
...~Love Me My Lord Duke~...
...~oOo0oOo~...
Kali ini pun, aku berhasil masuk ke dalam kediaman Callisto diam-diam. Aku langsung melenggang pergi ke kamarku dan membangunkan Ivone, lalu bertukar pakaian dengannya.
"Hoammm~ Selamat malam Nyonya." Ivone melenggang keluar dari kamar ku dan langsung menutup pintu.
Aku duduk di pinggir tempat tidur merasakan tubuhku yang terasa pegal-pegal, "Aku sangat lelah. Sudah lama aku tidak merasa seperti ini."
Sebelum tidur aku melakukan beberapa perenggangan tubuh. Setelah itu aku membaringkan tubuhku perlahan di atas kasur lalu mengangkat kaki ku ke atas kasur dan menutup mataku, mencoba untuk tidur. Perlahan kesadaran ku semakin menghilang.
Entah apa yang terjadi. Aku merasa sangat gerah. Padahal aku sangat yakin sebelum tidur tadi aku tidak memakai selimut. Seluruh tubuhku terasa di tutupi selimut.
Aku terlalu mengantuk dan malas untuk membuka mata. Dalam keadaan setengah sadar dengan mata yang masih berat aku berusaha mengintip ke bawah.
Aku melihat seorang pria sedang duduk di pinggir kasur. Dia membelakangi ku jadi aku tidak bisa melihat wajahnya. Lagipula suasana disekitar gelap jadi aku tidak yakin apakah aku sedang bermimpi atau bukan. Entah siapa pria misterius tersebut. Aku menutup mataku kembali mencoba untuk tidur.
Ketika aku membuka mata ternyata matahari sudah terik. Ivone berulang kali menyuruhku segera beranjak dari kasur dan segera mandi, karena Alfonso akan memulai kelas denganku hari ini.
Aku segera bangun dan mandi. Ivone membantuku mengenakan gaun dan mendandani ku seperti biasanya. Setelah rutinitas pagi tersebut aku turun ke bawah untuk sarapan di ruangan makan.
Aku sarapan sendirian karena Carxen sudah lebih dulu sarapan sejak pagi tadi. Setelah sarapan yang tidak membutuhkan waktu lama, aku pergi ke perpustakaan bersama Alfonso untuk memulai kelas.
__ADS_1
Kelas dimulai dari pukul 9 lewat dan selesai pada pukul 4 sore Karena banyak hal yang harus dipelajari. Waktu istirahat ku hanya pada saat jam makan siang.
"Terima kasih untuk hari ini Nyonya," ucap Alfonso, begitu aku berdiri dari kursi.
Aku mengulum senyum kepada Alfonso, "Harusnya aku yang mengatakan itu. Lagipula Ini sudah menjadi tugas ku. Maaf merepotkan mu, Alfonso."
"Nyonya sama sekali tidak merepotkan saya. Saya bertanggung jawab mengurus keuangan keluarga Duke," ungkap Alfonso.
Berarti sejak awal tugas Alfonso memang mengurus keuangan kediaman Callisto. Begitu Carxen memiliki istri, tugas tersebut perlahan-lahan di serahkan kembali kepada nyonya rumah.
"Nyonya," panggil Alfonso.
Aku menoleh dan menatap mata abu-abu arang milik Alfonso, "Ya..." jawabku singkat.
"Anda pasti bertanya-tanya mengapa saya tidak datang kemarin."
Alfonso sedikit tersentak mendengar ucapan yang baru saja terlontar dari mulut ku. "Perlu Nyonya tahu, bahwa Tuan Duke lah yang meminta saya untuk menunda kelas..." Alfonso menggantungkan ucapannya, menunggu responku.
Aku mengerutkan kening, "Tuan Duke yang minta? Tapi kenapa?"
"Tuan Duke hanya mengatakan kalau kondisi Nyonya sedang tidak stabil pada saat itu."
Aku terdiam sambil mengalihkan pandangan ku. Aku memikirkan kembali perkataan Alfonso. Wajah Carxen langsung terbayang dalam benakku.
"Saya sangat yakin kalau Tuan Duke selalu mengkhawatirkan kondisi Nyonya," Alfonso menatapku dengan penuh keyakinan.
__ADS_1
'Carxen mengkhawatirkan ku? Apakah hal seperti itu mungkin terjadi?'
"Jika Nyonya ingin menemui Tuan Duke. Saat ini Tuan Duke sedang berada di tempat pelatihan bersama dengan para ksatria," cetus Alfonso.
Aku menatap Alfonso tanpa kata-kata. Yang ada dipikiran ku saat ini adalah Carxen.
'Bagaimana dia bisa tahu kalau aku sedang memikirkan pria itu?'
Aku tersenyum kecil kepada Alfonso sesaat sebelum aku pergi meninggalkan perpustakaan.
"Astaga, Nyonya hati-hati!" pungkas seorang pelayan wanita, ketika melihat ku berlari melewati nya.
Jika Carxen memang benar-benar mengkhawatirkan ku. Mungkinkah masih ada kesempatan untukku.
"Nyonya, jangan berlari di lorong!" seru pelayan lainnya yang tampak terkejut.
Kesempatan untuk membuat Carxen jatuh cinta kepada ku. Mungkinkah itu masih terbuka lebar.
Aku mengangkat gaunku sedikit ke atas. Aku tidak ingin menginjak gaunku, karena itu akan mengingatkan ku kembali dengan momen pertama kali bertemu Carxen. Momen yang tidak akan pernah aku lupakan, bahkan jika bertahun-tahun sudah berlalu.
Begitu aku menginjakkan kaki di tempat pelatihan para ksatria. Mata mereka seketika langsung tertuju kepada ku. Aku berusaha mengesampingkan rasa malu dan gugup ku.
Aku terus menatap punggung Carxen yang sedang berdiri di antara mereka. Punggung itu, punggung yang selalu ingin ku gapai meski rasa takut selalu lebih cepat menghampiriku membuat rasa takut seringkali menundukkan ku.
Menyadari ada sesuatu yang ganjil yang membuat fokus para ksatria pecah. Carxen segera menoleh ke belakang. Mata kami bertemu. Jantung ku berdegup kencang. Matanya sedikit melebar, dia benar-benar tidak bisa menutupi ekspresi kebingungan di wajahnya.
__ADS_1
Dibandingkan diperhatikan oleh para ksatria aku lebih gugup saat Carxen menatapku seperti saat ini.