
Howard membawa Vinvin ke kamar mandi yang bathubnya sudah terisi air sabun.
"Turunkan aku! aku bisa mandi sendiri," teriak Vinvin.
"Apa kau yakin tidak butuh bantuanku?" tanya Howard dengan sengaja.
"Tidak butuh! aku bukan anak kecil, cepat turunkan aku!" bentak Vinvin.
"Baiklah, kalau begitu kau lakukan saja sendiri," jawab Howard langsung melepaskan gadis itu ke dalam bathub.
Plung...
"Hei, apa yang kau lakukan? kenapa kau menghempaskan ku begitu saja, apa kamu tidak melihat airnya begitu penuh," bentak Vinvin yang basah disekujur tubuhnya.
"Apa perlu aku membuka bajumu dan membersihkan tubuhmu?" tanya Howard dengan sengaja mengusik temannya itu.
"Tidak perlu!" jawab Vinvin menutup tubuhnya dengan kedua tangannya.
"Ha ha ha...baiklah, cuci yang bersih dan setelah itu pilih pakaianmu yang ada di lemari!" ucap Howard yang melangkah keluar dari kamar mandi.
Setelah pria itu keluar Vinvin baru membuka kancing bajunya.
"Aku benar-benar berantakan sekali, paman saja sampai tidak mengenalku," ucap Vinvin yang melepaskan bajunya sehingga menampakkan bra yang menutupi bagian dadanya.
Klek.
"Apa tidak butuh bantuanku?" tanya Howard yang sengaja mengusik sahabatnya itu.
"Aaarrgghh...keluar...," teriak Vinvin dengan nada tinggi.
Klek...
"Ha ha ha...dia sangat pemalu," ucap Howard yang menutup kembali pintunya.
"Howard Ferlando, jangan coba-coba masuk ke dalam lagi, kalau tidak, aku akan mencabut nyawamu...," teriak Vinvin yang menembus keluar dari kamar mandi.
"Mandi yang bersih, kalau tidak aku yang memandikanmu," balas Howard dengan sengaja.
"Diam...," teriak Vinvin dengan kesal.
Howard yang membuat sahabatnya kesal, ia tertawa lucu dan gembira.
"Gadis yang menyenangkan, lihat saja mulai hari ini kau tidak akan bisa ke mana-mana lagi," ucap Howard yang berdiri di luar kamar mandi.
Sementara Sean yang masih berada di ruang tamu bersama Rei mendengar teriakan gadis itu.
__ADS_1
"Tuan besar, apa yang terjadi di dalam sana?"
"Bocah itu pasti sedang mengusiknya."
"Mereka sangat serasi, andaikan bisa menikah pasti sangat seru."
"Itu pasti akan terjadi suatu saat nanti," kata Sean dengan tersenyum.
Setelah satu jam kemudian Vinvin keluar dari kamar mandi, ia hanya membalut handuk pada tubuhnya. saat ia melangkah keluar ia masih melihat sana sini dan memastikan apakah Howard masih berada di dalam kamarnya.
"Dia sudah pergi rupanya," gumam Vinvin yang kemudian berjalan menuju ke lemarinya, ia kemudian membuka dua pintu lemari itu dan membulatkan mata besarnya.
"Ke-kenapa begitu banyak pakaian wanita?" tanya Vinvin.
"Semuanya sangat bagus, bahannya sangat licin dan dingin, ini benar-benar bahan yang berkualitas. apakah semua ini untukku? kenapa begitu banyak dress? kenapa tidak ada celana jeans?" ucap Vinvin dengan heran. karena tidak biasa baginya ketika mengenakan dress.
"Lebih baik aku pilih baju tidur saja!"
"Hah...kenapa piyamanya sependek lutut? apakah dia masih waras kalau menyediakan pakaian ini untukku?" ketus Vinvin.
"Besok aku akan cari jalan keluar dari rumah ini," gumam Vinvin. ia lalu mengambil piyama yang satu set kimono itu lalu memakainya.
Setelah selesai berpakaian terlihat cukup seksi dan terlihat belahan dadanya.
"Pakaian begini sangat jelek sekali, kenapa dia bisa menyiapkan pakaian ini untukku? apakah sebelumnya dia menyediakan untuk Lessy ya? karena tidak jadi menikah oleh sebab itu dia ingin aku yang memakainya?"
Vinvin yang kesal langsung keluar dari kamarnya, ia mencari kamar sahabatnya. ia membuka satu persatu kamar yang ada di sana.
Klek.
"Howard, kamu ada di mana?" panggil Vinvin yang melangkah masuk ke dalam salah satu kamar yang mewah dan luas. di dalam kamar itu terdapat sofa dan juga televisi. dari kamar itu bisa melihat pemandangan semua bangunan di dalam kota.
"Indah sekali!" gumam Vinvin yang berdiri dekat kaca besar itu.
Tidak lama kemudian Howard berdiri di belakangnya, pria itu melihat sahabatnya yang mengenakan piyama ia tersenyum dan mengamatinya dari belakang gadis itu.
"Apakah kamu begitu merindukanku, sehingga datang ke kamarku?" tanya Howard dengan mengusik sahabatnya itu.
"Aku sedang mencarimu, kenapa pakaian di dalam lemari itu begitu terbuka dan sangat jelek?" tanya Vinvin dengan nada kesal.
Howard melihat gadis itu dari atas hingga ke bawah, penampilan gadis itu sangat menarik perhatiannya. terlihat belahan dada serta kakinya yang mulus.
"Apa yang kamu lihat?" tanya Vinvin.
"Ternyata...," ucap Howard yang melihat belahan dada gadis itu.
__ADS_1
"Ternyata apa?"
"Ternyata kamu adalah wanita," jawab Howard dengan senyum.
"Apa maksudmu?" tanya Vinvin.
"Selama ini kamu seperti pria karena datar, tapi setelah berpakaian seperti ini kamu kelihatan sangat seksi dan memiliki dada yang cukup besar," jawab Howard yang sengaja mengoda sahabatnya.
"Apakah kamu tidak waras?kenapa tiba-tiba bicara seperti itu," bentak Vinvin.
"Apakah kamu tidak melihat dadamu cukup besar?" tanya Howard yang melihat ke arah bagian dada sahabatnya sehingga membuat gadis itu kesal dan menutupnya dengan kimono yang dibiarkan terbuka dari tadi.
"Sejak kapan kamu menjadi mesum," bentak Vinvin dengan kesal.
"Kamu yang datang mencariku, dan kenapa kamu harus marah?"
"Kamu tidak masuk akal sama sekali," bentak Vinvin dengan kesal.
"Katakan padaku, semua pakaian yang ada di lemari itu milik siapa?" tanya Vinvin.
"Milikmu," jawab Howard yang berjalan ke sofa dan duduk dengan menyandarkan diri.
"Milikku? jangan berbohong padaku! aku tahu pakaian itu kamu belikan untuk Lessy, karena kalian batal nikah
makanya kamu berikan padaku," ucap Vinvin.
"Kenapa kamu berpikir seperti itu?"
"Karena pakaian yang terbuka seperti itu bukan tipeku, tapi tipe calon istrimu, aku tidak akan mengunakannya. pakaian itu tidak cocok denganku," jawab Vinvin.
"Pakaian itu bukan aku sediakan untuk dia, tapi untukmu. aku hanya ingin mengubah penampilanmu seperti seorang gadis," ujar Howard dengan senyum.
"Apakah aku harus berterima kasih padamu?"
"Bisa saja kalau kamu mau."
"Aku tidak perlu berubah! aku tidak suka mengenakan pakaian yang terbuka ataupun dress pendek, kalau kau suka kau saja yang pakai," jawab Vinvin.
"Semua pakaian itu sangat mahal, apakah kamu tidak suka?"
"Suka apanya? pakaian itu tidak cocok untukku. Howard Ferlando, kamu sangat mengecewakan. kita sudah lama kenal tapi kau masih saja tidak memahamiku," ketus Vinvin.
Howard kemudian bangkit dan berdiri di hadapan gadis itu.
"Vinvin, mana mungkin aku tidak memahamimu, dirimu adalah sahabatku yang paling penting. oleh sebab itu aku ingin kamu selalu di sisiku. dan mulai hari ini aku ingin kamu selalu tinggal di sini dan jangan jauh-jauh dariku," ucap Howard.
__ADS_1