
Sesaat kemudian Howard melepaskan ciuman dan tangannya, ia menjauhkan posisinya dari Lessy.
"Jangan melakukan itu! kita belum menikah," ujar Howard.
"Tapi asal kita saling mencintai, aku rasa tidak ada masalah," jawab Lessy.
"Sebelum menikah kita harus jaga jarak, jangan lewat batas!"
"Howard, untuk zaman sekarang sudah wajar kalau pasangan kekasih melakukan hubungan ini, untuk apa kamu keberatan?"
"Bagiku ini tidak wajar, aku hanya akan melakukan saat status kita adalah suami istri," jawab Howard yang melangkah pergi.
"Kau ingin ke mana? sarapan akan tiba sebentar lagi!"
"Aku tidak ingin makan," jawab Howard yang membuka pintu dan meninggalkan kamar itu.
Lessy lagi-lagi merasakan kekecewaan saat pria itu meninggalkan dia begitu saja.
"Dia pasti pergi menjumpai wanita itu lagi," gerutu Lessy yang menyusul langkah kekasihnya.
"Howard, tunggu aku! kamu ingin pergi ke mana?" tanya Lessy yang mengejar pria itu.
"Aku ingin pulang!"
"Tolong antar aku pulang!" pinta Lessy.
"Hm...," jawab Howard yang berjalan menuju ke mobilnya.
Siang hari.
Vinvin sedang menunggu Howard di salah satu warung makan di pinggir jalan. ia menyantap makanannya dengan begitu lahap tanpa menunggu sahabatnya itu untuk makan bersama.
Setelah beberapa menit kemudian sebuah mobil mewah berhenti di depan warung. seorang pria turun dari mobilnya yang tak lain adalah Howard ia menghampiri vinvin yang sedang menyantap makanannya.
"Kau makan dan tidak menungguku, sangat tidak punya hati," gerutu Howard.
"Kalau aku menunggumu aku akan mati kelaparan," jawab Vinvin.
"Hei, apakah kamu begitu lapar? kamu tidak makan sudah berapa hari?" tanya Howard.
"Aku hanya ingin makan, kenapa kamu tidak pesan makanan?"
"Bukankah aku mengatakan bertemu di restoran, kenapa malah memilih warung sini?"
__ADS_1
"Aku lebih suka dengan makanan pinggir jalan, sesuai dengan seleraku," jawab Vinvin yang makan dengan begitu lahap.
"Iya sudah, terserahmu saja! tadi kamu mengatakan ada yang ingin dibicarakan, apa itu?"
"Besok aku akan pulang ke desa," jawab Vinvin sambil meneguk minuman.
"Pulang ke desa? kenapa tiba-tiba saja?"
"Sudah lama aku di sini, aku ingin pulang ke sana karena aku merindukan tempat itu."
"Berapa lama?"
"Belum tahu! aku mungkin akan tinggal lebih lama di sana, karena aku ingin menikmati udara segar di desaku."
"Aku akan mengantarmu!"
"Tidak perlu! aku sudah membeli tiket, besok akan berangkat pukul 10 pagi!"
"Kenapa setelah kamu rencanakan, baru memberitahu aku?"
"Apa salahnya?"
"Tidak ada salah, aku bisa mengantarmu!"
"Terserahmu saja! jangan lupa hubungi aku kalau butuh bantuan atau apa saja!"ujar Howard.
"Iya, aku tahu! apakah kamu yakin tidak ingin makan?"
"Aku tidak lapar," jawab Howard yang melihat sekitaran tempat itu.
"Kelihatannya kamu tidak selera dengan tempat ini, bukan? aku melihat matamu sudah tahu," kata Vinvin.
"Aku hanya kenyang, dan tidak bisa makan," jawab Howard dengan alasan.
"Padahal hari ini aku berniat ingin mentraktirmu makan sebelum aku berangkat," ucap Vinvin.
"Tunggu saja kau pulang, baru kita makan di warung mie kemarin itu!"
"Masalahnya aku tidak akan pulang lagi, memang level orang kaya beda dengan level orang miskin seperti aku. aku bisa makan di mana saja asalkan murah dan bisa mengenyangkan perut. sedangkan dia mau makan saja masih melihat tempat," batin Vinvin.
"Aku akan mengantarmu ke terminal!"
"Kalau kamu tidak sibuk tidak apa-apa!"
__ADS_1
"Hei, apa kamu yakin desa tidak mengalami masalah?"
"Tidak! kenapa?"
"Tidak ada apa-apa! kalau memang terjadi sesuatu jangan diam saja dan ingat memberitahu aku!"
"Aku mengerti! tenang saja! di desaku semua warga sana sangat ramah. kamu tidak perlu khawatir!"
"Ada lagi! bulan depan adalah hari pernikahanku, kau harus hadir!" ucap Howard yang mengejutkan sahabatnya.
"Akhirnya dirimu yang sudah tua ini akan menikah, ke depannya hidupmu pasti akan lebih bahagia, benar bukan?" tanya Vinvin dengan senyum paksa.
"Jangan bercanda!" jawab Howard.
"Selamat untukmu! berbahagialah dengan gadis pilihanmu! dia adalah masa depanmua dan wanita yang akan melahirkan anak-anak untukmu. jadi, hargai dia!" ucap Vinvin dengan senyum.
"Aku tahu, aku akan menghargai dia, dan pernikahan ini," jawab Howard yang bangkit dari tempat duduknya.
"Apa kau sudah ingin pergi?"
"Iya, aku harus ke perusahaan, aku akan mengantarmu sekalian!"
"Aku masih ingin makan sepuasku, kamu pergi saja dulu," jawab Vinvin yang sambil memesan makanan lagi.
"Bibi, pesan nasi dan ayam lagi!" teriak Vinvin pada penjual itu.
"Kau sangat kuat makan," ujar Howard.
"Kalau tidak kenyang aku tidak tinggalkan warung ini, cepat pergi sana jangan mengangguku sedang makan," kata Vinvin.
"Baiklah, sampai jumpa besok!" ucap Howard yang beranjak dari kursinya dan menuju ke mobil.
Vinvin hanya memaksakan dirinya untuk tersenyum di saat sahabatnya itu di depannya.
"Selamat bahagia, sahabatku! sudah waktunya aku pergi dari hidupmu. persahabatan ini akan terjalin selamanya. di mana pun aku berada kau tetap sahabatku. mungkin di saat kau sudah menikah jarak kita akan semakin jauh. aku tidak akan bisa melihat dengan mataku sendiri kalau kamu menikah dengan wanita lain. lebih baik aku pergi dan tidak akan kembali lagi," batin Vinvin.
Air mata menetes ke dalam nasi putih yang di mangkok itu, gadis itu menelan butiran nasi dengan secara paksa.
"Kenapa hambar nasi ini," gumam Vinvin yang mengunyah sambil mengeluarkan air mata.
"Kenapa sakit sekali hatiku?" ucap Vinvin.
"Dia hanya menikah, bukan masalah besar, lagi pula ini akan terjadi kapanpun, seharusnya tidak heran lagi. mereka sudah pacaran begitu lama memang sudah saatnya menikah. kenapa aku tidak bisa menerimanya. ternyata begitu sakit di saat dia akan menikahi wanita lain," batin Vinvin.
__ADS_1
"Tanpa dia aku juga bisa hidup, sedangkan keluarga saja bisa terpisah, apa lagi teman. kenapa aku harus merasa keberatan?setelah tinggalkan tempat ini maka semua akan mulai dari awal," gumam Vinvin.