
...~Love Me My Lord Duke~...
...~oOo0oOo~...
Aku mengetuk pintu ruang kerja Carxen beberapa kali sampai akhirnya suara dingin menyahut dari dalam, "Masuklah," pungkas Carxen.
Aku memutar kenop pintu kemudian mendorong pintu ke belakang. Lalu aku segera melenggang masuk ke dalam. Terlihat Carxen sedang duduk di kursi kerjanya sembari membaca beberapa lembar dokumen di tangannya.
'Harus aku akui, dia memang sangat tampan di lihat dari sisi manapun.'
Aku berdiri tepat di depan meja kerja Carxen. Dia masih mempertahankan posisi kakinya yang disilangkan. Lalu tatapan dingin pria di hadapan ku ini beralih memandangku seraya menaruh dokumen di atas meja kerjanya.
Aku menarik kursi di hadapan meja kerja Carxen dan langsung mendudukkan bokong ku di sana, seraya berusaha menghindari kontak mata dengannya.
Carxen menaruh kacamata yang dia pakai ke meja, aku melirik wajah Carxen dengan hati-hati.
"Apa kamu pernah belajar mengelola keuangan?" tanya Carxen.
'Mengelola keuangan? Aku tidak suka hitung menghitung.'
"Sama sekali belum pernah. Aku tidak pernah belajar mengurus keuangan, atau hal yang berkaitan dengan itu," kataku sembari terus memperhatikan kacamata Carxen di atas meja.
Carxen mengambil kacamatanya dan memakainya lagi, entah itu untuk menarik perhatianku atau bukan, yang pasti aku segera mengalihkan pandanganku dan menatapnya.
"Mulai besok Alfonso akan mengajarimu cara mengelola keuangan. Sebagai seorang Duchess, tugasmu adalah mengurus keuangan dikediaman ini. Dan untuk sementara waktu biar Alfonso yang akan menggantikan tugas mu," jelas Carxen, tak ingin melepaskan pandangannya dariku.
Aku ingin mengatakan kalau aku tidak mungkin bisa mengurus keuangan, tapi karena dia bilang itu adalah tanggung jawab ku, aku jadi tidak bisa menepisnya. Pada akhirnya mau tidak mau aku harus tetap mengemban tanggung jawab itu.
__ADS_1
"Baiklah. Terima kasih atas perhatian Anda, Tuan Duke."
Entah apa yang salah dengan perkataan ku, seketika raut wajah Carxen berubah, keningnya menjadi mengkerut, tatapannya menjadi dingin dan tajam.
'Kenapa? Ada apa? Apa aku melakukan kesalahan?'
"Sampai kapan kau akan memanggilku seperti itu?"
'Memanggilnya seperti itu? Apa maksudnya?'
"...Maksud Anda, panggilan Tuan Duke?" tanyaku dengan hati-hati.
"Viellen Von Callisto," pungkas Carxen, perkataannya penuh penekanan, suaranya terdengar kesal.
Aku sedikit tersentak, dan langsung menatap mata Carxen, "Ya? Tuan Duke...?"
"Tuan Duke?..." kata Carxen penuh penekanan, "Apa kamu ingin menjadi pelayan ku?" pungkasnya, pedas.
Aku tidak bisa menyembunyikan kerutan di kening ku karena merasa kesal, "Maaf, apa maksud perkataan Anda barusan?"
"Callisto adalah nama belakang mu sekarang. Jangan lupakan bahwa kamu sudah menikah denganku, meski itu karena terpaksa," tegas Carxen yang diakhiri dengan nada penekanan di akhir kalimat.
Ucapan Carxen benar-benar membuatku tersinggung dan tersulut emosi.
"Aku tidak akan pernah lupa, dan aku sangat sadar bahwa aku adalah istrimu mulai dari sekarang. Kenapa tiba-tiba Anda menegaskan soal posisi ku dirumah ini?"
Carxen nampak menghela nafas pelan, dia bahkan mengambil jeda sejenak, "Panggil saja nama ku, saat hanya ada kita berdua," ucapnya pelan, sembari mengalihkan pandanganya dariku.
'Jadi intinya dia merasa kesal hanya karena aku memanggilnya, Tuan Duke? Apa tadi matahari benar-benar terbit dari barat? Sepertinya aku harus bertanya kepada Ivone soal itu.'
__ADS_1
"Baiklah. Aku akan berusaha mengingat itu," pungkas ku, sembari menatap kebawah, ke arah pergelangan tanganku yang menunjukkan angka 49.
"Dan sebaiknya Anda juga melakukan hal yang sama." Aku beralih menatap Carxen dengan tegas, "Panggil saja nama ku, saat hanya ada kita berdua."
"Viellen," panggilnya dengan suara yang pelan.
DEG!
Mendengar Carxen yang tiba-tiba menyebut namaku, membuat ku langsung tersentak.
'Aku tidak berharap dia akan mengatakannya sekarang, itu diluar dugaan ku.'
"...Y-Ya? Ada apa?" tanyaku tergagap dan salah tingkah.
"Silahkan keluar," pungkas Carxen.
'Apa efek sampanye semalam sudah hilang? Kenapa tiba-tiba dia mengusirku. Pria ini benar-benar tidak bisa diprediksi.'
Aku segera mengangkat tubuhku dari kursi empuk dibawah sana dan menatap Carxen, "Kalau begitu aku permisi dulu."
Aku segera berbalik badan dan melenggang menuju ke pintu. Langkah ku terhenti ketika aku akan memutar kenop pintu.
"Bisakah kita makan malam bersama? Ada yang ingin aku bicarakan..." tanyaku, memberanikan diri.
"Aku sibuk," jawab Carxen dengan cepat.
'Sudah aku duga. Sepertinya memang tidak ada kesempatan untukku mendekatimu.'
Aku tersenyum lirih mendengar itu, "Begitu rupanya... Maaf sudah mengganggu waktu Anda, Tuan Duke," kata ku dengan penekanan di akhir kalimat, lalu aku segera melenggang keluar dan menutup pintu cukup kuat, berusaha menahan perasaan ku yang membuncah.
__ADS_1