
Keesokan harinya.
Howard dan Vinvin telah sampai ke terminal, Howard menemani sahabatnya menunggu bus yang akan berangkat.
"Cepat kembali ke perusahaanmu, aku bisa sendiri di sini!" ujar Vinvin.
"Aku temani kamu sebentar! jangan lupa hubungi aku kalau butuh sesuatu!" jawab Howard.
"Tenang saja! ada lagi yang ingin ku katakan, di desaku tidak ada jaringan. jadi aku tidak bisa menghubungimu," kata Vinvin.
"Kenapa kau bisa tinggal di desa yang terpencil, bahkan jaringan saja tidak ada. kalau terjadi sesuatu tidak ada yang tahu."
"Apa yang kamu katakan? desa pasti berada di tempat yang terpencil, mana mungkin berada di tengah kota."
"Lalu, bagaimana aku bisa menghubungimu?"
"Untuk apa kau menghubungiku? aku kan baik-baik saja didesaku, di sana banyak warga yang baik denganku. dan mungkin saja bila aku mendapatkan jodoh aku akan langsung menikah di sana saja," jawab Vinvin.
"Jangan berharap kau bisa menikah tanpa mengundangku," ucap Howard yang menyentil dahi sahabatnya.
"Kau sangat aneh, saat menikah yang paling penting adalah pengantin pria yang harus hadir," ucap Vinvin.
"Jangan bicara sembarangan!" ucap Howard.
"Waktunya sudah tiba, aku harus naik dulu, kamu pergi saja jangan menungguku. nanti kamu tidak akan tega kalau aku pergi," ujar Vinvin dengan bercanda.
"Siapa yang tidak tega kalau kamu pergi, kau terlalu banyak berpikir," jawab Howard.
"Iya, aku tahu, yang penting calon kakak iparku jangan pergi saja," kata Vinvin dengan mengusik sahabatnya itu.
"Kalau mau pergi, pergi saja! untuk apa banyak bicara!" ketus Howard.
"Baiklah, sampai jumpa," jawab Vinvin yang naik ke dalam bus.
Howard masih melihat sahabatnya yang akan berangkat sebentar lagi. terasa berat di hatinya karena akan berpisah dengan gadis itu.
"Kenapa kamu masih di sini? cepat kembali ke perusahaanmu!" ucap Vinvin yang membuka kaca jendela.
"Jangan mengurusku! urus saja dirimu sana!" jawab Howard.
"Iya, iya, dasar tuan muda sombong," balas Vinvin yang menahan air mata.
__ADS_1
Tidak lama kemudian bus pun mulai jalan, saat mulai berangkat Vinvin tidak berani memandang sahabatnya itu, sementara Howard masih berdiri di sana melihat kepergian bus itu dengan hati yang berat.
Vinvin melihat memandang ke belakang dan menetes air matanya.
"Howard, maaf aku membohongimu, aku tidak akan pulang lagi. aku menahan air mata dari tadi dan berpura-pura senyum denganmu. selamat tinggal sahabatku. berhagialah bersama dia!" batin Vinvin.
Vinvin menangis dengan terisak saat melihat pria yang dia cintai dari jarak yang semakin jauh. Howard masih berdiri di terminal dan melihat bus yang membawa Vinvin pulang ke desanya.
"Hanya pulang sebentar, kenapa aku malah merasa berat, ada apa denganku? bukankah sudah biasa kalau seseorang harus pulang ke tempat kelahirannya saat waktunya tiba. lagi pula tidak lama lagi dia akan kembali ke sini," gumam Howard.
Setelah bus itu tidak terlihat lagi, Howard baru meninggalkan terminal, ia mengendarai mobilnya dan ke arah lain.
Dalam perjalanan Howard mengingat semua kenangannya bersama gadis itu, banyak kenangan indah dan canda tawa terjadi di antara mereka berdua.
"Aku sudah gila, kenapa malah merindukan masa-masa lalu, gadis ceroboh itu memang sangat lucu dan menyenangkan. aku harus bisa membiasakan diri tanpa dia," batin Howard.
Malam hari.
Howard telah kembali ke rumahnya, di saat yang sama Sean sedang menyantap makan malam.
"Pa," sapa Howard yang menghampiri ayahnya.
"Iya, Pa," jawab Howard yang duduk di kursi.
"Bagaimana, apakah gadis itu sudah pergi?"
"Sudah!"
"Sudah lama dia tidak pulang, dia pasti sangat merindukan kampungnya."
"Benar, tapi yang tidak menyenangkan adalah selama dia di sana, aku tidak bisa tahu bagaimana dengan kabarnya," ujar Howard.
"Apakah kamu khawatir?" tanya Sean
"Dia sangat gegabah, aku hanya cemas dia terluka saja, lagi pula di desa sangat jauh dari kota. kalau ada apa-apa dia harus bisa mengatasinya sendiri!"
"Ha ha ha...Howard...Howard...kamu ini...sangat khawatir dengan Vinvin, kenapa kamu tidak menikahi dia saja?" tanya Sean yang sengaja mengusik putranya.
"Pa, aku dan dia hanya sahabat baik saja!"
"Kalau memang hanya sahabat saja, papa ada rencana yang bagus buat dia," kata Sean.
__ADS_1
"Rencana apa?" tanya Howard.
"Setelah dia pulang nanti, papa ingin menjodohkan dia dengan Wilson," jawab Sean.
"Kenapa papa tiba-tiba ingin melakukan hal itu? ini sudah zaman apa, kenapa masih ada perjodohan lagi," kata Howard yang tidak gembira tanpa sebab.
"Kenapa kamu tidak setuju? tidak mungkin kamu ingin Vinvin hidup sendirian selamanya, dia adalah anak gadis dan butuh seseorang yang bisa melindunginya. jadi tidak salah kalau dia harus menikah suatu saat nanti," ucap Sean.
"Apakah papa yakin kalau Wilson adalah pria yang baik?"
"Dia baik dan tampan, papa yakin Vinvin akan hidup bahagia kalau menikah dengannya," jawab Sean dengan sengaja.
"Kita tunggu saja dia pulang baru kita bahas," ujar Howard.
"Anak ini...sampai sekarang masih saja tidak sadar dengan perasaan sendiri. lihat saja nanti papa akan membuatmu menyadari perasaan sendiri sebelum pernikahanmu," batin Sean.
Seminggu kemudian.
Howard disibukan dengan urusan bisnisnya dan juga persiapan untuk pernikahannya. menjelang hari besarnya ia dan calon istrinya sedang mengenakan pakaian pengantin dan mengambil foto prewedding. terlihat sangat tampan dan cantik pasangan calon pengantin itu.
Lessy sangat bahagia dan tersenyum selama memotret foto pernikahan mereka.
Setelah beberapa saat kemudian mereka pun menuju ke restoran yang di mana acara pesta pernikahan akan diadakan.
"Howard, aku tidak sabar menunggu di hari itu," ujar Lessy.
"Tidak lama lagi, hanya sisa tiga minggu kita akan menjadi suami istri," jawab Howard.
"Akhirnya impianku menjadi istrimu terkabulkan," ujar Lessy.
"Apakah kamu bahagia?" tanya Howard yang menyentuh wajah calon istrinya itu.
"Tentu saja bahagia, menjadi istrimu adalah impian terbesarku," jawab Lessy yang memeluk calon suaminya itu.
Mereka saling berpelukan selama beberapa menit dengan penuh senyum bahagia.
"Howard, berjanjilah padaku akan setia selamanya!"
"Aku berjanji padamu tidak akan meninggalkanmu," ucap Howard yang memeluk calon istrinya.
"Aku percaya padamu!" jawab Lessy.
__ADS_1