Cintai Aku Tuan Duke

Cintai Aku Tuan Duke
Bab 27.Kepergianmu


__ADS_3

...~Love Me My Lord Duke~...


Entah apa yang sedang terjadi kepadaku. Aku tidak bisa terlelap ataupun bangun. Dadaku serasa sesak, tenggorokan ku juga terasa sakit. Didalam maupun diluar tubuhku terasa panas. Aku benar-benar merasa tidak berdaya.


"Suhu tubuh Nyonya Duchess naik drastis melebihi 38 derajat celcius. Disamping itu Nyonya Duchess juga menunjukkan gejala gangguan pernapasan." (Dokter)


"Mustahil! Apa maksud Anda istri saya..." (Carxen)


"Tuan Duke, Anda bilang tiba-tiba Nyonya Duchess kehilangan kesadaran setelah beberapa saat berada di balai kota? Padahal sebelumnya Nyonya Duchess baik-baik saja bukan?" (Dokter)


"Benar..." (Carxen)


"Berarti Nyonya Duchess terjangkit virus pada saat berada disana." (Dokter)


"Apa!? Itu tidak masuk akal, bagaimana mungkin virus itu sudah sampai kesini?" (Carxen)


"Itu mungkin saja terjadi, Tuan Duke. Mungkin saja di balai kota ada hewan atau manusia yang telah terjangkit oleh virus carlotte. Ditinjau dari gejala dan waktu kejadiannya, sepertinya Nyonya Duchess terjangkit langsung lewat transmisi dari cairan, hal ini biasanya berupa cairan tubuh yang keluar saat berbicara, batuk dan bersin, yang berada dalam jarak sekitar satu meter dari orang yang terjangkit."


PRANGGG!!!


"Kyaaa!!" (Ivone)


"Tuan Duke! Tolong kendalikan diri Anda!" (Alfonso)


"Seharusnya sejak awal ku tebas saja leher wanita tua itu!" (Carxen)


"Ivone cepat bersihkan pecahan kacanya." (Alfonso)


"Ba-Baik Tuan Alfonso." (Ivone)


"Sebaiknya Anda tidak membuat keributan Tuan Duke. Karena saat ini Nyonya Duchess sedang berusaha melawan penyakitnya." (Dokter)

__ADS_1


"Keluar kalian semua!!" (Carxen)


Meski dalam keadaan seperti ini, aku masih bisa merasakan tangan Carxen yang menggenggam tanganku. Dingin. Mengapa tangannya begitu dingin dan bergetar.


"Bertahanlah... Kumohon..." suaranya terdengar putus asa.


Aku bisa merasakan hangat air mata yang jatuh menyentuh pipiku, dibarengi usapan tangan yang menyentuh ubun-ubun ku.


'Kenapa...? Kenapa kamu menangisi ku? Bahkan kamu marah kepada semua orang demi aku.'


Kau selalu ada untukku saat aku paling membutuhkan mu. Kau selalu berlari menyusul ku ketika aku menjauh darimu lalu meraih tanganku. Namun disisi lain, kau berulang kali mendorong ku menjauh lewat perkataan dan sikapmu.


Jika aku memberitahumu tentang kutukan waktu yang ada di pergelangan tangan ku. Akankah kamu percaya dan mencoba untuk mencintai ku?


...~oOo0oOo~...


Hari demi hari berganti.


"Maafkan saya Nyonya. Saya tidak bisa membuka pintu balkon, ini semua demi kesehatan Nyonya," ucap Ivone yang berdiri di sebelah tempat tidurku.


Aku mengulum senyum kepada Ivone, "Jangan khawatir Ivone, aku hanya ingin menatap pintu balkon, sudah lama aku tidak melakukan ini."


"Syukurlah kalau begitu," Ivone menghela nafas lega.


"Pokoknya Nyonya harus tetap sehat sampai Tuan Duke pulang. Setidaknya itu akan menjadi hadiah terbaik untuk Tuan Duke."


Aku tersentak dan menatap Ivone penuh tanya, "Sampai Tuan Duke pulang? Apa maksud perkataan mu?"


Ivone menunduk menghindari pandangan ku, "Umm... Tu-Tuan Duke..."


Melihat gelagat Ivone yang aneh aku semakin mengerutkan kening.

__ADS_1


"Katakan kepada ku, dimana Tuan Duke sekarang?"


Tidak mungkin yang semalam itu kenyataan. Aku sangat yakin bahwa itu mimpi.


"Tuan Duke ikut berperang ke perbatasan utara," ungkap Ivone pelan.


Aku terkejut hingga tidak bisa berkata-kata. Aku mencoba mengingat kembali mimpiku yang kemarin malam, disaat aku berpikir aku tidak akan bisa melihat matahari terbit lagi.


Saat itu, samar-samar aku melihat Carxen masuk ke dalam kamar ku. Dia berdiri di sebelah tempat tidur lalu mengambil tangan kananku, dan mengecupnya cukup lama.


"Aku akan ikut berperang bersama Gavin dan Edwin. Aku harap kamu tidak terlalu khawatir tentang aku dan yang lainnya."


Aku masih ingat dengan jelas suaranya yang terdengar rendah semakin melembut ditelinga ku. Sentuhannya yang hangat membuat ku merasa nyaman.


Itu semua nyata, itu bukanlah mimpi.


"Aku benci mengatakan ini langsung dari mulutku, tapi aku adalah ksatria terbaik di selatan."


Itu adalah kata-kata terakhir sebelum dia pergi berperang meninggalkan ku.


"Nyo-Nyonya. Apa Nyonya baik-baik saja?"


Air mata langsung memenuhi pelupuk mataku dan jatuh membasahi selimutku.


"Aku... Aku sangat merindukannya Ivone... Aku... Sungguh merindukannya..."


Ivone langsung memeluk tubuhku yang gemetar dengan erat, tangan kecilnya mengusap-usap punggung ku dengan lembut. Ia berusaha membuatku tenang.


"Nyonya, tolong jangan menangisi Tuan Duke. Karena hati saya sangat sakit melihat Nyonya yang seperti ini."


Aku menangis sejadi-jadinya di dalam pelukan Ivone.

__ADS_1


__ADS_2