan. Cincin tersebut adalah cincin yang di jual di toko perhiasan khusus dan mahal. Siapakah gerangan Gibran yang bisa membeli cincin semahal itu buat Khalilah.


Khalilah memakai kembali cincin tersebut ke jarinya terlihat begitu lembut dan sayang pada cincin tersebut. Bunda Intan tersenyum melihatnya.


Siapa Gibran, kak ?," tanya bunda lagi.


Kalau Khalilah cerita janji bunda tidak akan menertawakan Khalilah."


"Iya, bunda janji," ucap Bunda Intan. Khalilah kembali mengubah posisinya terlentang menghadap ke langit-langit kamarnya. Memikirkan dari mana dia harus bercerita.


"Khalilah memanggilnya Kak Gibran, usianya hanya bertaut dua tahun dari Khay. Dia menyelamatkan Khay saat di mintai uang oleh anak-anak nakal saat Khay kelas empat SD....." Lalu mengalirkan cerita bagaimana mereka selalu pulang sekolah bersama, tersenyum kala mengingat alasan Gibran pacaran dengan dirinya, lalu saat bercerita tentang kematian Omanya Gibran dan perpisahan


mereka karena Gibran di suruh masuk boarding school di Aussie.


"Khay kangen pengen ketemu kak Gibran, bunda," isak Khalilah yang kini sudah berada dalam pelukan bundanya. Gadis ceria tersebut saat ini di mata bundanya terlihat begitu rapuh. " Khay ingin ke Aussie berharap bisa bertemu dan kalaupun tidak setidaknya Khay bisa menghirup udara yang sama dengannya."


Bunda Intan terkesima mendengar kisah masa kecil Khalilah, bersyukur bahwa ternyata ada seorang Gibran yang menemani hari sepi Khalilah membuatnya bahagia serta menjaganya saat gadis kecilnya tak mendapatkan dari kedua orang tuanya saat itu.


Bunda Intan membelai rambut Khalilah, dia bisa merasakan besarnya cinta putrinya tersebut pada sosok Gibran.


Khay, bunda baru sadar kalau putri bunda sekarang sudah mulai dewasa dan merasakan cinta. Mungkin waktu kecil rasa cinta itu hanyalah cinta anak-anak kalau kata orang diistilahkan dengan cinta monyet, tapi semakin kakak bertumbuh cinta kakak semakin membesar. Bunda salut kakak berpegang teguh pada janji," ucap Bunda.


"Tapi apakah Khay yakin kalau si Gibran juga masih memegang janjinya? Apalagi janji itu waktu kalian masih belum mengerti apa itu cinta ?," tanya Bunda hati-hati tak ingin menghancurkan impian putrinya tersebut dengan mencoba memperlihatkan kemungkinan yang mungkin terjadi.


Kalau yakin, Khay juga tak jarang meragu, Bunda," jawab Khalilah. "Tapi setiap kali sholat Khalilah selalu berdoa jika memang harapan Khay sia-sia tolong hilangkan rasa cinta Khalilah pada Gibran biar Khalilah bisa melupakannya. Tapi yang terjadi Khalilah malah tidak bisa melupakan dan malah semakin merindukan kak Gibran walaupun hanya berbekal kenangan di pikiran Khay."

__ADS_1


Khalilah kembali menarik napas dalam-dalam sementara Bunda Intan kini mengusap-usap punggung putrinya tersebut mencoba membuatnya merasa lebih baik.


Katanya Allah Maha membolak balikkan hati, tapi mengapa selama delapan tahun ini hati Khay tetap terikat pada kak Gibran. Salahkah bunda jika Khay masih berharap kak Gibran juga masih menunggu waktu bertemu Khalilah, masih memegang janjinya pada Khalilah?," tanya Khalilah berbisik.


Kalau itu yang kakak yakini bisa saja Gibran juga masih mengingat janjinya, saat Khalilah rindu bisa jadi karena dia juga sedang merindukan Khay di sana. Kita tidak tahu pasti akan hal itu," jawab bunda Intan bijak.


"Tapi sayang, kalau bunda bisa memberi saran, rendahkan ekspektasi kamu sehingga jika yang terjadi tidak sesuai harapan kakak tidak akan terlalu kecewa.


Persiapkan dirimu untuk sesuatu di luar harapanmu. Ingat waktu bisa mengubah seseorang begitu juga dengan hati dan cinta. Bunda tidak ingin kakak sakit dan kecewa jika terlalu berharap," nasehat bunda Intan masih dengan tangannya yang mengusap punggung Khalilah.


Dalam hati bunda Intan berdoa untuk harapan putrinya tersebut. Ya Allah jika Gibran Engkau ciptakan buat putriku tercinta, tolong jaga dia sampai saatnya kau pertemukan mereka di saat yang tepat di waktu yang pas serta dalam versi terbaik keduanya.....


...****************...


Dan beberapa bulan kedepan rupanya di tahun 2020 terjadinya pendemii/covid 19


...----------------...


Khalilah menatap laptop di depannya dengan perasaan ngantuk. Sedikit kesal karena dosen yang seenaknya memindahkan jam zoom mata kuliahnya.


Gadis manis yang sekarang menginjak tahun ketiganya nya di salah satu universitas negeri Jakarta itu menatap ke jam dinding di kamarnya yang menunjuk pukul dua siang dan dia sedang mengantuk-mengantuknya.


Khalilah menghela napas panjang, dosen mata kuliah siang ini nampak sedang menerangkan sesuatu yang sudah hampir sejam bahkan tak ada satupun yang singgah di otak Khalilah.


Dan nampaknya bukan cuma dirinya. Hampir semua mahasiswa yang mengikuti kuliah online via zoom siang ini sudah terlihat mengantuk bahkan ada yang sudah terlihat sangat mengantuk hingga beberapa kali kepalanya terantuk mejanya sendiri, satu hal yang membuat Khalilah tersenyum.


Hampir setahun kuliah online bukan membuat dirinya pinter malah membuatnya semakin goblok. Tapi mau

__ADS_1


__ADS_2