Cinta Yang Belum Selesai

Cinta Yang Belum Selesai
bab07


__ADS_3

Ayah sudah menghubungi Kepala Sekolah meminta untuk men segerakan kelengkapan dirimu ke Aussie, Ijazah dan apapun itu yang lainnya. Ayah juga sudah mengurus visa pelajar untukmu. Jadi minggu depan kita sudah akan berangkat. Jadi sebaiknya siapkan keperluan yang ingin kau bawa mulai dari sekarang."


Gibran mengangguk lalu beranjak meninggalkan ruang kerja ayahnya menuju ke lantai dua di mana kamarnya berada.


Di dalam kamar Gibran menjatuhkan tubuhnya ke ranjang empuknya lalu terbaring terlentang menatap langit-langit kamarnya.


Tak lama bocah dua belas tahun itu bergerak bangun dan menarik handuk lalu masuk ke kamar mandi.


Sepuluh menit kemudian Gibran sudah rapi dengan mengenakan celana jeans buru navy, baju polo oblong dan jaket varsity serta sebuah slingbad pria menyilang di dadanya.


Di bukanya laci meja belajarnya, mengeluarkan tabungan yang di dalamnya ada kartu ATM yang belum pernah sekalipun dia gunakan. Hari ini akhirnya dia akan menggunakan kartu itu untuk membeli sesuatu.


Gibran memasukkan kartu ATM tersebut ke tas slingbagnya lalu menarik topi dengan logo checklist putih di gantungan di dinding kamarnya lalu memakainya dan keluar kamar turun ke bawah.


Tak ada tanda-tanda orang tuanya dan Gibran justru merasa lega. Bergegas berjalan ke arah menemui Bik Sumi dan pamitan hendak keluar jika kalau-kalau orang tuanya mencarinya yang sepertinya mustahil.


Gibran berjalan menyusuri jalan kompleks dan berhenti di depan bangunan rumah mewah milik Khalilah.


"Sore Om, mau ketemu Khalilah boleh tidak?," tanya Gibran pada sekuriti yang berjaga di pos dekat pintu gerbang.


Om tanya dulu ya, nama kamu siapa ?," tanyanya.


Bilang saja di cari Gibran, Om," jawab Gibran lalu pria tersebut menelpon ke dalam rumah dan tidak lama seorang anak perempuan yang sangat di kenalnya berlari turun dari arah teras menuju pintu gerbang dimana Gibran menunggu.


Kakak ! Masuk yuk," ajaknya sambil membuka pintu gerbang rumahnya di bantu oleh sekuriti yang berjaga.


Gibran melangkah masuk untuk pertama kalinya ke rumah Khalilah dan mengikuti gadis kecil itu menuju teras rumahnya.


"Ayah bunda kamu ada tanya Gibran dan Khalilah menggeleng.


Seperti biasa," jawabnya tersenyum walau terlihat tidak terlalu peduli. Mereka memang dua anak yang memiliki kesamaan background keluarga sibuk.


Kita jalan-jalan ke Mal yuk ," ajak Gibran mengutarakan kedatangannya.

__ADS_1


"Sekarang?," tanya Khalilah.


Ya iyalah adek sayang, masa tahun depan. Ganti baju gih buruan terus pamit sama bibik kamu," jawab Gibran lalu mendorong tubuh Khalilah masuk ke dalam rumahnya. " Kakak tunggu di teras."


Tidak terlalu lama Khalilah muncul kembali dengan mengenakan baju terusan selutut dan jaket kardigan sepinggang di temani bik Yati.


"Mau kemana kalian?," tanyanya sedikit khawatir melepas anak majikannya keluar.


Cuma mau ke mall dekat sini kok bik Yati. Bentar aja," jawab Gibran.


"Tapi hati-hatinya ya. Perginya biar diantar Pak Kasim aja, bibik takut kalau kalian naik taksi," ucap Bik Yati. Dan mau tidak mau Gibran mengangguk.


Sebuah mobil membawa keduanya ke sebuah mall besar dekat kompleks perumahan mereka. Dan Pak Kasim memutuskan menunggu mereka di parkiran dan Gibran maupun Khalilah tidak protes hanya mengangguk.


Memangnya kita ke sini buat apa sih kak?," tanya Khalilah saat mereka berjalan menyusuri pertokoan di mall tersebut sambil sesekali window shopping yang tidak jelas.


Pengen beli sesuatu," jawab Gibran yang memegang tangan Khalilah memasuki sebuah toko perhiasan dengan brand yang cukup ternama. Gibran tahu karena sekali pernah dia dia ajak ibunya guna membelikan dirinya hadiah kenaikan kelas berupa sebuah jam tangan limited yang juga ada di toko tersebut, setahun yang lalu.


Boleh Om bantu ?," tegur Manager toko tersebut tersenyum ramah. Begitulah karena dia tahu siapa Gibran. Coba kalau dia tidak tahu belum tentu pelayanannya seperti itu. Sarkas? Tapi faktanya begitu.


Saya butuh cincin couple," jawab Gibran santai tapi bisa membuat mata Manager toko tersebut terbelalak tak percaya.


Cincin couple? Untuk siapa ?," tanyanya walau tidak terlalu yakin.


Kami," jawab Gibran singkat." Om, punya ?," tanyanya.


Pria dewasa tersebut mengangguk lalu membimbing keduanya ke konter etalase berisi aneka macam jenis cincin pasangan.


11 Untuk saat ini kami tidak punya yang ukuran kecil tapi jika sudah ketemu kami bisa mengecilkannya sesuai ukuran tangan kalian.


Gibran mengangguk lalu mulai melihat semua cincin terpajang. yang


"Suka yang mana dek ?," tanya Gibran.

__ADS_1


Kakak punya uang untuk membelinya ?," tanya Khalilah sedikit ragu karena bagaimana mungkin Gibran bisa mempunyai banyak uang untuk membeli cincin-cincin tersebut.


Kamu pilih saja, ga perlu khawatir," jawab Gibran lalu menepuk sayang puncak kepala Khalilah.


Ini aja ya, kelihatannya sederhana," tunjuk Khalilah pada sepasang cincin platinum polos di depannya.


"Yang ini ?," tunjuk Gibran dan Khalilah mengangguk. Kenapa bukan yang ini ?," tunjuk Gibran pada sepasang cincin perak bertahta berlian kecil tapi Khalilah menggeleng. "


Khalilah lebih suka ini," kata Khalilah kembali menunjuk cincin yang tadi dia pilih sementara Manager toko tersebut hanya tersenyum kagum akan pilihan cincin yang Khalilah pilih. Memang sederhana tapi cincin tersebut terbuat dari titanium yang kuat dan dilapisi emas putih terbaik. Sederhana namun elegan.


Om tolong cincin yang ini ya?," tanya Gibran dan pria tersebut lalu menarik kotak cincin tersebut dan membawanya keluar dari lemari etalase yang di lapisi bludru biru.


Sepasang cincin ini


harganya tiga belas juta," jawab Pria tersebut sedikit ragu menyebutkan harganya.


Beneran adik mau yang ini ?," tanya Gibran lagi dan Khalilah sedikit ragu saat mendengar harganya.


"Mahal lho kak," ucapnya tapi Gibran menggeleng.


Kakak tanya beneran ini yang adik mau ?," tanya cincin Gibran mengulang pertanyaannya.


Walau ada keraguan Khalilah menganggukkan kepalanya.


Saya ambil cincin ini, Om. Apakah kami bisa mengukir nama di cincinnya ?," tanya Gibran dan laki-laki tersebut mengangguk karena memang mereka mempunyai alat untuk itu. "Apakah bisa kami tunggu ?," tanya Gibran.


Cuma sebentar kok," jawab pria tersebut.


"Tolong cincin yang gede tulis nama Khalilah dan yang kecil dengan nama Gibran," pinta Gibran yang lalu di catat oleh pria tersebut pada sebuah notes kecil.


Gibran menyodorkan kartu ATMnya dan hal itu kembali membuat pria tersebut terkejut mengetahui bocah di depannya membayar dengan kartu debit bukan kartu kredit seperti yabg biasa pelanggan mereka gunakan saat berbelanja di toko mereka.


"Mari ikut saya ke kasir," ajaknya sambil berjalan menuju meja kasir dengan membawa.

__ADS_1


__ADS_2