
"Apa kamu tidak berlebihan? dua belas orang anak," ujar Howard.
"Jangan salah! keluargamu begitu kaya tentu saja butuh banyak penerus, sementara kau adalah anak tunggal. jadi, tanggung jawab sudah di tanganmu. lagi pula kamu tidak perlu melahirkan. untuk apa kamu takut," jawab Vinvin.
"Habiskan buburmu, jangan banyak bicara!" ucap Howard.
Setelah beberapa saat kemudian.
Setelah selesai makan Howard mencuci mangkok dan gelas yang mereka gunakan tadi, ia juga memanaskan bubur yang dia beli lebih satu untuk makan malam sahabatnya itu.
Sudah tidak heran jika pria itu keluar masuk di rumah Vinvin.
Tidak lama kemudian Howard siap mengerjakan bagian dapur dan kemudian ia melihat gadis itu yang telah tertidur di sofa.
"Gadis ini...tidak tidur semalaman pasti sangat mengantuk," gumam Howard yang mengendong sahabatnya menuju ke kamar.
Howard menidurkan Vinvin ke atas kasur dengan perlahan. kemudian ia menarik selimut dan menutupi tubuhnya gadis itu.
Howard tersenyum saat melihat gadis itu yang tidur begitu pulas.
"Selamat mimpi indah, gadis nakal!" ucap Howard yang tidak lama kemudian beranjak dari kamarnya.
Setelah Howard meninggalkan tempat tinggal sahabatnya, ia langsung menuju ke kantor polisi. malam itu Howard menemui Detektif Fando.
"Dua preman itu sekarang telah dikurung, yang satu patah lengan dan satu lagi matanya buta," ujar Detektif Fando pada Howard. mereka berada di dalam kantor dan tidak ada yang mendengar pembicaraan mereka.
"Mereka berasal dari mana?" tanya Howard.
"Mereka adalah pengangguran, dan kerjaan mereka hanya meminta uang dan menganggu orang yang berjualan di pinggir jalan."
"Tuan Ferlando, saat itu nona Vinvin tidak ingin anak buahku menghubungi Anda."
"Urus mereka berdua dengan baik, kurungkan mereka bersama dengan empat preman itu. aku ingin mereka saling bunuh di dalam penjara!" pinta Howard.
"Tuan Ferlando, tapi...."
"Apakah kamu berani menolak? Anda adalah atasan mereka, asalkan kamu memberi perintah, mereka tidak akan bertanya dan tidak akan berani melawan!"
"Kalau sampai terjadi saling bunuh ini adalah masalah bagi kami semua."
"Kalau kamu menolak maka kamu akan segera pindah ke jalan, kamu akan kembali ke tempat asalmu," kecam Howard yang bangkit dari tempat duduknya dan kemudian meninggalkan kantor Detektif.
__ADS_1
"Orang berkuasa memang selalu bertindak seenaknya," gumam Detektif Fando.
Mansion Ferlando.
"Seharian kamu menghilang, tidak berada di perusahaan dan tidak ada yang tahu kamu di mana, apakah kamu begitu putus asa karena putus cinta," ujar Sean yang sedang bermain bola billiar di salah satu ruang kediaman mewahnya.
"Aku mengantar Vinvin ke rumah sakit, dia terluka saat aku meninggalkan dia semalam. dia diserang oleh dua preman yang bertubuh besar," jelas Howard yang menuangkan minuman anggur merah ke gelas beningnya.
"Apakah dia baik-baik saja sekarang?"
"Gusinya infeksi sehingga tidak bisa tidur semalaman," jawab Howard.
"Dia pasti bertarung dengan mereka, untung saja dia bisa sedikit ilmu bela diri. jika tidak maka dia akan terluka lebih parah," ujar Sean.
"Pesan pembantu kita memasak sop walet untuknya! gadis itu hanya hidup sendirian, dia butuh perawatan tubuh juga," kata Sean.
Howard tersenyum saat melihat ayahnya yang perhatian pada sahabatnya itu.
"Kenapa kamu tersenyum?" tanya Sean sambil bermain dengan hobinya.
"Apakah papa benar-benar menganggapnya sebagai putri sendiri?" tanya Howard dengan senyum.
"Apakah kamu setuju kalau saja papa menjadikan dia sebagai putri papa dan menjadi adikmu?"
"Dia akan menjadi adikmu setelah papa mengangkat dia sebagai putriku. dan mungkin saja kalian menjadi saudara dan bukan hanya sekadar sahabat lagi."
"Kalau si nakal itu tinggal di sini aku akan lebih tenang, dia sangat pemberani sehingga aku agak khawatir ketika dia tinggal sendirian di luar," jawab Howard.
"Kamu boleh sampaikan niat papa ke dia, bawa dia pulang dan tinggal bersama kita. dan kamu bertanggung jawab mengajar dia menjalani bisnis kita. dan setelah dia sudah menguasai ilmu bisnis. dia akan membantumu," ucap Sean.
"Dengan senang hati aku akan sampaikan kepada dia!" jawab Howard dengan senyum dan menghabiskan minumannya.
"Bagaimana dengan Lessy, apakah kamu tidak takut kalau dia cemburu?"
"Untuk apa aku harus takut padanya? dia belum menjadi istriku. kalau saja dia cemburu dengan hubunganku dan Vinvin maka dia tidak layak menjadi istriku."
"Kamu benar-benar sangat melindungi Vinvin dari pada kekasihmu sendiri."
"Pa, aku dan Vinvin sudah lama kenal, dia adalah gadis yang menyenangkan. sedangkan Lessy selalu saja membuatku tidak gembira. dia sama sekali tidak dewasa," kata Howard.
"Papa mengerti maksudmu, pergilah istirahat dan jangan lupa sampaikan pesan papa pada dia!"
__ADS_1
"Baik, Pa. sudah malam, cepat istirahat!"
"Minggu depan adalah ulang tahunmu, kali ini kamu ingin merayakan di mana?"
"Di restoran saja! cukup kita saja yang pergi dan teman-temanku," jawab Howard.
"Pesan restoran hidangkan makanan yang paling enak dan paling mahal, jangan sampai temanmu tidak makan kenyang," ucap Sean.
"Pa, selama ini mereka selalu makan dengan kenyang dan puas," kata Howard dengan senyum dan melangkah keluar menuju ke kamarnya.
"Memang bocah yang tidak sadar dengan perasaan sendiri, kalau saja gadis itu tinggal di sini, mungkin saja Howard akan menyadari perasaannya," gumam Sean.
Mansion Keluarga Lessy
Di malam itu Lessy berada di kamarnya sambil melihat handphonenya, harapannya adalah pria yang dia rindukan itu akan menghubunginya.
"Dia pasti tidak akan menghubungiku, aku tidak boleh diam dan hanya menunggu, aku harus bertindak dulu agar bisa mengambil hatinya. ulang tahunnya sudah dekat. saat itu Vinvin pasti akan hadir. aku harus menemui gadis itu," ucap Lessy.
Keesokan harinya.
Howard mengantar sop walet atas perintah ayahnya ke rumah Vinvin.
"Ini sop apa?" tanya Vinvin yang melihat isi mangkok itu.
"Papaku yang memintaku antarkan sop walet untukmu," jawab Howard yang duduk di samping.
"Walet sangat mahal, hanya untuk satu kilo saja aku butuh kerja selama setengah tahun baru terkumpul," ujar Vinvin.
"Habiskan! kalau tidak cukup di rumahku masih banyak. kau bebas mau minum kapanpun!"
"Rasanya enak, pantas saja harganya selangit," kata Vinvin..
"Ini baik untuk kesehatanmu, kau tidak gemuk-gemuk dari dulu, apakah kesehatanmu adalah masalah?" tanya Howard.
"Jangan bicara sembarangan! aku tidak sakit dan sehat-sehat saja!"
"Papa ingin aku sampaikan padamu, dia ingin kamu tinggal di rumah kami," kata Howard yang membuat gadis itu terkejut.
"Uhuk...uhuk...," suara batuk Vinvin yang keselek minumannya.
"Kenapa kamu minum dengan terburu-buru, tidak ada yang rebut denganmu," ujar Howard yang mengelus punggung sahabatnya.
__ADS_1
"Apa yang kamu katakan?" tanya Vinvin.