
"Mari kita lihat bagian dalam, kalau ada yang kurang kita bisa memberitahu mereka!" ajak Howard melepaskan pelukannya.
"Iya," jawab Lessy dengan senyum.
Di sisi lain Vinvin sedang menanam sayur-sayuran di tanah samping rumahnya, selama seminggu di sana ia bekerja keras menanam apa saja yang dia butuhkan untuk bertahan hidup.
Selain Vinvin yang menanam padi dan sayuran, seluruh warga desa juga tidak mampu sama sekali untuk membeli kebutuhan mereka. desa yang mereka tempati sangat terpencil dan hanya bisa mengandalkan hasil tanaman untuk bertahan hidup selama ini.
Siang terik panas matahari tidak membuat gadis itu berhenti, ia masih sedang menanam beberapa jenis sayuran.
"Aku harus cepat, agar bisa membayar paman dan bibi tetangga," batin Vinvin.
"Kehidupan desa lebih sulit dibandingkan dengan di kota, kalau di kota bekerja masih bisa menghasilkan uang, sedangkan di sini pinjam beras dan sayur harus dibayar dengan barang yang sama. ingin membeli sesuatu juga tidak ada jualan. ada uang juga tidak ada guna. desa aneh...sudah berapa tahun aku tinggalkan tempat ini masih saja tidak ada kemajuan," gerutu Vinvin.
"Perutku lapar sekali, hufff...semua yang ku tanam masih belum ada hasil, dalam seminggu aku sudah banyak berhutang beras dan sayur dengan paman dan bibi itu. lebih baik aku masak dulu," gumam Vinvin.
Vinvin melangkah masuk ke dalam rumah papannya dan menuju ke dapur. rumah yang dia tempati sangat sempit. hanya ada ruang depan yang langsung tembus ke belakang.
Ia mengambil panci dan memasukan sayur yang sudah dipotong kecil-kecil. kemudian ia pun mencuci sayur itu. setelah selesai mencuci ia pun merebus sayur tersebut.
Tidak lama kemudian ia pun mengisi perutnya hanya dengan sayur yang dia rebus, tanpa mencampur bahan penyedap.
Gadis itu sambil meniup panasnya sayur itu, semangkok sayur sawi tanpa bahan apapun. lalu ia memasukan ke dalam mulutnya. mengunyah sayur yang tanpa rasa untuk mengenyangkan perutnya.
"Hufff...masa bodoh dengan bahan dapur, tanpa bahan juga bisa dimakan. yang penting bisa kenyang saja!" ucap Vinvin.
Setelah tinggal di desa Vinvin mengalami banyak kesulitan kebutuhan pokok, tidak bisa membeli apapun di desa karena tidak ada yang berjualan, ia hanya bisa makan bubur yang dimasak dengan begitu cair demi hemat beras. atau rebus sayur untuk makan hari-harinya. semua makanan itu ia harus meminjam dari tetangga dan akan membayarnya setelah tanamannya membuahkan hasil.
Di saat Vinvin hanya makan sayur rebus yang tawar tanpa nasi, Howard dan calon istrinya sedang menikmati makanan teak daging di restoran mewah.
"Howard, dagingnya sangat enak dan lembut, apakah kamu bisa sering membawaku ke sini?" tanya Lessy.
__ADS_1
"Tentu saja bisa!" jawab Howard dengan senyum.
"Setelah selesai makan aku akan mengantarmu pulang!" ujar Howard yang sambil memotong steak.
"Masih awal, kamu ingin ke mana?"
"Aku masih ada urusan di kantor, aku harus periksa sebagian pekerjaan yang ku tinggalkan hari ini."
"Baiklah, tapi kamu jangan kemalaman juga," jawab Lessy.
"Aku akan pulang setelah selesai," jawab Howard.
Setelah satu jam kemudian Howard mengantar Lessy pulang ke rumah, sesudah itu dirinya mengendarai mobilnya dengan raut wajah yang tidak gembira sama sekali.
"Kenapa perasaanku sangat ragu, bukankah ini adalah kebahagiaanku? lalu kenapa aku malah ragu dari awal hingga sekarang," batin Howard.
"Tidak tahu kapan gadis ceroboh itu pulang, sudah seminggu masih saja tidak ada kabarnya. apakah desa itu sangat pendalaman sehingga tidak bisa masuk jaringan? apa dia baik-baik saja?" ucap Howard yang menarik dasinya hingga terlepas.
Tidak lama kemudian mobilnya berhenti di suatu tempat yang tak lain adalah tempat tinggal sahabatnnya. Howard keluar dari mobil dan menuju ke rumah sederhana itu dan kemudian membuka kunci pintunya. selama ini ia memang memiliki kunci cadangan rumah sahabatnya itu.
Howard yang melangkah masuk ia menutup pintunya kembali, kemudian ia menyalakan lampu dan melihat sekitaran dalam rumah itu. ia membayangkan sahabatnya yang sedang tersenyum padanya. kerinduan masih saja dirasakan oleh dirinya, sehingga ia sering melihat bayang-bayang sahabatnya itu.
"Howard, kelihatannya tanpa gadis itu kau sangat tersiksa, seperti kehilangan saja," ucap Howard yang melangkah ke kamar gadis itu dan menyalakan lampu.
Ia duduk di kasur dan diam sejenak, terlihat sangat kosong rumah itu yang tanpa kehadiran gadis itu.
"Bagaimana aku bisa tahu kabarnya kalau jaringannya saja tidak ada," gumam Howard.
Howar duduk di sepanjang malam sambil mengingat sahabat yang dia rindukan selama ini. terlalu banyak kenangan diantara mereka berdua sehingga membuat pria itu sangat merindukan Vinvin yang ceria dan selalu menyenangkan dirinya.
"Ternyata begitu berat rasanya di saat dia tidak ada di sini, sangat tidak biasa," gumam Howard.
__ADS_1
Pandangan pria itu kemudian beralih ke laci meja itu yang terbuka sedikit. ia melihat box hitam yang ada di dalam sana. kemudian dirinya membuka laci tersebut dan mengambil benda yang dia lihat itu.
"Jam tangan," ucap Howard yang membuka penutup box dan melihat jam tangan yang dibeli oleh Vinvin sebelumnya.
"Kenapa bisa ada jam tangan pria di sini? apakah dia yang beli dan untuk siapa?"
Howard berpikir sejenak saat melihat jam tangan itu karena merasa penasaran, selama ini gadis itu hanya memiliki seorang teman pria yang adalah dirinya sendiri.
"Apakah dia ada teman pria lainnya?"
" Vinvin, apakah kau sedang putus cinta, oleh sebab itu kau memilih pergi dari sini?"
Perdesaan.
Vinvin duduk di depan rumah sambil memandang bulan purnama yang menerangi desa itu, suasana di malam hari gelap gulita hanya mengunakan minyak lampu di setiap rumah warga.
Gadis itu mengeluarkan air mata karena merindukan pria yang dia cintai dan akan menikahi wanita lain tidak lama lagi.
"Kamu pasti bahagia di sana, sebagai teman baikmu, aku akan selalu mendoakanmu. walau kondisiku sangat sulit di sini. cinta tidak seharusnya memiliki. kebahagiaan sebenarnya adalah melihat orang yang kita cintai hidup bahagia itu sudah lebih dari cukup," ucap Vinvin sambil memandang bulan.
"Howard, kita tidak berjodoh, aku akan tinggal di desa yang penuh penderitaan ini untuk selamanya. walau aku hanya bisa makan bubur dan sayur rebus aku juga tidak menyesal. asalkan aku tidak menganggu hubunganmu dengan Lessy. semua ini sangat memadai," batin Vinvin.
Gadis itu menangis karena mengingat kenangan saat bersama Howard, tentu sangat sakit baginya karena harus kehilangan pria yang dia cintai selama bertahun-tahun lamanya yang akan menikah dengan wanita pujaannya.
"Howard, selama ini karena tidak ingin merusakan persahabatan kita, aku memilih memendamkan perasaanku. dan aku sakit hati setiap melihatmu bersama Lessy. hati ini sudah lama menangis. walau sesakit apapun asal kau bahagia itu sudah cukup bagiku," tangisan Vinvin.
Tangisan gadis itu akhirnya pecah setelah bertahan selama bertahun-tahun. hatinya yang rapuh telah terluka sejak lama dan hanya menahannya selama ini. malam itu ia menangis dengan begitu histeris selama beberapa menit.
Ia lebih memilih hidup menderita di desa yang tidak memiliki apapun demi menjauh dari sahabatnya itu. semua ucapan Lessy telah membuatnya terpaksa meninggalkan kota yang sudah menjadi tujuan hidupnya.
Keesokan harinya.
__ADS_1
Vinvin yang berada di kamar sedang menghitung uangnya yang sisa tidak seberapa, ia hanya bisa mengerut dahi melihat jumlah uangnya hanya sisa beberapa dollar.
"Bagaimana caranya aku bisa menghasilkan uang di sini? kalau aku pergi ke tempat lain harus ada biaya juga," ucap Vinvin.