
...~Love Me My Lord Duke~...
Orang tersebut segera turun dari atas kudanya, dan berjalan menghampiriku.
"Kenapa kau bisa berada disini?" suara yang rendah dan dalam itu, suara yang selama ini aku rindukan.
Aku menundukkan kepalaku, air mata yang sejak tadi menggenang di pelupuk mataku kini tak sanggup lagi ku bendung.
"Kau kemana saja?" tanya ku pelan, suaraku serak dan bergetar.
Air mataku terus berjatuhan, berulang kali aku mengusap-usap mataku berharap air mata ini berhenti keluar, "...ukhh...hic...hic..."
Carxen menarik pinggang ku, lalu memeluk tubuhku yang masih gemetaran.
"Aku sudah disini..." ucapnya pelan, berusaha menenangkan ku.
Dingin nafasnya terasa di atas kepalaku.
Aku memeluk Carxen dengan erat sembari menangis dalam dekapannya. Dia terus saja mengusap-usap rambutku dengan lembut. Tidak ada kata-kata menenangkan yang keluar dari mulutnya. Meski begitu sikapnya yang hangat mampu membuat ku merasakan ketulusannya.
Carxen terdengar menghela nafas pelan, aku melihat ke atas untuk memeriksanya barang kali dia merasa tidak nyaman.
Dia terlihat mengusap rambut hitam legamnya ke atas dengan gusar, "Ayo kita pulang."
Lalu dia menggendong ku, dan menaikkan ku ke atas kudanya.
Kami pulang ke kediaman Callisto dengan menaiki kuda yang sama. Ternyata hari sudah petang.
Sesampainya kami di kediaman Callisto, para pelayan dan Alfonso menyambut kedatangan kami dari luar rumah. Alfonso dan Ivone tampak sangat bahagia, ditandai dengan senyuman di wajah mereka.
__ADS_1
Carxen turun lebih dulu lalu segera menggendong ku dan berjalan masuk ke dalam rumah tanpa mempedulikan tatapan para pelayan di belakangnya yang tersipu malu melihat kami.
Wajahku merona ketika Carxen melakukan itu. Dia membawaku ke kamarnya dan membaringkan tubuhku perlahan di atas ranjang.
"Tu-Tuan Duke..." kata ku ragu-ragu, seraya memperhatikan Carxen yang sedang melepaskan perlengkapan zirah nya.
"Hm..." sahutnya yang kini sedang membuka kancing bajunya.
Aku spontan menutup mataku dengan telapak tangan, "A-Apa yang sedang kau lakukan disana?"
"Kenapa kau menutup mata?"
"Ka-Karena kau membuka baju sembarangan!"
"Heh, aku ini suami mu."
"Me-Memang benar. Tapi tetap saja kita belum sepenuhnya suami istri..." kata ku pelan.
Aku melihat sikut ku yang tadi terluka, darahnya terlihat sudah mengering, lalu aku mengalihkan pandanganku ke arah Carxen.
"Aku tidak sengaja terjatuh dari atas kuda. Aku tidak tahu kenapa kuda itu tiba-tiba kehilangan kendali."
Carxen menghela nafas gusar untuk kesekian kalinya, lalu melepaskan lenganku.
"Tunggu sebentar."
Dia mendekati meja samping tempat tidur dan menarik laci paling atas di meja tersebut.
Aku terus memperhatikannya, tak ingin melepaskan pandangan ku kemanapun, "Apa yang sedang kau cari?" tanyaku.
__ADS_1
Carxen tak menjawab, beberapa saat kemudian dia mengeluarkan kotak obat dari dalam laci paling bawah. Dia membawa kotak obat tersebut ke kehadapan ku, lalu menaruhnya di sebelah ku.
"Aku akan mengobati lukamu," pungkasnya.
Carxen membersihkan luka ku dengan kapas dan antiseptik, lalu dia mengoleskan salep di luka ku. Terakhir dia menempelkan plaster dengan hati-hati.
"Terima kasih," ucapku pelan sambil melirik Carxen yang sedang menaruh kotak obat tersebut ke dalam laci.
Kemudian Carxen berjalan menghampiriku, "Sekarang berikan aku imbalannya."
Dia mencondongkan tubuhnya ke arahku, kedua tangannya meremas pinggir kasur.
Jantung ku berdegup kencang, aku lekas memalingkan wajahku karena malu, "A-Apa yang kau inginkan?..."
'Apa yang dia inginkan. Mungkinkah "itu". Kalau dipikir-pikir lagi itu hal yang wajar jika dia meminta hal semacam "itu". Aku sudah membuatnya menunggu terlalu lama.'
Carxen menyentuh untaian rambut di dekat telingaku, lalu menciumnya seraya menatap mataku.
Aku tersentak, mataku terkunci terus menatap matanya, "Apa kamu... menginginkan ku?"
Carxen menyisir rambutku ke belakang telinga, "Ya, aku menginginkanmu."
'Apa dia bersungguh-sungguh dengan perkataannya.'
Aku segera menghindari pandangannya, "Umm... Kau sebaiknya mandi terlebih dahulu..."
Carxen lekas bangun. Dia terlihat mengusap rambutnya dengan gusar, "Tunggu disini, aku akan segera kembali."
Setelah mengatakan itu, dia langsung pergi ke kamar mandi.
__ADS_1
Aku menunggunya dengan perasaan tak karuan. Meski begitu tatapan ku tak bisa lepas dari pergelangan tanganku.
Waktu terus bergulir, detik terus berganti. Dibandingkan perasaan gugup menunggu Carxen. Aku lebih cemas dengan masa hidupku.