
Carxen keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit pinggang nya.
Dia berjalan mendekati ku sembari menggosok rambutnya dengan handuk putih. Aku tidak bisa melepaskan pandanganku darinya.
Carxen berdiri tepat di hadapan ku. Handuk basah bekas menggosok rambutnya dia lempar ke belakang.
Lalu dia meraih pinggang ku dan menggendong ku ala bridal style. Kemudian membaringkan tubuhku di atas kasur dengan perlahan.
Tubuhnya terlihat lebih besar dari bawah, apalagi dia hanya mengenakan handuk yang melilit pinggangnya.
Dia mencondongkan tubuhnya ke arahku. Aku terus memperhatikannya, "Tu-Tuan Duke...?"
"Hm..."
Dia tak menghentikan kegiatannya yang terus menggigit dan menarik satu persatu tali di bajuku, membuat bagian dua buah tulang pada bagian dada kiri dan kananku terekspos memperlihatkan d*daku secara gamblang.
Wajahku merona, aku mencoba mendorong tubuhnya karena merasa gugup, "Tu-Tunggu.... Aku..."
Dia memegang tanganku yang berada di dadanya lalu mengecup punggung tanganku penuh cinta.
"Aku akan melakukannya dengan lembut," ucapnya seraya menatapku dengan sayu, nafasnya serasa berat.
Aku mengangguk pelan mengiyakan perkataannya. Aku tidak bisa lagi berpikir rasional. Ini sungguh membuatku terbawa suasana.
Lalu Carxen menggenggam tanganku, menautkan dan mengaitkan jari-jari kita satu sama lain dengan mesra.
"Dorong aku jika kau kesakitan."
Aku mengangguk pelan untuk kesekian kalinya.
Lalu Carxen ******* bibirku dengan lembut. Aku menutup mata mencoba untuk menikmati kegiatan ini, merasakan hangat nafasnya dan manis bibirnya yang membuatku semakin terjebak kedalam jeratan hasrat yang manis ini.
__ADS_1
Dia menyelipkan lidahnya ke dalam mulutku, dan memutar lidahku dengan lihai, membuatku kewalahan dengan gairah yang sedang membakar tubuhnya. Aku meremas tangannya dengan erat merasakan sesuatu yang panas di dalam tubuhku.
Semakin lama ciuman Carxen semakin mendominasi. Dia hanya memberikan ku kesempatan sebentar untuk mengambil nafas, lalu ******* lagi bibirku habis-habisan dengan penuh g*irah.
Ah, bagaimana ini.
Nafas yang kita hembuskan saat sedang terjerat begitu manis dan mendebarkan, membuat diri ini semakin egois menginginkan lebih.
Seperti masuk kedalam kubangan lumpur penghisap, dadaku terasa dipenuhi oleh hasrat.
Tangan Carxen masuk melalui bawah gaunku, lalu dia meremas pinggulku.
Aku tersentak dan langsung membuka mata. Ku tatap mata ruby nya yang indah. Sorot mata merah itu seolah sedang meredup, tunduk oleh gairah yang sedang membakarnya.
Carxen menarik diri dari ciuman. Sementara aku terengah-engah karena kehabisan nafas. Dia bergerak ke bawah, lalu menjilat dadaku, dan menggigit kulitku dengan lembut.
"...uhnn...hnng..." Aku mengerang pelan, tanganku berkedut dan kembali meremas tangannya.
Kini aku tak mengenakan sehelai kain apapun. Jari-jari Carxen mulai menelusuri kulitku, lengannya membelai pinggang ku, tangannya mencapai paha bagian dalamku.
"Tuan Duke..."
"Panggil namaku."
Aku menelan ludah dengan gusar, "Carxen...?" kata ku pelan, dengan hati-hati.
Carxen menundukkan kepalanya seraya menghela nafas pelan, "Sial. Kau sungguh membuatku gila," ucapnya pelan.
Aku merasakan jari-jarinya yang perlahan bergerak naik ke atas pahaku dan menarik dal*man ku. Aku sangat terkejut, dan langsung menghentikan tangannya.
"Carxen..."
__ADS_1
"Hm..."
Carxen terus melanjutkan kegiatannya. Dia bahkan sama sekali tak menghiraukan ku dengan menanggalkan dal*man ku.
Aku langsung menutup wajahku karena malu.
Bukankah ini sudah terlalu jauh untuk hari ini. Aku sungguh tidak tahu bagaimana harus menghadapinya.
Carxen menarik tangan yang menutupi wajahku, "Jangan menutupi wajahmu."
Aku memberanikan diri menatap matanya. Senyuman tipis terukir di wajah tampan itu.
"Aku ingin melihat wajahmu."
Melihat wajahku dalam keadaan seperti ini. Yang benar saja. Ini sangat memalukan.
Carxen memasukkan jarinya kedalam puny*ku yang sejak tadi sudah bas*h, membuatku mengeluarkan suara erangan kenikmatan.
Ku remas bantal di atas kepalaku, merasakan sesuatu yang geli dan aneh di bawah sana.
"Nghn!...uhnn...hngg..."
Carxen mengeluarkan jarinya dari dalam sana. Lalu mengambil tanganku dan mengecup punggung tanganku dengan penuh cinta.
"Ini terkahir kalinya aku mengatakan ini..."
Aku menatap matanya yang semakin sayu, yang telah dipenuhi oleh dorongan hasrat dan nafsu.
"Dorong saja aku jika kau kesakitan."
Lagi-lagi aku hanya bisa menganggukkan kepala seperti orang bodoh. Mungkinkah aku sudah lama menunggu momen saat ini.
__ADS_1