Cinta Yang Belum Selesai

Cinta Yang Belum Selesai
bab15


__ADS_3

Jeblok nilainya entar di ijazah."


Khalilah terkekeh. Kalau dua warga Depok ini sudah sahut-sahutan mending nonton deh, kayak nonton lenong Betawi.


Gue malas ngeladenin Lo, bosan gue," sahut Agus lalu kembali sibuk menulis sesuatu di papan tulis membuat Ghea berdiri dan berjalan ke arah papan tulis melihat apa yang sedang di lakukan Agus.


"Pengumuman, Wisuda Kelulusan akan di laksanakan pada hari Senin...."


Ghea kemudian membaca apa yang di tulis Agus. Segala jadwal, peraturan wisuda, biaya dan teman-temannya di baca Ghea lantang bak anak SD yang di suruh gurunya maju kedepan dan membaca apa yang di tuliskan gurunya.


"Kenapa sih harus pake wisuda - wisudaan segala, kenapa ga perpisahan aja," protes Ghea." Malas banget gue kebayaan kayak Ibu Kartini," lanjut Ghea.


"Malas apa karena lo ga punya duit buat beli kebaya, Munaroh ?," tanya Agus terlalu jujur.


Eitss kok lo tiba-tiba ngomong benar si Gus, kemajuan lo, mundur!!," semprot Ghea menepuk punggung Agus hingga cowok itu mengaduh.


100


Sudah sudah, rusuh aja kalau ketemu, awas lho katanya kalo sering bertengkar bisa jodoh tahu," sela Khalilah yang juga sudah berdiri di dekat Ghea.


"Najis, kagak mau gue sama nih bocah, sepet bawaanya gue liat die," Ghea ngedumel mendengar perkataan Khalilah yang bagi dia terlalu sekate-kate.


Khalilah tertawa, dia tidak tahan kalo gaya mpok-mpok Ghea sudah keluar.


Kantin yuk, lapar. Lagian ga perlu mikirin biaya wisuda, nanti aku bayarin sekaligus dengan kebaya-kebayanya," ucap Khalilah yang memang biasanya selalu membantu sahabatnya tersebut.

__ADS_1


Khay kesayangan gue, emang paling the best. Yuk ah ngantin daripada di sini mata sepet liat si Agus," sahut Ghea sambil memeluk Khalilah lalu menarik sahabatnya itu keluar kelas meninggalkan Agus yang misuh-misuh sendiri.


Sementara itu di belahan benua yang lain, Gibran sedang duduk anteng di depan laptop di depannya dan beberapa buku tebal yang dia jadikan referensi untuk makalah tugas dari dosennya.


Saat ini dia sedang di perpustakaan. Gibran memang selalu suka menghabiskan waktunya di perpustakaan kampus daripada hang out bersama teman kuliahnya yang lain. Dia menyukai suasana perpustakaan yang tenang dan hening tak ada gangguan yang bisa merusak konsentrasinya pada apa yang sedang dia kerjakan.


Hai Gib, sendirian ya?," tegur seseorang yang tanpa mendongakpun Gibran tahu siapa orangnya. Nadya, mahasiswi Indonesia yang dari dulu selalu terlihat mencoba menarikperhatiannya.


Engga," jawab Gibran singkat, lalu tangannya yang memegang pulpen langsung menunjuk ke beberapa mahasiswa yang juga ada di perpustakaan tersebut. " Bersama mereka," lanjut Gibran lalu kembali menekuri laptopnya.


Maksud aku apakah di meja ini kamu sendiri ?," tanya Nadya lagi.


"Kamu lihat ada orang lain ga di meja ini?," tanya Gibran balik sambil tetap menatap ke arah laptopnya sementara tangannya menari menekan tuts keyboard laptopnya.


Ga ada sih," jawab Nadya sambil memelankan suaranya karena beberapa mahasiswa merasa terusik oleh suaranya.


Nadya menatap cowok sedingin kulkas tujuh pintu tersebut. Lalu dengan cuek dia menarik pelan satu kursi dan duduk tepat di depan Gibran.


Sejak awal bertemu Nadya sudah sangat penasaran dengan sosok Gibran yang pintar, tampan namun terlihat lebih suka sendirian. Entah introvert atau memang seperti itulah kebiasaannya. Sudah terlalu sering dia mendapat balasan ketus dari pria tersebut tapi bukan Nadya namanya kalau hanya karena hal tersebut membuatnya mundur.


Nadya lalu mengeluarkan buku catatannya serta pulpen dari tasnya, lalu berdiri dan bergerak menuju ke deretan lemari berisi buku-buku dan mulai menyelusuri buku-buku tersebut lalu mengambil beberapa dari yang ia butuhkan.


Balik ke meja dengan membawa buku-buku yang tadi diambilnya dan mendapati di meja itu hanya ada buku catatannya tak ada lagi laptop dan tumpukan buku-buku yang hilang bersama pemilik laptop tersebut.


Gadis itu menghentakkan kakinya kesal sehingga menimbulkan suara pantulan dan berakhir dengan suara protesan para pengguna perpustakaan tersebut.

__ADS_1


Sialan Gibran ! Tunggu saja kamu pasti akan aku dapatkan," desisnya sambil mendudukkan bokongnya ke kursi dan menyimpan buku-buku tebal yang di bawanya ke meja. " Cepat atau lambat kamu pasti akan jatuh pada pesona Nadya... Lihat saja atau namaku bukan Nadya Kencana..."


...----------------...


Maaf sayang, ayah tidak bisa mengizinkan kamu untuk kuliah jauh dari kami," kata Pak Bram saat mereka sekeluarga sedang makan malam di sebuah rumah makan sebagai perayaan kelulusan Khalilah.


"Tapi kenapa, Yah ? Khalilah kan cuma mau kuliah di kampus yang terbaik demi masa depan Khalilah," protes pelan Khalilah.


Pak Bram hanya tersenyum, menatap putrinya dengan pandangan cinta. " Di Jakarta juga banyak kok kampus yang bagus, sayang," jawab Pak Bram atas protes Khalilah. " Lagipula ayah ingin lebih banyak menghabiskan waktu bersama kamu setelah kelalaian ayah yang kurang perhatiaan saat kamu kecil," lanjut Pak Bram dengan wajah penuh penyesalan yang ternyata masih dia bawa hingga hari ini.


Bunda Intan yang tahu sekali bagaimana perasaan suaminya tersebut mengelus lembut tangan suaminya dengan senyuman menenangkan yang selalu dia sunggingkan di wajahnya.


Khalilah menarik napas panjang. Ayahnya memang banyak berubah sejak hari di mana dia trauma dengan semua apa yang terjadi pada orang tuanya, pertengkaran dengan suara sahut-sahutan penuh dengan makian yang keluar dari mulut ibu kandungnya belum lagi suara benda yang di lempar dan suara pecah yang membuatnya hanya bisa meringkuk ketakutan di pojok kamar di balik ranjangnya dan menutupi dirinya dengan selimut hanya bisa menangis dan menutup kedua telinganya. Khalilah kecil yang malang beruntung bisa di menangkan hak asuhnya oleh ayahnya dan kini dia bisa memiliki keluarga utuh yang selalu menyayangi dirinya.


Bagaimana kuliah di Aussie untuk S2 saja?," tanya Pak Bram memberi opsi pada Khalilah.


Khalilah akhirnya mengangguk pasrah. Dia tidak tega melihat wajah penyesalan di wajahnya. Khalilah tersenyum menyadari betapa besar cinta ayahnya pada dirinya.


Terima kasih sayang," ucap Pak Bram sambil menepuk tangan Khalilah pelan.


Kakak jangan pergi, nanti


Ghalib belajar sama siapa?," terdengar suara protes adiknya yang sedari tadi hanya diam dan menikmati makanan yang ada di piringnya. " Ghalib ga mau kalau ga sama kakak," katanya sambil menatap ke arah Khalilah dengan wajah sendu.


Khalilah terkekeh sambil mengusap kepala Ghalib yang duduk di sampingnya. " Kakak ga akan kemana-mana kok, kan kakak juga ga mau jauh dari kamu," ucap Khalilah sambil menjawil pipi tembem adiknya yang memang bertubuh sedikit lebih gendut.

__ADS_1


Bunda Intan menatap kedua anaknya tersebut dengan senyum bahagia, betapa terharu dirinya melihat betapa dekatnya mereka berdua, saling sayang dan tak ingin berjauhan satu sama lain.


"Alhamdulillah, ayo.


__ADS_2