Cinta Yang Belum Selesai

Cinta Yang Belum Selesai
bab11


__ADS_3

Mininya dan mengambil baju kaos dan celana joget abu-abunya selanjutnya setelah itu Khalilah melaksanakan sholat dhuhur yang selalu di ingatkan bunda untuk Jangan pernah di lupakan apapun kondisinya kecuali dalam keadaan uzur.


Gibran memarkirkan mobilnya di depan sebuah pemakaman khusus di mana Omanya di makamkan delapan tahun yang lalu. Beberapa orang nampak juga sedang melakukan hal yang sama dengannya, berziarah ke makam keluarga mereka.


Gibran berhenti didepan sebuah warung kecil yang biasanya menjual bunga buat ziarah dan juga sebotol air. Gibran membeli sekeranjang kecil bunga dan juga sebotol air lalu berjalan masuk ke area pekuburan yang terlihat rapi dan bersih.


Berjalan diantara jalan setapak menuju makan Omanya, Gibran menebarkan pandangannya ke arah langit sore yang mulai memerah. Dia memang agak terlambat karena ternyata keadaan perusahaan milik keluarganya banyak yang harus dia benahi, banyak laporan yang rancu hingga Gibran harus membawa sebagian kerjanya tersebut ke rumah karena dia masih ada rencana mengunjungi makam Omanya.


Gibran tiba di pusara indah dengan nama Narti binti Mustafa pada nisannya. Berjongkok lalu dia mulai menaburkan bunga yang tadi dia beli lalu menyiram makam Omanya dengan air sebotol yang juga dibelinya tadi.


Gibran lalu membelai nisan tersebut sambil menundukkan kepalanya mengirim Al-fatihah buat Omanya. Lalu dengan tersenyum dia mulai menyapa.


"Assalamu'alaikum Oma, kangen tidak sama Gibran ?,"ucapnya membuka suara. Oma, Gibran sekarang bukan lagi Gibran yang masih kecil, sekarang Gibran sudah makin ganteng lho Oma," lanjutnya tersenyum mengingat dulu betapa Omanya selalu memuji ketampanannya. Katanya dirinya bakalan menjadi calon calon pematah hati para gadis-gadis saat dia dewasa. Dan sepertinya apa yang di katakan Omanya benar. Selama delapan tahun ini Gibran tidak pernah membuka hati pada satu orang gadispun walaupun banyak teman sekampusnya kini yang suka diam-diam mengirimkan salam atau surat padanya. Alasannya satu, ada hati yang dia jaga buat seseorang.


Oma, Gibran kangen sama Oma, maaf kalau baru bisa berkunjung lagi sekarang. Oma apa kabarnya? Semoga Oma di sana tenang dan damai selalu, tapi jangan cari cucu baru ya, nanti Gibran bisa cemburu," ucapnya tersenyum.


Lama Gibran menumpahkan semua apa yang ingin dia sampaikan pada Omanya hingga hari mulai mendekati magrib.


Oma, Gibran pulang dulu ya sudah mau magrib. Nanti Gibran datang lagi. Assalamu' alaikum Oma," salamnya lalu berdiri dengan membawa plastik kantong bunga dan botol air yang sudah kosong. Berjalan kembali menyusuri jalan setapak dan membuang sampai ang di y ke tempat sampah yang disediakan di dalam area pemakaman tersebut.


Berjalan keluar gerbang, dia bertemu dengan bapak yang bertugas menjaga dan membersihkan makam yang di area tersebut dan Gibran menegurnya sambil memberi sedikit ucapan terima kasih karena telah merawat makam Omanya selama ini. ada

__ADS_1


Walaupun awalnya menolak dengan dalih dia sudah di gaji tapi karena Gibran memaksa akhirnya lelaki tua tersebut menerimanya dan mengucap terima kasih dan di tanggapi Gibran dengan anggukan serta senyum tipis di bibirnya.


Suara adzan yang menggema membuat Gibran menunda kepulangannya dan berjalan menuju masjid yang berseberangan dengan area pemakaman.


Gibran boleh hidup delapan tahun di negeri orang tapi dia tidak pernah lupa pesan Omanya untuk tidak pernah menunda-nunda sholatnya.


Gibran duduk di teras masjid sambil membuka sepatu dan kaos kakinya. Sejenak ada senyum melengkung di wajahnya. Masjid ini benar-benar membuat siapapun yang menunaikan sholat di situ sadar bahwa hanya ibadah merekalah nanti yang menemani mereka di alam kubur. Kontras namun itulah yang bisa dia rasakan saat ini. At least dengan melihat pekuburan ibadahmu bisa lebih khusyuk.


Lho, den Gibran mau keluar lagi? Tidak makan malam di rumah ?," tanya Bik Sumi saat melihat tuan mudanya yang baru sejam lalu tiba sekarang sudah terlihat rapi dan bersiap keluar lagi.


Maaf bik Sumi, saya ada rencana malam ini. Nikmati saja apa yang bik Sumi masak dengan pak Sholeh dan pak Said, sekuriti kita," jawab Gibran sambil merapikan lipatan lengan panjang bajunya yang dia gulung sesiku.


"Memang den mau kemana ?," tanya Bik Sumi.


Saatnya bertemu seseorang yang menjadi penghuni hatinya... Gibran bersiul sambil menyalakan mobilnya. Sekuriti rumahnya dengan cepat membuka gerbang saat mobil mewah tersebut melaju keluar gerbang.


Beberapa blok Gibran menghentikan mobilnya di depan rumah mewah milik orang Khalilah, memarkirkannya dan turun dari mobilnya.


Di pandangnya rumah bertingkat dua tersebut. Terlihat begitu gelap seakan tidak ada kehidupan di dalamnya. Hanya lampu taman serta lampu teras yang menyala.


Bergerak mendekati gerbang rumah tersebut Gibran di kejutkan dengan sebuah tulisan yang tergantung di depan gerbang rumah tersebut. For Sale ? Mengapa tadi dia tidak melihat tanda kalau rumah di depannya tersebut mau di jual ?

__ADS_1


Gibran mengintip ke dalam gerbang, tak ada sesiapa ? Apakah keluarga Khalilah sudah tidak tinggal di rumah itu ?, tanya Gibran dalam hati. Jadi di mana gadisnya tersebut kini berada ?


Cari siapa mas?," tegur seseorang yang membuat Gibran membalikkan badannya cepat.' Mas mau beli rumahnya ?," tanya pria bertubuh tambun dengan mengenakan seragam sekuriti.


Maaf Pak, Sejak kapan ini di mau di jual ?," tanya Gibran.


"Sejak dua tahun yang lalu tapi sampai sekarang belum ada yang beli. Mungkin kemahalan kali," jawabnya sambil mengedikkan bahunya. " Mas mau beli ?," tanyanya lagi tapi Gibran menggeleng.


Memang keluarga Pak Bramastya pindah kemana pak?," tanya Gibran kepo.


Rumah ini sekarang milik mantan istinya pak Bram, waktu cerai di berikan pada Bu Ajeng," jawabnya membuat Gibran terhenyak. Bercerai ?


"Kapan bercerainya Pak?," tanya Gibran lagi. Hatinya terasa pedih mengingat bagaimana peasaan Khalilah dengan perceraian kedua orang tuanya.


Sudah lama mas, kayaknya hampir tujuh atau delapan tahun yang lalu," jawab pria tersebut sambil memainkan sebuah gantungan yang berisi beberapa kunci.


Ya Allah, itu berarti saat dirinya harus ke Aussie. Gibran merasa sakit dalam hatinya karena tak ada di dekat Khalilah saat perceraian orang tuanya menjadi tempatnya berkeluh kesah seperti dulu saat dia merasa sedih terima raport tapi tanpa orang tua.


Gibran butuh tahu cerita lengkapnya. Mungkin dia bisa bertanya pada bik Sumi.


"Makasih pak informasinya. Saya pamit dulu," ucap Gibran mengangguk sopan bermaksud segera ke mobilnya tapi dia membalikkan badannya cepat.

__ADS_1


Bapak tahu tuan sekarang tinggal di mana ?," tanya Gibran penuh harap pria.


__ADS_2