
Howard masih berdiri dibalik pohon dengan melihat temannya itu. gadis itu sedang mencabut sawi yang masih kecil untuk dijadikan makan siang.
"Hah...lumayan, bisa untuk isi perut," ucap Vinvin yang bangkit dan berjalan memasuki rumahnya.
"Apakah hanya sayur itu makan siangnya?" gumam Howard yang berjalan keliling rumah kecil itu sambil melihat sekitaran sana yang ada hanya rumput-rumput yang tinggi. kemudian Howard menghentikan langkahnya saat melihat gadis itu yang sedang mencuci sayur di dapur.
Vinvin menghidupkan api dari kayu bakar, dan kemudian meletakkan panci yang sudah diisi air dan juga sawi. ia merebus sayur itu untuk mengisi perutnya.
"Apakah hanya sayur itu yang menjadi makan hari-harinya," batin Howard.
Howard memperhatikan dapur kecil itu yang hanya ada meja kayu dan panci yang sudah lama, serta piring dan mangkok yang letak di atas meja. dapurnya tidak ada bahan lainnya seperti, minyak, gula, kopi, atau bahan masak lainnya.
Setelah beberapa menit kemudian Vinvin memadamkan api yang dia bakar itu. ia kemudian mengambil mengkok dan mengunakan garpu untuk mengangkat sawi yang hanya satu batang ukuran kecil dan letakan ke dalam mangkok. kemudian ia juga menuangkan sop sayur itu ke dalam mangkok tersebut.
Sayur yang direbus tanpa bahan apapun akan dia makan di saat itu juga. Howard yang melihat gadis itu hanya makan sayur rebus, hatinya merasa sakit dan sedih yang mendalam. begitu penting kebahagiannya bagi Vinvin sehingga rela hidup melarat di desa terpencil tersebut.
"Gadis bodoh, seharusnya dirimu hidup senang di kota, tapi kau malah mengorbankan hidupmu hanya demi kebahagiaanku," batin Howard.
Howard mengeluarkan sapu tangan dan mengusap air matanya.
Vinvin yang selesai makan sayur itu, kemudian ia pun keluar dari dapur dan melanjutkan kerjanya.
"Kayu sudah mau habis, lebih baik aku pergi kumpul dulu," ucap Vinvin yang mengambil kapak dan tali menuju ke hutan yang tidak jauh di samping rumahnya.
Howard mengikuti dari belakang sambil melihat sahabatnya itu.
Vinvin sama sekali tidak menyadari bahwa pria yang dia cintai sedang mengamatinya dari jarak jauh.
Gadis itu mengunakan kapak menebang salah satu pohon yang di dalam hutan sana.
Prak...
Prak...
Prak...
"Apakah ini adalah kehidupan yang kamu inginkan?" tanya Howard yang melangkah menghampiri gadis itu.
Mendengar suara yang tidak asing baginya, Vinvin menoleh ke arah suara itu berada.
Saat melihat sahabatnya,Vinvin hampir tidak percaya bahwa Howard akan muncul di sana.
"Kenapa kamu ada di sini?" tanya Vinvin dengan heran.
"Seharusnya aku yang bertanya padamu, apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Howard.
"Di sini adalah tempat tinggalku, oleh sebab itu aku di sini. tapi kamu kenapa bisa muncul di sini?"
Howard menghampiri Vinvin dan kemudian mengangkat tubuh gadis itu ke pundaknya.
"Hei...hei...apa yang kau lakukan...ha?cepat turunkan aku," pinta Vinvin yang dibawa pergi.
"Ikut pulang! sudah saatnya kau tinggalkan tempat ini," kata Howard.
"Pu-pulang ke mana? rumahku di sini."
__ADS_1
"Rumah yang hampir roboh, dan tempat yang sepi dan hanya terlihat beberapa rumah. mana mungkin aman ditempati," ucap Howard yang berjalan menuju ke mobil.
"Ini adalah tempat kelahiranku, apa salahnya aku tinggal di sini, aku tidak mau pergi. aku masih mau tinggal di sini. cepat turunkan aku!"
"Diam dan jangan banyak bicara,"ujar Howard yang memasukan gadis itu ke dalam mobil.
"Pakaianku masih ada di sana, kau tidak bisa seenakmu membawaku pergi begitu saja," kata Vinvin yang berada di dalam mobil.
Howard langsung memasangkan Safety belt pada sahabatnya dan kemudian menutup pintu mobil dan menguncinya dari luar sehingga gadis itu tidak bisa keluar.
"Apa maksudmu melakukan ini?" tanya Vinvin.
"Duduk diam dan kita akan pulang," jawab Howard yang masuk ke dalam mobilnya.
"Pulang ke mana? rumahku ada di sini," tanya Vinvin.
"Pulang ke rumahku!" jawab Howard yang menghidupkan mesinnya.
"Untuk apa aku ke sana? itu bukan rumahku!"
"Sudah! jangan banyak bicara!" jawab Howard yang menjalankan mobilnya.
"Rumahku tidak dikunci dan kau bawa aku pergi begitu saja, lalu, bagaimana dengan pakaianku?"
"Mengenai pakaian hal yang sangat mudah, kau tidak perlu khawatir!" ujar Howard.
"Bukankah tinggal beberapa hari kau akan menikah? kenapa kau malah datang jauh-jauh ke sini hanya karena ingin aku hadir?"
"Aku dan dia sudah putus."
"Tidak akan lagi! karena aku yang membatalkan pernikahan ini," jawab Howard.
"Kenapa kamu melakukan ini?" tanya Vinvin.
"Kami tidak ada kecocokan sama sekali, oleh sebab itu pisah saja."
"Kapan kamu putuskan dia? pernikahan kalian sisa beberapa hari saja."
"Semalam aku putuskan dia," jawab Howard sambil menyetir.
"Aku sudah mengerti, ternyata kedatanganmu ke sini adalah ingin aku menghiburmu yang sedang putus cinta ini," kata Vinvin dengan mengejek.
"Apakah aku kelihatannya sangat putus cinta?" tanya Howard agak sedikit kesal.
"Biasa orang yang putus cinta pasti sangat butuh seseorang untuk menenangkannya, apakah kamu butuh bantuanku untuk menghiburmu?"
"Tidak butuh! aku tidak putus cinta sama sekali. aku hanya melakukan sesuatu yang seharusnya," jawab Howard.
"Ternyata begitu, lalu untuk apa kau datang menjemputku?"
"Apakah kamu tidak berencana untuk pulang?"
"Tidak! aku nyaman di sini, untuk apa aku pulang!"
"Nyaman? hanya makan sayur yang direbus dan tanpa listrik, tempat tidak aman dan dekat hutan. kau masih merasa nyaman?"
__ADS_1
"Setidaknya itu rumahku, kenapa kamu bisa tahu aku makan sayur rebus? apakah kamu sudah lama di sini?"
"Dari pagi aku sudah sampai, kau sangat sibuk dengan aktivitasmu sehingga tidak sadar kalau aku sedang memantaumu."
"Kamu tidak ada kerjaan," ucap Vinvin.
Malam hari.
Setelah tiba di depan kediaman mewah itu, Howard langsung menarik tangan Vinvin melangkah masuk ke dalam.
"Pa, aku sudah pulang," panggil Howard yang menuju ke ruang tamu.
"Kau sudah pu--" sahut Sean yang terpotong karena melihat gadis yang wajahnya hitam dan dikotori oleh asap dan juga tanah yang membuat Sean tidak mengenalnya.
"Siapa dia?" tanya Sean yang kebingunan.
"Dia adalah Vinvin," jawab Howard.
"Paman, ini aku adalah Vinvin," sapanya dengan hormat.
"Vinvin? Howard, apakah kamu yakin dia adalah Vinvin yang kau kenal?" tanya Sean yang bangkit dan melihat penampilan gadis itu dari atas hingga ke bawah. rambut gadis itu juga berantakan serta pakaiannya juga kotor dan terkena asap.
"Pa, dia memang Vinvin."
"Paman, aku tinggal di desa, oleh sebab itu aku menjadi hitam dan agak kotor," ucap Vinvin.
"Ternyata begitu, Vinvin, kamu juga kurus, apakah kamu baik-baik saja?" tanya Sean
"Aku baik-baik saja, Paman. terima kasih."
"Maafkan aku, Paman. karena Howard langsung membawaku ke sini dalam keadaan berantakan ini, aku tidak sempat membersihkan diri," kata Vinvin.
"Pa, aku ingin membersihkan badan dia dulu," ujar Howard.
"Apa...?" teriak Vinvin yang terkejut dengan ucapan temannya itu.
"Pergila, cuci badannya sampai bersih dan ganti pakaiannya," jawab Sean dengan menahan tawa.
"Cu-cuci ba-badanku?" tanya Vinvin.
"Iya cuci badanmu sampai bersih," kata Howard yang mengangkat tubuh gadis itu ke pundaknya dan menuju ke lantai dua.
"Tidak! aku tidak mau! turunkan aku! aku bisa mandi sendiri," teriak Vinvin.
"Paman, tolong aku...Paman...."
"Ha ha ha...sudah, tidak apa-apa, biarkan Howard yang memandikanmu," ucap Sean dengan tertawa.
"Tidak perlu! ini namanya pemaksaan, pelecehan, penculikan. aku akan menuntut kalian. aku bersumpah aku akan menuntut kalian berdua," teriak Vinvin.
"Ha ha ha ha...ada gadis itu, rumah ini akan semakin ramai dan seru," ucap Sean dengan gembira.
"Tuan besar, benar. nona ini sangat lucu. lihatlah penampilan dia tadi," jawab Rei dengan senyum..
"Ha ha ha...baru kali ini aku melihat seorang gadis yang berantakan," kata Sean.
__ADS_1