
...~Love Me My Lord Duke~...
Tibalah hari dimana Martha akan menikah.
Martha terlihat sangat cantik dengan balutan gaun pengantin putih broken white yang menutupi sekujur tubuhnya yang ramping. Gaunnya dihiasi dengan permata putih dari atas hingga ke bawah. Aura Martha terlihat jauh lebih bersinar. Sedangkan Barrlet mengenakan setelan tuxedo hitam yang membuat pria seperti musim semi tersebut tampak sangat karismatik.
Kebahagiaan jelas terpampang di wajah Martha dan Barrlet. Keduanya berdiri saling berhadapan di atas altar seraya melempar senyuman satu sama lain.
"Tibalah saatnya untuk meresmikan pernikahan kalian. Saya persilahkan saudari dan saudara masing-masing menjawab pertanyaan saya," ucap sang pastor.
"Barrlet Von Cristopher bersediakah saudara menikah dengan Martha Von Reynch yang hadir di sini dan mencintainya dengan setia seumur hidup baik dalam suka maupun dalam duka?"
Barrlet tersenyum mantap kearah Martha, "Ya, aku bersedia."
"Martha Von Reynch bersediakah saudari menikah dengan Barrlet Von Cristopher yang hadir di sini dan mencintainya dengan setia seumur hidup baik dalam suka maupun dalam duka?"
"Ya, aku bersedia."
Lalu Barrlet memegang wajah Martha dan mengecup bibirnya.
Semua orang berdiri dengan senyuman bahagia sambil memberikan tepuk tangan yang meriah. Eleanor dan Vounch yang berdiri di sebelah ku terlihat sangat terharu.
Momen ini mengingatkan ku kepada pernikahan ku dan Carxen. Meski awalnya itu tidak dimulai dengan cinta. Tapi setidaknya dengan begitu kami jadi banyak belajar tentang artinya saling melengkapi dan menerima kekurangan satu sama lain.
"Kenapa sayang?" tanya Carxen, karena aku terus memandanginya.
Aku menggelengkan kepala pelan, "Tidak ada. Hari ini juga suamiku terlihat sangat tampan."
Carxen mengalihkan pandangannya ke depan.
Melihat gelagat dia yang seperti itu sepertinya dia malu. Padahal hampir setiap hari aku menggodanya. Dia belum juga terbiasa. Lucunya.
__ADS_1
"Istirku juga sangat cantik..."
Aku tersentak mendengar suara pelan tersebut. Aku menatap Carxen dengan wajah penuh tanya.
"Kamu bilang apa barusan sayang?"
"Tidak, bukan apa-apa."
Padahal jelas sekali kau bilang aku sangat cantik.
"Baiklah. Kalau begitu aku akan berpura-pura tidak mendengarnya."
Telinganya memerah. Lucunya.
...~oOo0oOo~...
Diluar Mansion Martha menghampiriku dan memelukku dengan erat.
"Aku juga merindukanmu, sangat merindukanmu."
Martha lalu melepaskan pelukannya dan memegang bahuku, "Aku sudah tahu semuanya. Tentang kau yang menjadi Stick master. Kita bahkan pernah berpapasan waktu itu."
"Yah, mustahil saudariku ini tidak mengetahuinya. Kaulah yang paling jeli di antara anggota keluarga kita yang lain."
Martha menghela nafas panjang, "Jangan melakukan hal seperti itu lagi. Aku tidak ingin kau dalam bahaya seperti waktu itu."
Aku mengulum senyum kepada Martha yang sedang menatapku dengan khawatir, "Itu tidak akan terjadi lagi. Karena aku akan segera menjadi Ibu."
Martha terlihat tersentak. Eleanor dan Vounch tak kalah terkejut, mereka langsung menyerobot Martha untuk mendekati ku.
"Kau sedang mengandung, sayang?" tanya Eleanor.
__ADS_1
Aku mengangguk pelan seraya tersenyum lebar, "Iya Ibu. Sudah tiga bulan."
"Kenapa baru memberitahu kami sekarang, sayang?"
Aku menoleh ke arah Carxen dibelakang lalu kembali memandang Eleanor dan Vounch, "Aku dan Carxen ingin memberikan hadiah kejutan dihari membahagiakan ini."
"Terima kasih putriku," Vounch mengulum senyum sembari menggenggam tanganku.
"Ayah jangan menangis, itu sangat tidak cocok dengan kepribadian Ayah yang kaku," pungkas Martha.
"Martha berhenti mengganggu Ayahmu," celetuk Eleanor.
Aku tidak pernah menyangka aku masih diberi kesempatan untuk merasakan hari ini. Kebahagiaan yang selalu aku inginkan. Rumah yang selalu aku dambakan. Semuanya kini ada disini.
Carxen memeluk tubuhku dari belakang, dan menyandarkan dagunya di atas kepalaku.
"Kenapa, sayang?" tanyaku dengan lembut.
"Aku hanya ingin seperti ini sedikit lebih lama."
"Kau boleh melakukan ini sesuka yang kau mau saat kita sampai di rumah. Masih ada Ayah dan Ibu disini."
"Aku tidak peduli."
Dia semakin tidak tahu malu saja. Untungnya Eleanor dan Vounch dapat mengerti.
Aku ingin momen saat ini selamanya tetap tersimpan di dalam memori ku. Meski waktu akan terus bergulir. Meski akhirnya kematian lah yang akan memisahkan, menjemput setiap nyawa tanpa suara.
Sesuatu yang ditakdirkan untuk datang, pasti akan pergi pada akhirnya. Dan aku merasa hari itu tidak akan lama lagi. Karena itu aku akan berbahagia sebelum kematian menjemput ku.
...[END.]...
__ADS_1