
Sedari tadi menyimak menoleh ke arah Khalilah.
"Kakak nanti aja kita liburnya kalau Ghalib libur," sahutnya.
Ghalib, makan," tegur bunda dan bocah itu diam dan kembali memakan makanannya.
Khalilah menoleh ke arahnya dan mengusap puncak kepala adiknya tersebut dan mengangguk sehingga Ghalib tersenyum senang karena kakaknya mengiyakan perkataannya.
Mereka kemudian makan dalam diam, hanya terdengar suara piring dan sendok yang beradu serta suara gelas yang di letakkan kembali ke atas meja.
Khalilah lebih dulu menghabiskan makanannya lalu meneguk habis air minumnya lalu mengelap sudut bibirnya dengan tissue yang ada di atas meja.
Khalilah pamit ke kamar bunda," pamit Khalilah lalu menggeser kursinya pelan lalu beranjak meninggalkan meja makan.
Khalilah memilih tak lagi menyinggung soal keinginannya ke Aussie. Sepertinya impiannya untuk bisa menghirup udara yang sama dengan Gibran hanya tinggal mimpi saja hal tersebut membuat gadis berusia delapan belas tahun itu menghela napas sambil meninggalkan ruang makan.
Kepergian Khalilah hanya di pandangi oleh ketiga orang yang sedang berada di meja makan. Tatapan Bunda yang penuh pemakluman dan tatapan Ayah Bram yang justru tidak suka Khalilah pergi meninggalkan meja makan saat mereka semua masih sedang makan.
Kenapa sih dia begitu ingin ke Aussie," desah kesal Ayah Bram sambil memasukkan suapan terakhirnya ke mulutnya lalu meletakkan sendok dan garpunya menyilang di piringnya.
Mungkin Aussie memang impian dia, ayah," ucap Bunda Intan yang juga sudah menyelesaikan makannya. " Habiskan makannya Ghalib, kita ga boleh menyisakan makanan," tegur Bunda saat melihat Ghalib juga ikut menyilangkan sendok dan garpunya di piringnya yang masih ada makanan yang tersisa.
Ghalib tidak jadi menyilangkan sendok dan garpunya kembali memakan sisa makanannya walaupun sebenarnya perutnya sudah penuh.
"Ayah seharusnya menanyakan alasannya bukan langsung mengatakan tidak, bunda yakin dia punya alasan sendiri mengapa dia sangat ingin ke Aussie," ucap bunda Intan lembut sambil beranjak ke dapur memanggil bik Yati untuk membantunya membereskan meja makan.
"Ayah bukan tidak mengizinkan Bunda, tapi ayah ingin saat ini Khalilah fokus dulu pada prioritas utama dia untuk masuk universitas negeri, soal liburan ke Aussie kan bisa kapan saja, toh Australia juga ga akan kemana-mana," jawab Ayah Bram saat Bunda Intan kembali ke ruang makan.
__ADS_1
Bunda mengerti ayah, tapi bukankah ada baiknya ayah tanyakan mengapa, setelah itu bunda yakin ayah akan bisa memberi solusi yang baik," ucap Bunda Intan begitu sabar.
"Baik bunda, nanti ayah coba tanya atau bagaimana kalau bunda saja yang tanya nanti biar bunda yang bilang ke ayah," usul Ayah Bram yang membuat Bunda Intan hanya menggelengkan kepalanya karena pada akhirnya dialah yang harus turun tangan.
Ayah Bram lalu beranjak berdiri dan mengajak Ghalib ikut bersamanya sementara Bunda Intan di temani Bik Yati masih membereskan makanan di atas meja.
Non Khay masih ngotot mau ke Australia ya bu ?," tanya bik Yati sambil mengangkat mangkok berisi sayur ke ruang dapur.
"Sejak kelulusan Khalilah tidak berhenti minta ke Aussie," angguk Bunda.
"Mungkin non Khay mau nyari Den Gibran, bu," sahut bik Yati yang kembali masuk ke ruang makan hendak mengambil yang lain.
Gibran ?," kening bunda berkernyit." Gibran itu siapa bik ?," tanya bunda penasaran karena baru kali ini dia mendengar nama itu di rumah ini.
Ibu tanyakan saja sama non Khalilah, saya ga berani cerita," jawab Bik Yati yang kembali ke dapur membawa sisa makanan terakhir.
Bunda Intan diam. Ada cerita apa antara Khalilah dan Gibran ? Tapi siapa Gibran ?
Sebenarnya dia sangat ingin bertanya pada Bik Yati karena wanita itu telah menemani Khalilah sejak masih kecil tapi bunda Intan tak ingin mengusik wanita yang sudah hampir berusia setengah abad itu yang sedang menyelesaikan tugasnya di dapur.
Mungkin memang dia yang harus bertanya pada putri kesayangannya itu.
Khalilah merebahkan tubuhnya ke atas kasur empuknya. Di naikkan nya tangannya dan menatap cincin di jari manisnya yang berkilau tertimpa cahaya lampu. Perasaan rindu pada si pemberi semakin terasa membebani dadanya hingga terasa berat.
Khalilah menarik napas dalam-dalam mengisi paru-parunya agar tak lagi terasa sesak. Di turunkan nya tangannya ke dadanya sedang matanya kini menatap kelukisan gedung opera Sidney yang menghias kamarnya. Mata indahnya kini mulai berkaca-kaca.
Kak Gibran, Khalilah kangen," bisik Khalilah sambil memeluk gulingnya. " Kapan bisa bertemu kakak lagi, sudah delapan tahun dan kakak tidak bersurat pada Khalilah padahal kakak sudah janji," desah Khalilah sambil menghapus airmata yang menggenang di pipinya lalu membenamkan wajahnya ke bantal. Menangis diam seperti biasa saat rasa rindu itu datang.
__ADS_1
Klaim
Ketukan pelan di pintu kamarnya membuat Khalilah buru-buru menghapus airmatanya. Setelah memastikan tak ada airmata yang tersisa Khalilah turun dari ranjangnya dan menggontai langkahnya ke arah pintu.
Di depan pintu ada bunda Intan yang tersenyum lembut menatap ke arahnya.
"Boleh bunda masuk?," tanya Bunda dan diangguki Khalilah lalu gadis itu membuka pintu kamarnya membiarkan bundanya tersebut masuk ke kamarnya lalu menutupnya kembali.
Bunda Intan berjalan lurus ke arah ranjang dan duduk di bibir ranjang Khalilah lalu menepuk sisi kasur sebelahnya meminta Khalilah duduk di sampingnya.
Khalilah kemudian mendekat dan duduk di samping bundanya.
Ada apa bunda ?," tanya Khalilah.
Wajah lembut itu tersenyum lalu mengusap puncak kepala Khalilah.
Kenapa matanya merah hmm... Kakak habis nangis ya ?," tanya Bunda sambil menghapus sisa airmata di sudut mata Khalilah.
'Tidak kok bunda, cuma kelilipan debu tadi jadinya merah kena kucek tangan khalilah," jawab Khalilah berkelit.
"Duh nakal benar debunya nyasar ke mata anak bunda," kelakar bunda Intan membuat Khalilah tersenyum walau hanya senyuman tipis.
Kita rebahan yuk, bunda pengen ngelurusin badan bentar, boleh kan?," tanya Bunda lagi dan Khalilah mengangguk lalu beranjak naik ke atas kasur begitupun bunda Intan. Lalu keduanya tidur terlentang menatap langit-langit kamar Khalilah.
Lama keduanya diam hanya detak jarum jam dinding kamar Khalilah yang terdengar. Bunda Intan kini menatap ke lukisan yang tergantung di dinding kamar Khalilah.
Kak, pengen banget ya ke Aussie ?," tanya Bunda Intan memecah kesunyian antara mereka.
__ADS_1
Khalilah tak bersuara tapi hanya mengangguk.
Boleh bunda tahu kenapa kakak pengen banget ke Aussie, apa karena kakak pengen ke teater Sidney?," tanyanya sambil menunjuk lukisan di kamar Khalilah.