
"Duit tabungan gue ga cukup buat beli yang baru, Khay."
"Nanti aku tambahin kurangnya, santai ajalah kayak yang ga pernah aku traktir baju aja hehehe," seloroh Khalilah bercanda.
Ga enak gue sama lo, di beliin melulu ntar gue jadi kayak parasit lagi, apa apa minta lo," tanggapan Ghea pada candaan Khalilah.
"Ya itu sih kalo kamu ga tahu diri Maesaroh hehehe. Dah ah ga usah di pusingin kita cari kebayanya dulu nanti kita pikirin mahal murahnya," putus Khalilah sambil membelokkan kendaraan roda empatnya memasuki pelataran mal yang sudah ramai aja padahal baru jam sepuluh pagi.
Kedua remaja putri itu pun kemudian membaur bersama pengunjung mall mulai melihat-lihat jejeran butik yang menjual kebaya modern seusia mereka.
Ghea, lihat cantik ga ?," tanya Khalilah sambil meraih satu hanger di mana tergantung sebuah kebaya brokat berwarna tosca lengkap dengan roknya.
Cantik banget," puji Ghea sambil menyentuh kebaya tersebut lalu mengecek price tagnya dan buru-buru melepaskan tangannya.
Kenapa? Mahal ya ?," tanya Khalilah yang langsung mengecek harga setelan kebaya tersebut. Lumayan, pikir Khalilah.
"Mahal banget!! Dah ah gue beli di Jatinegara aja deh bisa gue tawar pula," jawab Ghea yang sadar akan kemampuan keuangan keluarganya.
Khalilah menggantung kembali kebaya set tersebut. " Kita cari yang sesuai kantong kamu deh," kata Khalilah tak ingin membuat sahabatnya tersebut susah hati.
"Ambil aja kalau lo suka, bagus tahu cocok buat kamu yang kulitnya putih," kata Ghea menahan Khalilah yang akan melangkah.
"Tapi aku mau samaan sama kamu bestie, biar kita selalu kompak, ratu," tunjuk Khalilah ke dadanya." Dan dayang," tunjukkan ke Ghea.
Ghea mendelik. "Iya kanjeng Ratu," katanya sambil bergaya menyembah pada Khalilah membuat sahabatnya tersebut tertawa.
Khalilah lalu menarik tangan Ghea keluar butik yang tadi mereka masuki kembali mencari-cari butik lainnya.
Tiba-tiba Khalilah merasa tubuhnya tersentak ke depan untungnya Ghea segera sigap menangkapnya hingga Khalilah tidak terjerembab.
__ADS_1
"Mas kalau jalan pakai mata dong main tabrak aja," sahut Ghea ke arah sosok yang menabrak Khalilah. Jelas sekali raut kesal di wajah Ghea. "Lo ga apa-apa kan Khay?," tanyanya pada Khalilah yang masih terlihat shock dan menegakkan dirinya.
Maaf mbak, saya ga sengaja, maaf..maaf.. ", katanya sambil mengatupkan kedua tangannya. " Ga ada yang luka kan ?," tanyanya.
"Maaf.. maaf, kalau semua bisa diselesaikan dengan maaf, Salemba kosong melompong noh," rutuk Ghea masih kesal.
"Sudahlah Ghe, kita pergi aja jangan ribut. Energinya buat nyari kebaya aja," Khalilah menengahi kekesalan Ghea.
"Tolong mas lain kali sedikit lebih hati-hati," ucap Khalilah pada si penabraknya yang ternyata seorang pria yang terlihat cukup gagah dengan penampilan casual.
Khalilah lalu menarik tangan Ghea yang masih berkacak pinggang ke arah pria tersebut
Mengajaknya meninggalkan tempat itu, karena mereka sudah jadi pusat perhatian beberapa orang yang berseliweran di mall tersebut.
"Kamu Khalilah kan?," tiba-tiba laki-laki tersebut bertanya yang membuat langkah kaki Khalilah dan Ghea berhenti. Khalilah menatap pria tesebut dengan mata memicing.
"Khalilah anak Om Bram, benarkan ?," tanyanya lagi.
Kamu lupa ya sama saya?," tanyanya lagi.Mas butuh banget ya
pengakuan kalau semua kenal mas, situ artis kah ?," Ghea kembali nyolot.
Gue bukan ngomong sama situ kenapa situ yang ngebacot, ribut aja," kata pria itu pada Ghea, mungkin dia kesal kali mendengar ucapan Ghea.
"Bodoh amat!," Ghea menangapi dengan wajah masa bodohnya. Pria tersebut mendengus ke arahnya dan di Ghea dengan sikap yang sama sehingga Khalilah harus menepuk punggungnya biar sahabatnya itu tenang.
Maaf mas, saya tidak kenal mas siapa dan saya juga tidak tertarik mengetahui mas itu siapa ga peduli mas kenal ayah saya atau tidak, permisi," ucap Khalilah tegas dan kali dia menarik lengan Ghea cepat dan melangkah meninggalkan pria tersebut yang entah siapapun adanya dirinya. Seperti kata Ghea bestie nya tersayang : BODOH AMAT!!
Kepergian keduanya di ikuti oleh tatapan mata dari pria yang menabraknya." Ternyata anak Om Bram sudah besar, mungkin sudah waktunya meminta papa menjodohkan dia dengan aku," bisiknya pada dirinya sendiri. sambil tersenyum yang lebih lirik sebuah seringaian pria mesum... "
__ADS_1
Aku suka sama sikap sombong kamu baby, tunggu saja kau akan jadi milikku dan akan aku runtuh kan kesombongan kamu itu," ucapnya lagi sambil berbalik dan kembali meneruskan langkahnya yang tadi tergesa-gesa karena menghindari seseorang.
"Yah, boleh enggak Khalilah liburan ke Aussie seminggu aja, sebagai hadiah ?," tanya Khalilah saat mereka sedang makan malam bersama setelah siang tadi Khalilah mengikuti wisuda SMA nya dan ayahnya boleh bangga karena Khalilah menjadi siswi terbaik ke dua pada kelulusan tahun ini.
Ayahnya meletakkan sendoknya dan menatap ke arah Khalilah.
"Tapi kan pendaftaran universitas sudah akan di mulai Khay, fokus dulu buat lulus ke universitas sebelum mikir liburan ," jawab ayah yang membuat Khalilah menunduk dan menggosok ujung hidungnya sebuah kebiasaan yang biasa dia lalukan saat dia merasa kecewa atau sedang tidak nyaman.
Kalau Khalilah lulus, apa boleh Yah?," Khalilah tetap berusaha membujuk ayahnya.
Khalilah melihat ayahnya diam dan menarik napas seakan sedang menahan diri untuk tidak marah.
Khay sayang, bisakah kita bicarakan hal ini setelah makan ?
," sela bunda tersenyum minta kesediaan Khalilah untuk menunggu.
Khalilah mengangguk dan melanjutkan makannya yang rasanya sudah tidak bernapsu lagi untuk menghabiskannya.
Bunda Intan kemudian mengusap tangan suaminya tersenyum minta suaminya bersabar dan melanjutkan makannya.
Ayah Khalilah mengangguk balas tersenyum pada bunda dan kembali melanjutkan makanannya sama dengan Khalilah.
Ghalib yang hanya diam sedari tadi menyimak menoleh ke arah Khalilah.
"Kakak nanti aja kita liburnya kalau Ghalib libur," sahutnya.
Ghalib, makan," tegur bunda dan bocah itu diam dan kembali memakan makanannya.
Khalilah menoleh ke arahnya dan mengusap puncak kepala adiknya tersebut dan mengangguk sehingga Ghalib tersenyum senang karena kakaknya mengiyakan perkataannya.
__ADS_1
Mereka kemudian makan dalam diam, hanya terdengar suara piring dan sendok yang.