
...~Love Me My Lord Duke~...
...~oOo0oOo~...
Aku masuk ke sebuah kedai yang menjual berbagai macam benang dan kain. Ada banyak macam benang yang dijual, aku mengambil benang berwarna emas dan merah lalu menghampiri gadis penjaga toko tersebut.
"Bisakah Nona membuat pola menggunakan benang ini, dan menjahitnya di tongkatku untuk menghiasi sekelilingnya?" kataku sembari menyerahkan benang yang aku ambil barusan.
Gadis berambut kuning hingga ke bahu tersebut tersenyum lembut kepadaku. "Bukan masalah, Nona. Pola seperti apa yang Nona inginkan?"
Aku berpikir sejenak membayangkan hiasan baton yang aku miliki sebelumnya, "Seperti lekukan naga. Buat di sekeliling tongkat dari bawah hingga ke atas."
"Baik, Nona. Tapi ini butuh waktu hingga besok. Maukah Anda kembali lagi kesini besok?"
Aku terdiam sejenak, memikirkan pertanyaan gadis bermata abu abu di hadapan ku.
'Apa besok aku masih bisa mengelabui Carxen seperti malam ini? Bagaimana kalau besok aku tidak bisa keluar?'
"...na?"
"Nona!"
Suara gadis tersebut menyadarkan ku, "Ah! Iya... Besok ya... Besok saya akan kembali lagi kesini, jadi jangan khawatir."
__ADS_1
"Syukurlah..." ujarnya, lega.
'Sudah jam berapa sekarang? Apa sudah larut malam. Tapi melihat keadaan disini yang semakin ramai, sepertinya belum larut malam. Meski begitu aku harus segera pulang. Siapa tahu Carxen tiba-tiba datang ke kamarku seperti tadi malam. Ivone bisa berakhir dengan hukuman.'
"Ngomong-ngomong nama Nona siapa?" tanya gadis tersebut, lalu tersenyum kepada ku.
Tidak mungkin aku mengatakan namaku yang sebenarnya. Walau bagaimanapun, namaku sudah terkenal sebagai istri dari Duke berdarah dingin.
"Nama saya Viola. Nama Nona siapa?" tanya ku seraya mengulurkan tangan ke hadapannya.
"Viola, nama yang Indah. Nama saya Shanon," balasnya lalu menggenggam tanganku, untuk berjabat tangan.
'Shanon? Nama yang cukup aneh.'
Sebelum aku pulang aku menonton pertunjukan teater sebentar, tidak begitu banyak orang yang tertarik dengan teater jadi aku menikmati waktu ku selama menonton.
"Kira-kira Carxen sudah kembali atau belum?" gumam ku, sambil menatap kebawah ke arah sepatu kulit yang aku gunakan.
Entah mengapa setelah keluar sebentar untuk menghirup udara segar, aku sedikit merindukan Carxen. Meskipun dia sarkas dan seenaknya, dia tetap saja suamiku.
Begitu akan tiba di kediaman Callisto, aku segera turun dari kereta. Aku membuka pagar taman yang berada di bagian paling timur. Pagar tersebut berukuran kecil yang ditutupi oleh tanaman merambat, jika orang tidak memeriksanya dengan teliti bisa saja mereka tidak menyadari bahwa ada pagar disana.
Suasana di dalam kediaman Callisto saat malam hari begitu hening. Aku berjalan di lorong dengan hati-hati sembari memperhatikan sekeliling.
Dari kejauhan aku melihat Carxen keluar dari kamarku, aku segera membuka pintu kamar yang berada di belakang ku, dan masuk kedalam. Dari balik pintu, aku mendengar suara derapan langkah kaki Carxen melewati kamar tempat aku bersembunyi. Jantungku berdetak cepat, tanganku tremor sambil memegang kenop pintu. Keringat terasa mengalir melewati pelipis mataku.
__ADS_1
'Apa yang baru saja dia lakukan di kamarku, di jam seperti ini? Apa Ivone baik-baik saja? Bagaimana kalau terjadi sesuatu kepada Ivone. Aku harus segera keluar dari sini.'
"Tuan Duke..." suara Alfonso terdengar jelas di lorong yang tadinya hening.
"Kau sudah membereskannya?" tanya Carxen, nada suaranya terdengar begitu serius.
'Membereskannya? Apa maksudnya? Apa yang sedang mereka bicarakan?'
"Sudah dikubur di taman, Tuan Duke."
Jawaban dari Alfonso membuat ku langsung terduduk lemas di lantai, "Di-Dikub-hmp-"
Aku langsung menutup mulutku, dan menahan nafasku, saat mengingat Carxen dan Alfonso masih berada tak jauh dari kamar.
'Si-Siapa yang dikubur? Iv-Ivone!!... Tidak mungkin kan? Aku harus segera memeriksa Ivone!!'
Setelah beberapa lama aku duduk sambil menenangkan diri di depan pintu, aku segera keluar dan berjalan perlahan menuju ke kamarku.
"Ivone..." panggilku pelan begitu masuk ke dalam kamarku, dan segera menekan lampu kamar di tembok.
Ivone tak menjawab, gadis mungil tersebut terlihat menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut tebal sambil menghadap ke arah tembok. Aku berjalan dengan hati-hati mendekati tempat tidur, "Ivone...?"
Aku menarik sedikit selimut yang menutupi Ivone untuk melihat wajahnya.
Ternyata dia sudah tertidur lelap. Refleks aku pun menghela nafas lega melihat Ivone tertidur pulas, "Syukurlah..."
__ADS_1
"Terima kasih sudah baik-baik saja," ucapku pelan sembari menyentuh poni Ivone dengan jariku.