Cintai Aku Tuan Duke

Cintai Aku Tuan Duke
Bab 11.Diam-diam Keluar


__ADS_3

...~Love Me My Lord Duke~...



...~oOo0oOo~...


Malam hari pun tiba.


Saat ini aku tengah berada di ruangan makan yang cukup luas sendirian. Dengan meja makan yang panjang serta kursi kosong yang berjejer di kiri dan kanan ku.


"Apa ada lagi yang Anda butuhkan Nyonya?" tanya Ivone yang berdiri di sebelah ku.


"Tidak, ini sudah cukup. Terima kasih atas kerja kerasmu, Ivone," balasku, sambil melihat ke arah Ivone dengan senyuman.


"Bukan masalah Nyonya," sahut Ivone.


Aku melirik jam dinding besar yang tampak antik di dekat pintu. Waktu menunjukkan pukul tujuh lewat. Aku tersenyum tipis seraya menyendok sup di mangkuk ku kemudian mendekatkan sendok tersebut ke bibirku untuk mencicipinya.


'Apa yang sedang aku harapkan sekarang? Mana mungkin pria dingin itu datang.'


Aku menghela nafas pelan. Sepertinya Ivone menyadari itu, aku melirik Ivone diam-diam kekhawatiran tergambar jelas di wajahnya yang lugu.


"Nyonya..." panggil Ivone.


Aku segera menoleh ke arahnya, "Ada apa Ivone?"


"Apa Nyonya tahu? Dibalai kota sedang di adakan festival selama seminggu ke depan. Sejujurnya para pelayan menyebutnya dengan pasar malam. Apa Nyonya tertarik?" Ivone terdengar sangat antusias.


"Pasar malam?..." tanya ku penasaran.

__ADS_1


"Benar Nyonya. Ada banyak orang yang akan datang, semua kalangan akan turun ke jalanan untuk menikmati suasana pasar malam yang ramai."


'Sudah lama aku tidak pernah pergi ke pasar malam semenjak terjatuh ke dunia ini. Aku sangat penasaran. Tentu saja aku tidak boleh melewatkan kesempatan ini.'


"Ivone, bisakah kamu membantuku?"


Ivone menatapku dengan ragu, aku menunggu jawabannya dengan tatapan penuh harap dan senyuman lebar.


"Saya akan membantu Nyonya sebisa saya," jawab Ivone, setelah menarik nafas dalam-dalam.


'Sepertinya Ivone tahu apa yang sedang aku pikirkan.'


Aku meminta bantuan Ivone untuk berpura-pura menjadi aku, dan menyuruhnya berbaring di kasur ku sampai aku pulang dari balai kota. Awalnya Ivone tidak mau, dia takut bagaimana kalau sampai ketahuan oleh Carxen.


Tapi aku meyakinkan Ivone dengan mengatakan kalau Carxen sedang tidak berada di rumah.


Saat ini aku sedang berada di dalam kereta kuda, aku tengah melihat keluar jendela sembari menatap bintang-bintang yang bertaburan di atas langit, "Aku tidak sabar lagi sampai di balai kota."


Tidak butuh waktu yang lama akhirnya aku pun sampai di balai kota. Karena jarak balai kota dengan kediaman Callisto tidak terlalu jauh.


'Ternyata benar apa yang Ivone katakan. Ada banyak orang disini. Beberapa orang memakai topeng wajah, sama seperti ku.'


'Mari kita simpulkan bahwa orang-orang yang memakai topeng itu adalah mereka para bangsawan yang sengaja menyembunyikan identitasnya.'


Aku berjalan perlahan sambil menikmati suasana di pasar malam. Sesekali aku mampir untuk melihat apa saja yang dijual di kedai-kedai kecil. Aku berhenti di sebuah kedai yang menjual berbagai macam peralatan, ada satu benda yang menarik perhatianku.


"Permisi, Tuan," panggil ku kepada seorang pria paruh baya berbadan kekar, dengan memakai ikat kepala hitam.


"Apa ada yang menarik perhatian Anda Nona muda?" tanya pria bermata dan berambut coklat tersebut.

__ADS_1


Aku melenggang masuk ke dalam kedai pria tersebut, dan berjalan ke sudut kedai, "Yang ini Tuan..." Aku mengangkat sebuah tongkat yang terbuat dari bahan krom, panjangnya sekitar 150 cm, beratnya kira-kira 1kg lebih.


'Tongkat ini benar-benar mirip dengan tongkat baton yang aku punya. Hanya saja tidak ada aksesoris yang menghiasinya.'


"Maaf Nona, tapi yang itu--"


"Aku akan bayar dengan harga tinggi!" cetus ku.


"Haha, meskipun Nona memberikan aku banyak uang, aku-"


"Aku akan bayar berapapun!" sergahku memotong perkataannya.


Pria itu terlihat menggaruk tengkuknya, "Nona, dengarkan dulu, aku tidak menjual tongkat itu."


"Eh? Apa? Kau tidak menjualnya? Kenapa?"


"Benar, Nona bisa memilikinya dengan gratis," pria tersebut melemparkan senyuman kecil kepadaku.


"Benarkah itu? Kau tidak akan menyesalinya? Aku benar-benar akan membawanya pulang, lho..."


Pria tersebut terdengar terkekeh pelan, "Benar Nona. Aku tidak akan menarik perkataan ku kembali."


Aku tersenyum mendengar perkataannya. Sayangnya aku tidak suka menerima barang gratisan tanpa ada alasan.


"Tunjukkan aku tanganmu sebentar," usul ku, sembari menawarkan tanganku.


"Tangan?... Untuk apa, Nona?" tanya nya seraya mengulurkan tangannya ke hadapan ku.


"Ambil ini," ujarku setelah menaruh sekantong koin emas di tangannya.

__ADS_1


"Tapi Nona..." Dia tampak sedikit terkejut dengan tindakan ku.


"Terima kasih sudah memberikan tongkatnya kepadaku." Setelah mengatakan itu aku segera meninggalkan kedai tersebut.


__ADS_2