Cintai Aku Tuan Duke

Cintai Aku Tuan Duke
Bab 21.Mengapa Kau Datang


__ADS_3

...~Love Me My Lord Duke~...


Ku ambil topengku yang sudah tergeletak di lantai panggung dan langsung melenggang pergi menuruni anak tangga dibelakang.


Kyle mendekati ku. Ku tatap wajahnya sesaat sebelum akhirnya ku paling kan wajahku.


"Nona Viola!" panggilnya.


Tangannya yang dingin menggapai pergelangan tanganku, dan membuatku menghentikan langkahku.


"Tuan Kyle, tolong jangan seperti ini," tegas ku. Tetap membelakanginya tak ingin berbalik ke belakang.


"Tidak. Ada yang ingin saya katakan kepada Nona Viola," ungkapnya.


Kyle lalu memberikan remasan ringan, seolah sedang memberikanku peringatan.


"Katakan dengan cepat, setelah itu biarkan saya pergi," pungkas ku, sembari menoleh perlahan ke arah Kyle.


Kyle menghindari pandangan ku, "Besok... Ada yang ingin saya katakan kepada Nona Viola," kata Kyle pelan.


"Nona pasti akan datangkan?" Kyle menatapku dengan tatapan tersirat yang sayu. Aku hanya terdiam menatapnya.


'Entahlah Kyle.'


"Nona Viola pasti akan menepati tawaran saya hingga akhir bukan?"


Aku mengalihkan pandanganku, dan segera menarik pergelangan tanganku dari tangan Kyle.


"Mari kita lihat saja besok, Tuan Ky-"

__ADS_1


"Bahkan jawaban Nona Viola tidak berubah seperti terkahir kali..." celetuknya, suaranya terdengar dalam dan rendah.


"Apa saya sudah tidak memiliki harapan lagi?"


Aku sedikit tersentak mendengar pertanyaannya.


'Sepertinya aku tahu akan mengarah kemana percakapan ini.'


Aku langsung meninggalkan Kyle tanpa kata-kata. Dia tidak berusaha menahan ku seperti di awal.


Jangan semakin menekan ku ke tepi jurang. Sekarang Carxen sudah mengetahuinya. Aku tidak bisa memastikan apakah besok aku masih bisa keluar atau tidak. Aku bahkan tidak tahu bagaimana harus menghadapi wajahnya.


'Aku sungguh tidak tahu harus bagaimana sekarang. Aku...'


BRAKK!


Seseorang menabrak pundak ku dengan keras, tubuhku tak kuasa berdiri seimbang sehingga menyebabkan tubuhku langsung tersungkur ke jalanan.


Aku menunduk menatap jalanan dengan tatapan kosong. Aku sungguh tidak ingin mengangkat kepalaku. Pertanyaan yang tak penting datang menghantui ku, membawaku semakin terjerat kedalam kubangan kehampaan. "Apakah orang-orang sedang memperhatikanku?" "Ataukah mereka mengabaikan ku? "Atau justru mereka tidak menyadari kehadiranku?"


Bahkan di dunia ini tidak ada yang benar-benar menginginkan ku, sama halnya seperti di kehidupan ku yang dulu.


Aku selalu ditinggalkan sendirian. Lagi dan lagi. Hal ini terus berulang. Tidak peduli dimana pun aku berada. Dibelahan dunia manapun aku berpijak, itu tetap takkan mengubah apa-apa.


Dari sekian banyak suara langkah kaki di sekeliling ku, suara langkah kaki yang berhenti tepat di belakangku mampu membuat ku tersentak.


"Bangun dari sana."


Nada suara yang tegas dan dalam itu, kini tak lagi membuat ku takut. Seolah aku telah menunggu-nunggu momen saat ini.

__ADS_1


Aku meremas jubahku dengan erat, menggigit bibirku hingga berdarah.


"Aku bilang bangun!" Carxen memegangi kedua bahuku, membuat ku berdiri dan membalikkan tubuhku ke arahnya.


Pelupuk mataku langsung dipenuhi oleh air mata, wajah Carxen tampak sangat terkejut.


Air mataku perlahan jatuh melewati pipiku. Carxen memegangi wajahku dengan tangannya dan mengusap air mataku dengan ibu jarinya. Terasa aneh namun hangat.


Sorot mata merah milik Carxen tampak sayu, tatapannya seakan memancarkan rasa sakit. Perlahan dan dengan lembut dia menggerakkan ibu jarinya ke bawah bibirku lalu mengusap darah di bibirku.


"Tu-Tuan Duke-!!"


Carxen lalu meraih pinggang ku, mendekatkan wajahnya ke wajahku dan menjilat bibir bawahku dengan lembut. Aku merintih pelan saat dia melakukan itu, "Nghn!"


'Apa yang sedang dia lakukan ditempat umum seperti ini?? Kenapa kamu terus-terusan membuat ku bingung dengan sikapmu?'


Carxen berhenti melakukannya lalu menatap mataku. Wajahnya tidak merona, tapi telinganya memerah. Aku mendorongnya perlahan sembari memalingkan wajahku berusaha menghindari tatapannya, karena merasa malu.


"Sedang apa Anda disini? Anda tidak marah?" tanyaku seraya melirik Carxen dengan hati-hati.


Carxen tak mengatakan apapun, dia malah menarik pergelangan tanganku.


Aku berusaha melepaskan pergelangan tanganku dari genggaman Carxen.


"Tu-Tuan Duke!"


Carxen menyuruhku masuk ke dalam kereta kuda berlambang elang yang kini sudah berada di hadapan ku. Pada akhirnya aku kembali ke kediaman Callisto bersama dengannya.


Di dalam kereta Carxen duduk di sebelah ku. Sejak tadi dia tidak mengatakan sepatah katapun. Carxen terus mengatupkan mulutnya seraya menopang wajahnya dengan tangan dan menatap keluar jendela.

__ADS_1


Di sepanjang perjalanan aku bertanya-tanya apa yang sedang dia pikirkan. Aku ingin meraih tangannya dan bertanya, tapi aku tidak memiliki keberanian sedikitpun.


__ADS_2