
Dapatkan dari kedua orang tuanya.
"Oma kenapa sih ninggalin Gibran," protesnya lirih sambil menatap wajah Omanya yang tersenyum dalam figura kecil yang di pegangnya. " Gibran sama siapa sekarang, Oma ?," tanya Gibran ritoris.
Perlahan bocah berusia dua belas tahun itu berjalan ke arah balkon mini kamarnya dan duduk menyandar pada dinding samping pintu balkon.
Dipandanginya bintang malam yang bersinar. Tatapannya kosong tak ada cahaya disana.
Oma sekarang ada di langit ya? Tenang ga di situ Oma ?," tanya Gibran lirih berbicara sendiri. " Katanya orang yang meninggal itu jadi bintang yang akan menjaga orang-orang yang di kasihi. Apakah Oma salah satu bintang di langit malam ini ? Oma pasti sedang melihat Gibran kan ?," katanya lagi sambil menatap langit malam.
Suara ketukan beberapa kali terdengar dari arah pintu kamarnya tapi Gibran tak bergeming. Dia sedang tidak ingin bertemu siapapun saat ini.
Kakak !," suara ketukan kini suara seseorang yang begitu Gibran kenal sehingga bocah itu buru-buru berdiri dan bergegas menuju pintu kamarnya dan membukanya.
Serabut wajah yang menjadi sosok kesayangannya setelah Omanya kini berdiri di hadapannya sambil membawa sepiring makanan.
Katanya kakak belum makan ya ?," tanya Khalilah tersenyum. Gibran hanya mengangguk dan Khalilah menyodorkan piring yang berisi nasi dan lauknya lengkap ke arah Gibran." Makan ya," ucapnya.
Gibran menggeleng lesu. ' Lagi ga napsu dek," tolaknya dan seketika wajah di depannya berubah sendu.
Kalau kakak tidak makan nanti sakit, kalau sakit nanti kakak bisa mati, Khalilah sama siapa?," katanya dengan airmata yang kini menetes di pipinya.
Gibran buru-buru menarik Khalilah masuk ke kamarnya membawanya ke kursi belajarnya dan mendudukkannya lalu dia mengambil piring berisi makanan yang di bawa Khalilah lalu duduk di lantai dan menghabiskan isi piring sambil menatap ke arah Khalilah yang masih tersedu.
Sudah habis, dek. Jangan nangis lagi. Kakak akan rajin makan biar ga sakit biar ga mati, ok?," sahut Gibran dan diangguki oleh Khalilah." Sekarang mana senyumnya ?."
Khalilah lalu tersenyum lebar dan senang. " Kakak jangan tinggalkan Khalilah ya, ga boleh mati sebelum Khalilah mati," ucapnya malah membuat Gibran menepuk tangannya.
__ADS_1
'Tidak boleh bicara begitu adek sayang. Ga ada yang akan Sufah ga usah di pikirin. Kamu bawa makanan kok ga bawa minum? Ini habis makan butuh minum adek cintanya kakak," Gibran mencubit hidung Khalilah dengan gemas membuat Khalilah protes karena hidungnya jadi sakit dan merah.
Sakit dong kakak," protesnya sambil mengelus hidungnya yang bekas di cubit Gibran membuat Gibran tertawa lucu.
Setelah Omanya, Khalilah adalah satu-satunya yang bisa membuatnya merasa di sayang dan di perhatikan. Kini tak ada Oma lagi, bagaimana jika tak ada Khalilah juga, Gibran enggan membayangkan hal tersebut.
Kakak besok sekolah kan? Khalilah kangen pulang bareng kakak," rajuknya ala bocah sepuluh tahun yang bertubuh mungil tersebut.
Kamu ada yang gangguin ?," tanya Gibran sambil berdiri dan berjalan menuju sebuah freezer kecil di sudut kamarnya lalu mengambil sebotol air mineral dan juga minuman ringan. Di bukanya seal botol mineral tersebut dan meneguknya hingga setengah dengan duduk di sudut ranjangnya lalu setelahnya Gibran berdiri dan kembali ke arah Khalilah memberikannya minuman ringan dingin pada kekasih kecilnya tersebut.
Kamu kesini sama siapa?," tanya Gibran.
Sama bobok," jawab Khalilah sambil meneguk minuman ringan di tangannya yang kemudian di ambil Gibran lalu ikut meneguk minuman tersebut.
Itukan bekas Khalilah, kak ?," tegur Khalilah.
Ya udah kalo begitu kakak habiskan saja," kata Khalilah dan bener saja Gibran meneguk minuman tersebut hingga habis lalu meremas kalengnya dan melemparnya ke dalam tempat sampai dekat pintu kamar mandinya yang tepat masuk dengan mulus ke tempat sampah tersebut membuat Khalilah bertepuk tangan.
" Kak Gibran memang jago," sahutnya masih bertepuk tangan dan Gibran langsung membungkuk lalu melakukan gerakan cium jauh seperti seorang pemain NBA yang berhasil melakukan shot three points dan mendapat tepukan dan sorak sorai dari penonton.
Sebuah ketukan di pintu dan suara pelan memanggil Khalilah terdengar dari balik pintu.
"Itu bubuk sudah memanggil. Khalilah pulang ya kakak. Jangan lupa makan,"
Pesan Khalilah sambil beranjak dari kursi belajar Gibran.
Gibran kemudian menarik tubuh mungil Khalilah dan memeluknya.
__ADS_1
"Terima kasih sudah datang ," bisik Gibran membelai rambut Khalilah.
angguk Khalilah dalam pelukan Gibran." Kakak jangan sedih lagi ya, harus sekolah sebentar lagi kakak ujian
"Iya, kakak ga akan sedih lagi kan ada kamu yang hibur. Besok kakak sekolah kok, nanti kita pulang bareng lagi," ucap Gibran sambil melepas pelukannya.
Khalilah mengangguk lalu berlari ke arah pintu dan membukanya lalu melambaikan tangannya ke arah Gibran dan menghilang di balik pintu yang tertutup di depan mata Gibran.
Suasana kamarnya kembali sendu. Gibran menarik napas dalam-dalam lalu duduk di kursi belajarnya menarik tasnya lalu mulai menyiapkan pelajaran buat besok.
Bagaimana pun masih ada Khalilah yang harus dia jaga setiap pulang sekolah sebelum dia benar-benar akan meninggalkan Khalilah sendiri di sekolah tersebut.
Dan mengingat hal itu tinggal sebulan lagi kembali membuat Gibran menarik napas panjang.
'Tamat sekolah nanti, ayah sudah daftarkan kamu ke boarding di Aussie. Biar kamu lebih disiplin belajar dan selalu dalam pengawasan, dan kami juga bisa menengok dirimu jika sedang di sana," ultimatum sang ayah membuat Gibran diam. Hanya mengedarkan tatapannya ke arah jendela bukan ke arah ayahnya yang duduk di samping bundanya siang itu setelah kepulangannya dari sekolah.
Hari ini adalah hari terakhir ujian akhir sekolah dan minggu depan adalah pengumuman kelulusan. Berarti tinggal seminggu lagi dia bisa menghirup udara tanah airnya tercinta.
Ultimatum ayah adalah sesuatu yang tidak bisa Seberapa keraspun dia menolak atau berontak tetap tidak ada gunanya jika ayah bilang A maka A lah yang akan terjadi.
Gibran jujur tidak keberatan berada di boarding school malah akan terasa lebih nyaman karena tidak akan terlalu sering bertemu orang tuanya walaupun sekarang juga tidak jauh beda. Tapi setidaknya di sana dia tidak sendiri tapi ada siswa lain yang siapa tahu cocok dengan dirinya.
Tapi yang membuatnya berat adalah bahwa dia harus meninggalkan Khalilah padahal dia sudah berjanji akan selalu kekasih kecilnya tersebut.
Apakah khalilah akan baik-baik saja tanpa dirinya ?, monolog Gibran bertanya pada dirinya sendiri.
Karena seminggu lagi kelulusan dan Ayah yakin kau akan lulus dengan nilai terbaik,
__ADS_1