
...~Love Me My Lord Duke~...
Saat waktu makan malam tiba, secara kebetulan aku berpapasan dengan Carxen di lorong menuju ruangan makan. Alhasil kami jadi makan berdua.
Suasana di atas meja makan sama seperti terakhir kali kami makan bersama, terasa canggung. Keheningan tercipta saat dua orang dalam satu ruangan membisu.
Setelah melalui makan malam yang terasa panjang itu. Kami berdua pergi ke festival. Tentu saja untuk berkencan.
"Tuan Duke..."
"Hm?" sahut Carxen, seraya menoleh ke arahku.
Ku raih tangannya yang tampak lebih besar dari bawah sana, "Tolong jangan lepaskan tanganku." Lalu aku tersenyum lembut kepada Carxen yang berdiri tepat disebelah kananku.
Sejak tadi Carxen terus memasang wajah temboknya. Aku bertanya-tanya mengapa dia tiba-tiba bersikap seperti ini. Mengapa disaat seperti ini dia menjadi begitu dingin.
Carxen menggenggam tanganku, lalu memalingkan wajah ke depan, "Perhatikan sekelilingmu, jangan sampai kau melepaskan tanganku." Setelah mengatakan itu dia melangkah ke depan sembari menarik tanganku.
Aku merasakan perasaan aneh yang tak pernah aku rasakan sebelumnya. Jantungku berdegup cepat, pandanganku tak ingin lepas dari sosoknya.
Entah sejak kapan hanya dengan menatap punggungnya seperti saat ini mampu membuatku tak ingin mengerjapkan mata karena takut, bagaimana kalau ini hanya sebatas mimpi.
Suasana di balai kota jauh lebih ramai di bandingkan kemarin, saking ramainya jalanan besar kini sudah dipenuhi oleh manusia.
Jalanan yang pertama kali kami lewati adalah tempat kedai Gavin berada.
BUKK!
Seseorang berjubah hitam menabrak ku, minuman ditangannya tumpah mengenai bajuku.
"Ma-Maaf Nona muda." Suaranya yang lemah terdengar seperti suara wanita yang rentan.
"Bukan masalah. Saya juga minta maaf karena tidak memperhatikan sekeliling." Aku langsung menundukkan kepala.
__ADS_1
"Terima kasih Nona muda... Uhuk! Uhuk!"
Wanita tua itu langsung pergi dengan terburu-buru.
Carxen melirik tajam ke arah wanita tua tersebut, entah apa yang sedang dia pikirkan.
"Mari kita lanjut saja jalan, Tuan Duke." Kata ku sambil menggandeng lengan Carxen, berusaha mengalihkan perhatiannya.
Aku lalu membawa Carxen ke kedai Shanon.
"Tuan Duke dan Nyonya Duchess," ucap Shanon begitu melihat kami berdua di depan kedainya.
Bagaimana dia bisa mengenali kami. Padahal kami sedang menyamar.
"Nyonya Duchess, mau lihat kain pesanan saya yang baru saja tiba siang tadi?"
Seperti biasanya Shanon selalu bersikap hangat dan tersenyum lembut kepadaku.
Dari dalam kedai aku terus memperhatikan ke arah Carxen dan Edwin yang tengah mengobrol serius.
Kira-kira apa yang sedang mereka bicarakan. Raut wajah Carxen terlihat buruk. Sementara Edwin tampak sedang memberikan informasi yang penting.
"Duchess!" panggil Shanon. Aku lekas menoleh ke arahnya, "Ya...?"
Shanon menatap lurus ke depan, ke arah Carxen dan Edwin. "Apakah Nyonya Duchess penasaran dengan apa yang sedang mereka bicarakan?"
"Ya?... Apa Nona Shanon mengetahui sesuatu?"
Shanon menatapku setelah menghela nafas pelan, "Kemungkinan besar itu mengenai wabah yang baru-baru ini menyerang orang-orang yang tinggal di daerah perbatasan wilayah Utara."
Wilayah Utara tidak terlalu jauh dari wilayah ini. Kenapa aku baru mengetahuinya sekarang?
"Wabah seperti apa itu?" tanyaku, serius.
__ADS_1
"Wabah virus carlotte, yang diidentifikasi sebagai penyebab penyakit pada saluran pernapasan."
Aku semakin mengerutkan kening, "Virus carlotte?"
"Benar. Virus carlotte diketahui pertama kali muncul di daerah perbatasan wilayah utara. Orang pertama yang jatuh sakit akibat virus ini diketahui merupakan para imigran gelap dari negara tetangga."
"Diduga virus ini menyebar dari hewan liar seperti anjing ke manusia, dan kemudian dari manusia ke manusia," ungkap Shanon.
Mendengar itu aku langsung menutup mulutku, tanganku sedikit tremor.
Bagaimana bisa aku tidak mengetahui hal sebesar itu?
"Nyonya Duchess, apa Anda baik-baik saja?"
"Aku... Aku baik-baik saja. Jangan khawatir Nona Shanon."
Ku ulum senyumanku berusaha terlihat baik-baik saja, meski rasa ingin marah.
Carxen mendatangiku. Lalu kami melanjutkan kencan kami.
Berjalan berdampingan bersamanya, kali ini terasa sangat canggung dibandingkan saat tadi. Apakah karena aku tidak berusaha meraih tangannya. Ataukah karena dia yang tidak pernah mengambil tindakan pertama untuk meraihku.
Ku hentikan langkah kakiku lalu menarik nafas panjang, "Apa tidak ada yang ingin Tuan Duke jelaskan kepadaku?"
Carxen menghentikan langkahnya dan menoleh ke arahku, "Apa Shanon mengatakan sesuatu kepada mu?"
Mendengar itu aku langsung mengatupkan mulutku dan mengepalkan tanganku erat, menahan emosi yang sejak tadi tertahan di dalam dada.
Aku sungguh lelah dengan semua ini.
Raut wajah Carxen yang menunjukkan seolah tidak terjadi apa-apa dihadapan ku. Sikap yang selalu membuatku kebingungan. Cara bicara yang berusaha menutupi sesuatu dariku.
"Aku sungguh muak dengan semua ini."
__ADS_1