Cintai Aku Tuan Duke

Cintai Aku Tuan Duke
Bab 14.Rasa Ketakutan


__ADS_3

...~Love Me My Lord Duke~...



...~oOo0oOo~...


Meski aku tampak tenang sambil melahap makanan ku, tapi pikiranku sedang berkecamuk. Aku terus bertanya-tanya mengapa Carxen datang ke kamarku. Ditambah lagi percakapan antara Carxen dan Alfonso semalam benar-benar membuatku salah paham.


"Apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya Carxen, membuat ku langsung menghentikan kegiatan ku yang tengah memotong steak di piringku.


'Rupanya dia terus mengingat permintaanku sewaktu di ruangan kerjanya? Aku kira dia sama sekali tidak peduli.'


Aku menatap lurus ke arah Carxen yang sedang memotong steak di piringnya, "Mungkin bagi Anda apa yang akan saya katakan tidaklah penting. Meski begitu saya tetap ingin mendengar alasan Anda."


Carxen mengangkat kepalanya dan menatapku. "Ini soal Anda yang datang ke kamarku dalam keadaan mabuk," ujarku.


Dia terlihat menakutkan kedua alisnya, "Bukankah wajar jika aku tidur bersama mu," pungkasnya yang tampak biasa saja.


Memang benar, tapi bukan jawaban seperti itu yang ingin aku dengar. Entah jawaban seperti apa yang aku inginkan keluar dari mulut Carxen. Yang pasti aku merasa sedikit kecewa mendengar jawabannya saat ini.


"Memang wajar, hanya saja..."

__ADS_1


"Hmm, hanya saja?..." tanya nya, mengulangi perkataan ku.


"Hanya saja dalam keadaan mabuk itu sedikit--"


"Aku sama sekali tidak mabuk," celetuknya, memotong perkataan ku dan masih menatap datar ke arahku.


Mataku melebar menatapnya, "Jadi... waktu itu... Anda sepenuhnya sadar?"


Carxen tidak menjawab dan melanjutkan melahap makanannya. Sementara aku masih menatapnya tak menyangka, karena merasa dibohongi.


Aku menunduk menatap sarapan ku, "Membuat orang berdebar saja..." kata ku pelan.


"Semalam aku datang memeriksa kamarmu," ungkap Carxen tiba-tiba, yang membuat ku tersentak.


Aku segera menatapnya, menunggu dia mengatakan sesuatu lebih lanjut. Carxen mengalihkan pandangannya dan menatapku, "Semalam ada dua orang penyusup yang masuk kedalam rumah. Satu orang lolos tapi aku berhasil memotong satu lengannya," ungkapnya yang membuat ku bergidik ngeri.


"Yang satunya lagi..." Carxen mengalihkan pandangannya dariku ke arah lain, "Kau tenang saja aku sudah membereskannya," sambungnya.


Aku menelan ludah dengan gusar, perutku terasa tidak nyaman, nafsu makan ku tiba-tiba menghilang. Rasanya aku ingin muntah membayangkan apa yang dia lakukan semalam.


TRANGG!!!

__ADS_1


Suara garpu yang terjatuh ke lantai terdengar sangat nyaring di tengah suasana hening yang tercipta diantara kami berdua.


Rasa segan yang perlahan-lahan ku kubur dalam lerung ketakutan, yang selalu berusaha ku tepis ketika aku teringat oleh kenyataan, kini kembali lagi. Kali ini benar-benar tidak bisa aku atasi.


"Viellen...?" panggil Carxen, memastikan ku begitu melihat gelagat ku yang aneh.


"... Apa Anda... menghabisi orang itu?" tanyaku, sembari meremas pisau daging di tanganku.


"Seperti yang dapat kau bayangkan. Benar, aku membunuhnya."


'Apa yang sebenarnya kamu harapkan dari pria ini Viellen? Dia bahkan bisa membunuhmu kapan saja kalau dia menginginkan itu. Bodohnya kamu malah mengharapkan cinta darinya.'


Aku hampir lupa kalau pria yang aku nikahi ini adalah pria kejam yang dapat mengacungkan pedang kepada siapapun tanpa kenal rasa kasihan ataupun berdosa. Aku terlalu terlena dengan topeng wajahnya yang tidak menunjukkan bahaya saat berada disekitar ku. Dia membuat pengawasan ku perlahan-lahan menurun.


Aku segera berdiri, "Tuan Duke. Aku permisi sekarang. Terima kasih sudah mau menemani ku sarapan." Setelah mengatakan itu, aku langsung melenggang pergi.


Aku sungguh tidak ingin menatap mata Carxen, ataupun menunggu dia mengatakan sesuatu.


'Ke-Kenapa tanganku bergetar seperti ini?'


Apakah aku sedang ketakutan. Ataukah aku sedang kecewa. Aku sungguh tidak mengerti. Aku tersentak ketika dia menatapku dengan matanya yang merah. Aku bergidik ketika dia menyentuh tanganku dengan tangannya yang dingin. Aku segan ketika dia berada di sekitar ku. Aku takut menghadapinya. Aku sungguh takut. Kenapa aku telat menyadarinya.

__ADS_1


__ADS_2