Cintai Aku Tuan Duke

Cintai Aku Tuan Duke
Bab 28.Aku Mencintaimu


__ADS_3

...~Love Me My Lord Duke~...


Waktu berganti, hari demi hari berlalu. Kabar dari Carxen tak kunjung terdengar. Selama Carxen pergi ke medan perang, aku yang bertanggung jawab penuh atas kediaman Callisto.


Aku bahkan sudah mulai mengelola keuangan rumah tangga. Aku mengurus kediaman Callisto didampingi langsung oleh Ivone dan Alfonso yang dengan sigap membantuku kapan saja ketika aku membutuhkan mereka.


Sudah menginjak 20 hari semenjak kepergian Carxen ke medan perang. Konflik terjadi karena raja memberikan perintah untuk menekan negara tetangga yang sudah berada di ujung tanduk. Perang ini terjadi bukan hanya semata-mata demi memperebutkan kekuasaan, tapi juga memutus rantai penyebaran wabah di negara asal virus tersebut. Dengan kata lain pembantaian masal.


Setiap hari terasa begitu menyiksa bagiku. Rasa khawatir serta kecemasan yang tiada akhir seakan menggerogoti jiwaku. Aku bahkan tidak bisa tidur kalau belum meneguk obat tidur.


"Sudah saya duga Anda berada di sini Nyonya," ucap Alfonso yang baru saja masuk ke dalam ruangan kerja Carxen.


Aku berdiri disudut jendela, sembari menyilangkan lengan ke depan dada dan melihat ke luar jendela menatap salju yang sudah menyelimuti rerumputan di bawah sana.


"Apa yang membawa mu kemari Alfonso?" Aku menghela nafas berat, "Apa sudah ada kabar dari Tuan Duke, atau yang lainnya?"


Aku benar-benar merindukan Carxen. Aku tidak pernah menyangka akan datang hari dimana aku akan merindukannya sebelum kematian menjemput ku.


"Mereka sudah kembali Nyonya..."


Aku langsung menoleh ke arah Alfonso di belakang sana.


"Para ksatria telah kembali di bawah," sambung Alfonso.


BRAKK!!


Ivone membuka pintu dengan keras, dan berlari masuk, "Nyonya!!"


Dia terlihat terengah-engah seperti habis berlari dari lantai pertama.


"Ada apa Ivone?"


"Tu-Tuan Duke Nyonya!!" sergah Ivone.

__ADS_1


Aku tersentak, jantung ku berdegup cepat, "A-Ada apa dengan Tuan Duke?"


Ku langkahkan kakiku menghampiri Ivone, "Dimana dia? Katakan sekarang!" Aku mengguncang tubuh Ivone yang masih tersengal-sengal, meminta kejelasan.


Mata Ivone tiba-tiba berkaca-kaca, pelupuk matanya digenangi air mata, "Tuan Duke belum ditemukan..." ucap Ivone pelan.


"Apa maksudmu?" Aku lekas menoleh ke arah Alfonso, "Tolong jelaskan apa yang terjadi dengan Tuan Duke, Alfonso?"


"Tuan Duke terpisah dari rombongan begitu penaklukan telah selesai."


Setelah mendengar ucapan Alfonso, aku langsung keluar dan berlari menuruni anak tangga.


'Tidak. Kumohon bertahanlah. Jangan tinggalkan aku. Tetaplah bertahan disana.'


Aku pergi ke stall kuda dan menunggangi kuda dengan kecepatan penuh keluar dari area kediaman Callisto.


'Wilayah Utara atau apalah itu, aku tidak peduli mau sejauh apapun itu. Aku akan tetap menyusul mu.'


Karena itu tunggulah sebentar lagi.


"Hey! Tenanglah teman." Aku mengelus-elus kuda jantan yang aku tunggangi namun dia tiba-tiba kehilangan kendali.


BRUKK!!!


Kuda berwarna abu-abu arang tersebut berlari setelah membuat ku terjatuh ke bawah di atas salju.


"Jangan kabur! Kuda sialan!" teriak ku.


Sikut ku mengeluarkan darah. Aku telah ceroboh karena tidak memakai pelindung apapun. Dan sekarang aku malah tersesat di bukit salju yang entah dimana.


"Aku tidak boleh menyerah..."


Aku berdiri perlahan, lalu melangkah ke depan. Angin salju terus menyeruak berhembus dari arah depanku.

__ADS_1


"Aku harus menemukan Carxen. Aku yakin dia sedang menunggu ku."


Aku terus berjalan, entah sudah berapa lama, namun yang terlihat di depanku sejak tadi adalah salju yang tidak berujung.


Kini aku bahkan tidak bisa membedakan dimana arah selatan dan utara. Ku hentikan langkah ku dan menatap pergelangan tanganku.


"Tersisa 17 jam lagi..."


Jika dalam waktu 17 jam aku belum menemukan Carxen. Maka aku tidak akan pernah bisa bertemu dengannya lagi.


Aku tidak mau. Aku menolak takdir ini. Sejak awal seharusnya tidak seperti ini. Ini semua karena mimpi sialan itu. Lagipula bukan keinginan ku untuk masuk ke dalam dunia ini. Itu tidak adil. Segalanya tidak adil.


"Carxen!!"


"Kau dimana, hah!"


"Kau tidak boleh meninggalkan ku!!" teriakku.


"Hanya aku yang boleh meninggalkan mu!" ucap ku dengan suara lantang.


Aku bahkan tidak peduli mau ada yang mendengarnya atau tidak. Aku hanya ingin berteriak.


"Aku mencintaimu!!"


"Aku sangat mencintaimu!!"


"Aku sangat mencintaimu Tuan Duke!!"


Tanganku terasa sangat dingin, ku gosok-gosokkan kedua telapak tanganku, berusaha menghangatkan diri, "Bertahanlah..." kata ku pelan.


Dari kejauhan aku melihat seekor kuda berwarna hitam yang sedang berjalan menuju ke arahku. Sosok yang menunggangi kuda tersebut memakai jubah hitam yang sudah terkoyak-koyak.


Mataku melebar tak percaya, tubuhku bergeming.

__ADS_1


'Apa itu kau?!'


__ADS_2