
...~Love Me My Lord Duke~...
Ku tatap langit-langit kamar sembari menarik nafas panjang lalu menghembuskan nya perlahan. Ku pegang dadaku yang masih terasa berdebar-debar. Perasaan yang meluap-luap ini tak pernah ku rasakan sebelumnya.
"Mengapa dia bersikap sejauh ini...?" gumam ku.
Aku berbalik badan dan menatap tembok, berusaha mengingat kembali apa yang baru saja terjadi.
"Aku tidak ingin memikirkannya, aku sangat lelah sekarang."
Aku menghela nafas panjang, ku tarik selimut lalu mengerjapkan mata berusaha untuk tidur.
Kesadaran ku semakin lama semakin hilang, wajah terakhir yang aku ingat sebelum terlelap adalah wajah Carxen yang merona.
Pagi hari tiba. Seperti biasanya aku akan sarapan di ruangan makan sendirian. Lalu ke perpustakaan menemui Alfonso untuk kelas hari ini.
Aku benar-benar berusaha keras untuk menjadi Nyonya rumah di kediaman Callisto. Meski di luar kelas aku tidak pernah membaca buku, karena satu dan lain hal. Tetap saja ketika sedang belajar aku benar-benar mengerahkan seluruh kemampuan ku.
Aku mengalihkan pandanganku keluar jendela selagi Alfonso merapikan buku-buku tebal di atas mejanya.
"Apa Nyonya ingin jalan-jalan keluar?" tanya Alfonso.
Aku segera menoleh ke arahnya, "Sejujurnya aku ingin pergi ke tempat para ksatria berlatih."
Alfonso tersenyum hangat kepadaku, "Kalau begitu biarkan saya mendampingi Nyonya ke sana kali ini." Alfonso menawarkan tangannya ke hadapan ku. Aku tersenyum kecil lalu meraih tangannya, "Baiklah, mohon bantuannya, Alfonso."
Selama aku berjalan bersama Alfonso, aku tidak merasa canggung sama sekali karena dia menceritakan masa kecil Carxen.
Sejak kecil, Carxen mengenyam pendidikan yang sulit, karena dia memang sudah dipersiapkan untuk menjadi ahli waris.
__ADS_1
"Selama Tuan Duke tumbuh di bawah pengawasan Tuan dan Nyonya terdahulu. Beliau tumbuh dalam kesepian dan pengasingan. Semua beban serta harapan Tuan dan Nyonya terdahulu di bebankan kepada Tuan Duke karena beliau anak semata wayang mereka."
Alfonso menghentikan langkahnya ketika kami tiba di tempat pelatihan para ksatria, "Lelahnya belajar dan di didik dengan keras, kurangnya istirahat, bahkan tidak ada waktu bermain..."
"Semua itu Tuan Duke hadapi demi tetap mempertahankan keluarga Callisto. Rasa sakit, perih, marah, lelah dan sedih, semua beliau hadapi sendiri."
Alfonso terus menatap punggung Carxen dengan sorot mata yang tampak sendu.
Ternyata bukan hanya aku yang melalui masa-masa kelam seperti itu. Dulu aku mengira aku adalah anak yang paling menderita. Tapi ternyata apa yang Carxen hadapi jauh lebih berat daripada apa yang aku hadapi.
Aku melihat sepasang sepatu di depan ku, "Sedang apa kau disini?" suara tersebut sukses membuat ku tersentak, dan langsung mengangkat kepalaku.
"Apa ada yang salah dengan wajahku?" Carxen sedikit mengerutkan keningnya.
Aku menggelengkan kepala dengan cepat, "Tidak sama sekali! Tidak ada yang salah dengan wajah Tuan Duke!"
Apa yang harus aku katakan sekarang. Sungguh ini sangat canggung. Di belakang sana para ksatria sedang memperhatikan kami.
'Tidak, tunggu dulu! Pria bermata coklat dan berambut coklat! Bukannya pria itu....'
"Tuan penjual tongkat...?" gumam ku.
Pria itu berjalan menghampiri ku, "Saya Gavin De Borbon, komandan pasukan kedua. Saya memberi hormat kepada Duchess Callisto."
Dia membungkuk sebentar lalu meluruskan punggungnya, "Maafkan ketidaksopanan saya, yang tidak menyadari Duchess pada saat itu."
'Ap-Apa?! Komandan pasukan!'
Berapa kali pun aku mengerjapkan mata tetap saja yang berdiri di hadapan ku ini adalah pria yang aku temui di malam festival.
__ADS_1
"Duchess...?" Gavin menatapku kebingungan sembari menggaruk tengkuk nya.
"Kau pernah bertemu dengan ksatria ku?" Carxen menatapku dengan tajam, aura gelap seakan keluar dari belakangnya.
"Nona Viola!" suara hangat tersebut membuatku tersentak.
Aku segera menoleh ke belakang, terlihat seorang gadis dengan pakaian biasa berjalan menghampiri ku sembari membawa keranjang buah anyaman yang tergantung di lengannya.
"Nona Shanon...?" kata ku pelan.
'Tunggu. Sedang apa Nona Shanon di sini? Jangan bilang dia juga kstaria?'
"Nona Viola?" cetus Carxen penuh penekanan.
Aku hampir lupa kalau dia masih ada disini. Aku tidak berani menoleh ke arah Carxen. Aku bisa merasakan tatapan tajam menembus punggung ku sekarang.
"Nona, Sedang apa Anda disini?" Shanon memegang tanganku sembari tersenyum hangat.
'Seharusnya aku yang bertanya begitu.'
"Shanon..." Seorang pria tinggi berbahu lebar, tiba-tiba datang diantara kami, dan berbisik kepada Shanon.
Entah apa yang pria berambut perak itu bisikan, yang pasti ekspresi Shanon langsung berubah, terkejut.
"Saya memberi hormat kepada Duchess Callisto, maafkan kelancangan yang telah saya perbuat. Saya pantas dihukum!" Shanon segera membungkuk.
"Saya berharap, Nona Shanon tetap memperlakukan saya seperti biasa. Bukankah kita berteman?"
Shanon segera meluruskan punggungnya dan tersenyum lembut kepada ku, "Jika itu yang Duchess inginkan. Saya akan merasa terhormat dan dengan senang hati menerimanya."
__ADS_1