Cinta Yang Tanpa Sadar

Cinta Yang Tanpa Sadar
Meluahkan Perasaan


__ADS_3

Howard yang telah mengenakan kemeja ia berdiri di depan cermin di ruang gantinya.


"Ambil dasiku!" perintah pada Howard.


"Iya," jawab Vinvin yang membuka kaca lemari dan melihat begitu banyak dasi yang digantung di sana.


"Warna apa?" tanya Vinvin yang binggung.


"Aku sedang mengenakan kemeja berwarna coklat, ambil saja warna apa menurutmu yang sesuai untukku," jawab Howard.


Vinvin kemudian mengambil salah satu dasi dan memberikan kepada atasannya itu.


"Ini," ucap Vinvin.


"Apa kamu yakin warna kemejaku sesuai dengan warna pink polka?" tanya Howard yang melirik tajam pada sahabatnya itu.


"Jangan menyuruh aku memilih warna, karena aku tidak bisa," jawab Vinvin.


"Pakai saja kalau kamu mau, kalau tidak mau tidak usah," kata Vinvin.


"Sebagai asisten lebih galak dari atasanmu, Vinvin, kau sangat luar biasa, ambil warna hitam polka untukku. jangan yang aneh-aneh!" perintah Howard.


"Cerewet," gumam Vinvin.


Vinvin kemudian mengambil dasi sesuai pilihan atasannya.

__ADS_1


"Kalau tidak suka dengan warna dasi pink polka kenapa kau membelinya? aneh sekali."


"Bukan aku yang membelinya, tapi papaku. dia sering membeli warna yang aneh-aneh," jawab Howard.


"Paman sangat modern, sementara dirimu sangat ketinggalan zaman," ujar Vinvin yang memberikan dasi itu kepada Howard.


"Pakaikan untukku!"


"Aku tidak bisa memasang dasi!"


"Kau bekerja di butik tapi tidak tahu cara pasang dasi?"


"Kerja di butik bukan berarti bisa pasang dasi," ketus Vinvin.


"Aku akan mengajarmu cara memasangnya, ikut caraku!"


Di saat Vinvin sedang belajar memasang dasi, pria itu menatapnya tanpa beralih. sementara Vinvin hanya fokus pada tugasnya


"Kenapa sulit sekali," gerutu Vinvin.


"Kalau menjadi asistenku, kau harus pelajari semuanya!"


"Tidak ada lagi yang harus ku pelajari selain memasang dasi ini!"


"Siapa yang mengatakan tidak ada, kau harus belajar menjadi pengantin wanita," ujar Howard.

__ADS_1


"Untuk apa aku belajar menjadi pengantin wanita?" tanya Vinvin hanya fokus pada dasi yang dia pasang itu.


"Menjadi asisten pribadiku harus menjadi pengantin wanitaku," jawab Howard dengan senyum.


"Ucapanmu tidak masuk akal sama sekali, itu namanya menjadi istri bukan asisten."


"Apa kau sudi menikah denganmu?" tanya Howard membuat Vinvin menghentikan tangannya yang tadi sedang sibuk utak atik dasinya.


"Apa yang kau katakan? jangan bercanda, tidak lucu!" kata Vinvin yang ingin keluar dari ruangan ganti itu akan tetapi langkah dihentikan oleh Howard.


"Aku tidak bercanda," ujar Howard yang menarik pinggang gadis itu dan kemudian memeluknya sehingga membuat Vinvin kebingungan.


"Kita sudah bersama dan menjadi sahabat baik, tapi aku sangat bodoh karena tidak sadar dengan perasaan sendiri. sehingga menjalin hubungan dengan Lessy. dan kemudian aku baru menyadari aku mencintaimu. setelah kamu pulang ke desa aku merasa sangat kehilangan," kata Howard.


"Kau...mencintaiku?" tanya Vinvin yang hampir tidak percaya dengan ucapan sahabatnya.


"Iya, aku mencintaimu, Vinvin. apakah kita bisa mengubah hubungan kita?" tanya Howard yang melepaskan pelukannya.


"Mengubah hubungan kita menjadi apa?"


"Aku tidak ingin menjadi sahabatmu lagi atau sebaliknya, aku ingin menjadi kekasihmu dan suamimu," jawab Howard yang ingin mencium bibir Vinvin akan tetapi gadis itu langsung menghindar


"Apa kamu sadar apa yang kamu katakan?"


"Sadar, aku tidak mabuk dan aku sangat sadar, aku ingin menjadikanmu sebagai pasangan hidupku. teman hidupku untuk selamanya," ucap Howard yang mencium bibir gadis itu.

__ADS_1


"Em... Howard, aku adalah Vinvin bukan wanita lain, kamu harus sadar apa yang kamu katakan!" ujar Vinvin yang melepaskan ciumannya.


"Aku sadar, gadis yang di depan mataku adalah orang yang paling aku cintai. perasaan ini sudah lama tersimpan sehingga aku tidak menyadarinya. dan setelah aku sadar aku tidak ingin kehilangan lagi. Vinvin, tinggallah di sisiku untuk selamanya. dari sahabat menjadi pasangan sehidup semati. apa kamu sudi?"


__ADS_2