
"Aku tidak ingin kamu ganti rugi, aku hanya ingin kamu menikah denganku," jawab Lessy.
"Pernikahan yang tanpa cinta, tidak akan bahagia," ucap Howard.
"Jangan lupa kamu yang melamarku, dan sekarang kamu mengatakan tidak cinta," kata Lessy yang tidak bisa menerima.
"Lessy, semua kejadian ini aku yang salah dari awal, aku mengira selama ini aku mencintaimu dan aku tetap melamarmu walau terkadang aku ragu dengan perasaan sendiri. sementara aku juga menyakiti Vinvin. karena hubungan kita dia memilih tinggal di sebuah desa yang tidak layak ditempati dan tidak ada masa depan. semua berawal dari kesalahanku," ujar Howard.
"Kau ragu denganku selama ini?" tanya Lessy yang mengeluarkan air matanya.
"Bukan ragu denganmu, tapi ragu dengan perasaanku sendiri, mana mungkin aku bisa bahagia setelah kita menikah ketika perasaan ku hampa saat bersamamu. mana mungkin aku bisa tertawa di saat dia di sana sedang hidup dalam kesulitan demi kebahagiaanku," kata Howard.
"Kita masih bisa mulai dari awal, Howard. jangan pernah tinggalkan aku, aku hanya ingin hidup bersamamu," ucap Lessy.
"Sean, kalau saja pernikahan mereka dibatalkan, maka aku akan membatalkan kontrak kerja sama kita," kecam Shane.
"Sebuah pernikahan bukan bisnis, semua ini tergantung pada perasaan Howard, siapa yang dia pilih maka aku hanya mendukungnya," jawab Sean.
"Pa, aku akan membawa Vinvin tinggal bersama kita!" ujar Howard.
"Lakukan saja yang mana menurutmu yang paling pantas," jawab Sean.
"Kalian sama saja ingin mempermalukan keluarga kami," bentak Shane.
"Aku hanya melakukan sesuatu yang seharusnya," jawab Howard.
"Aku tidak akan diam saja, kalau kau membatalkan pernikahan kita," kecam Lessy
"Terserahmu! apapun yang terjadi aku tetap tidak akan menikahimu," jawab Howard.
"Dirimu akan menyesal," ujar Lessy.
"Howard, aku ingin kamu bertanggung jawab atas semua yang terjadi, kartu undangan sudah disebarkan dan sekarang kau membatalkan pernikahan ini. ini sama saja telah memalukan keluarga kami," bentak Shane.
"Aku akan bertanggung jawab sepenuhnya, jangan cemas!" jawab Howard.
"Pa, aku harus pergi sekarang!" ucap Howard.
__ADS_1
"Pergilah cepat dan bawa dia pulang," jawab Sean.
"Terima kasih, Pa," jawab Howard yang kemudian
melangkah pergi.
"Howard, jangan pergi! kalau kau pergi aku akan membencimu selamanya...," teriak Lessy yang mengejar langkah Howard yang menuju ke mobilnya.
Howard mengabaikan wanita itu yang sedang memanggil namanya.
"Howard, aku beri kamu kesempatan untuk menikahiku, keluar dari mobil sekarang juga," bentak Lessy yang mengetuk kaca mobil.
"Howard...," teriakan Lessy.
"Howard...."
"Howard...."
Howard menghidupkan mesin mobilnya dan pergi begitu saja, ia tidak peduli walau wanita itu sedang mengejar dari belakang.
"Howard...jangan pergi...," tangisan Lessy yang masih mengejar mobil itu yang telah berjalan jauh.
"Howard...."
Brugh...
Saat terjatuh ia menangis dengan histeris, impiannya yang ingin menjadi istri pria itu kini telah sirna.
"Apa salahku kalau menyuruhnya pergi? aku adalah calon istrimu dan wajar kalau aku cemburu, kenapa kamu masih memilih dia," tangisan Lessy dalam posisi terlungkup di tengah jalan itu.
Keesokan harinya.
Howard melakukan perjalanan selama beberapa jam menuju ke desa tempat tinggal sahabatnya itu. sepanjang malam ia tidak berhenti untuk istirahat sama sekali. karena dirinya sudah tidak sabar ingin bertemu dengan gadis itu.
Howard telah memasuki wilayah terpencil yang sepi dan hanya terlihat beberapa rumah yang sudah kumuh di sederetan pinggir jalan kecil sana. lalu Howard menuju ke daerah tempat tinggal sahabatnya yang masih terbilang jauh jaraknya.
Di sisi lain Vinvin yang baru bangun pagi, ia mandi dan cuci muka. setelah selesai ia pun mulai melakukan aktivitasnya adalah menanam sayur dan juga menyiram air. setelah tinggal di desa ia tidak pernah sarapan pagi lagi karena memang tidak ada yang bisa dimakan. untuk makan siang dan malam saja ia hanya bisa makan sedikit karena kekurangan makanan. hasil sayur yang dia tanam hanya tidak seberapa.
__ADS_1
Selain untuk mengisi perut sendiri, ia juga harus mengembalikan kepada tetangga yang dia pinjam sebelumnya.
"Selamat pagi pada burung-burung yang berterbangan di udara, kalian hidup begitu bebas bisa terbang tinggi dan ke mana saja. sedangkan aku tidak bisa ke mana-mana. hanya bisa menunggu ajal saja kalau tinggal di desa ini," ucap Vinvin yang memandang ke langit.
Vinvin kemudian pun mulai menanam sayuran, dan menyiram air pada tanaman yang sudah mulai membuahkan hasil.
"Sayurnya masih kecil, apa yang ku harus makan siang ini? sudah tiga minggu aku tidak bisa makan dengan kenyang," gumam Vinvin.
Tidak lama kemudian Howard berjalan menuju ke tempat tinggal Vinvin, mobilnya hanya bisa parkir di depan jalan sana. dan berjalan kaki sejauh ratusan meter ke dalam.
Rumah Vinvin terletak di ujung dan paling jauh dari jalan perdesaan itu.
"Sepanjang jalan begitu sepi, dan hanya beberapa orang saja yang tinggal sini, tempat ini sangat tidak layak ditempati," ucap Howard yang sambil berjalan menuju ke rumah sahabatnya.
Setelah berjalan hampir setengah jam Howard melihat seorang gadis sedang mencangkul tanah di samping rumahnya yang diujung sana.
Karena masih jauh jaraknya, Howard pun berjalan dan sambil memperhatikan apakah gadis yang dia lihat adalah sehabatnya.
Setelah memastikan gadis itu, ia melihat dengan berdiri di pohon kelapa yang tidak jauh dari posisi Vinvin.
Terlihat sangat berantakan penampilan gadis itu, bola mata pria itu terlihat berkaca-kaca saat ia melihat perubahan sahabatnya.
Tidak seperti dulu, Vinvin adalah gadis yang berpenampilan rapi walau hanya pakaian kasual. akan tetapi kini ia kelihatan lebih kurus, hitam, dan tanah pun berserakan di pakaiannya dan juga menempel di wajahnya. sungguh pemandangan yang menyakitkan bagi Howard yang melihat sahabatnya itu.
Gadis itu hanya fokus pada kerjanya, ia sama sekali tidak takut kotor dan tetap melakukan pekerjaannya.
Selama Vinvin sedang sibuk, Howard berdiri di sana melihat semua yang dilakukan oleh temannya itu.
"Apakah selama ini dia menjalani hidup seperti ini? di tempat terpencil yang tidak aman, rumahnya juga sudah kumuh dan bisa roboh kapanpun, dia juga sudah kurus. bagaimana dengan makan hari-harinya di sini? apakah bisa makan dengan kenyang?" batin Howard.
Dua jam kemudian.
Vinvin berdiri meluruskan badannya karena kewalahan.
"Sakit sekali pinggangku," gumam Vinvin yang duduk di atas tanah. ia sambil melihat hasil sayur yang dia tanam sendiri selama ini.
"Berapa banyak pun yang ditanam, tetap saja hanya bisa dimakan dan tidak bisa dijual," ucap Vinvin.
__ADS_1
"Hari ini sangat panas," gumam Vinvin yang mengelap wajahnya dengan baju lengan panjangnya sehingga membuat wajahnya semakin kotor.
Howard yang melihat kondisi gadis itu ia mengeluarkan air mata, hanya demi kebahagiaannya Vinvin rela memilih hidup kesulitan di desa yang tidak layak sama sekali ditempati.