Cintai Aku Tuan Duke

Cintai Aku Tuan Duke
Bab 20.Rahasia Yang Terbongkar


__ADS_3

...~Love Me My Lord Duke~...



...~oOo0oOo~...


"Ivone, bantu aku bersiap-siap, sebentar lagi waktunya makan malam." Aku berkata sembari turun dari atas tempat tidur dan memakai alas kaki.


"Baik Nyonya," sahut Ivone yang sigap membantuku turun.


Kenapa aku tidak sadarkan diri selama tiga hari. Hal ini tidak pernah terjadi sebelumnya. Padahal aku hanya datang berkunjung untuk melihat Carxen tempo hari. Seolah bereaksi dengan energi Carxen, tanda di pergelangan tanganku memberontak. Hingga membuat tubuhku kewalahan.


'Kenapa hanya bereaksi kepada energi Carxen? Apa karena dia target kutukannya?'


"Nyonya, sudah hampir 20 menit Anda berendam di dalam air hangat, kulit Nyonya juga sudah memerah," pungkas Ivone yang tampak cemas melihat ku.


Aku segera keluar dari bathtub, dan mengambil handuk di tangan Ivone, "Apa kamu tahu dimana Tuan Duke?" tanyaku sembari mengelap leherku.


"Saya baru melihat Tuan Duke keluar dari kediaman hari ini Nyonya. Selama Nyonya terbaring demam, Tuan Duke selalu berada di sisi Nyonya. Tuan Duke hanya akan keluar dari kamar Nyonya pada saat ada keperluan penting."


'Sebenarnya ada apa dengan sikap Carxen? Tidak mungkin dia tiba-tiba jatuh cinta kepada ku.'


Selesai berpakaian, aku segera turun ke bawah menuju ke ruangan makan.

__ADS_1


Aku menatap jam antik di dekat pintu, waktu kini menunjukkan pukul 7 lewat.


"Nyonya," panggil Ivone yang berdiri di belakang kursi ku.


"Ada apa, Ivone?" tanyaku sembari memotong roti menggunakan pisau di piring ku.


"Apa Nyonya akan pergi ke luar malam ini?"


Aku mengangkat garpu ku, dan melahap roti isi daging tersebut, "Benar. Memangnya kenapa?" Aku segera menoleh ke arah Ivone.


"Tapi Nyonya kondisi Nyonya belum sepenuhnya pulih," sergah Ivone, nada suaranya sedikit meninggi.


Aku menghela nafas pelan, "Aku tahu..." Aku segera mengalihkan pandangan ke depan, "Tapi jika aku tidak memanfaatkan kesempatan ini, mungkin saja kedepannya tidak akan ada lagi kesempatan kedua."


"Nyonya! Apa Anda baik-baik saja?" tanya Ivone sembari menyentuh pundak ku. Aku menoleh ke arah Ivone dan memegang tangannya yang masih berada pundak ku, "Kali ini pun, mohon bantuanmu, Ivone..."


Apa yang harus aku katakan kepada Kyle begitu sampai disana. Bagaimana kalau dia mengusirku? Walau bagaimanapun aku harus menjelaskan sesuatu kepadanya. Aku yakin dia pasti mengerti.


Begitu aku sampai di panggung teater. Aku segera menemui Kyle dan memberitahu dia apa yang sebenarnya terjadi kepadaku selama tiga hari. Kyle hanya terdiam mendengarkan penjelasan ku. Dia terlihat menghela nafas panjang.


"Saya tidak menyalahkan Nona Viola sejak awal," Kyle tersenyum lembut kepada ku. "Melihat Nona mencari saya dan memberikan penjelasan, saya merasa sangat dihargai. Dan itu sudah lebih dari cukup." Kyle mengambil tanganku, lalu mengecupnya.


Aku tersentak, dan langsung menarik tanganku dari Kyle, "Tuan Kyle... Anda... Anda seharusnya tidak perlu melakukan hal seperti ini." Aku berusaha menghindari tatapannya.

__ADS_1


"Ah! Maaf, saya hanya-"


Aku segera berdiri dan mengambil tongkat ku di lantai, "Sepertinya sekarang giliran saya yang tampil," kata ku sembari menatap Kyle dengan sungkan, "Saya permisi sekarang Tuan Kyle." Lalu aku berbalik badan dan melenggang pergi meninggalkan Kyle.


'Aku tidak mengerti mengapa Kyle tiba-tiba bersikap seperti itu. Sikapnya, bahkan tatapannya. Sungguh sangat membingungkan ku."


Ketika aku menaiki anak tangga satu persatu, semua orang memperhatikan ku hingga kakiku mencapai lantai panggung. Begitu aku sampai di tengah-tengah panggung mereka bersorak dengan antusias. Perasaan bergejolak didalam diriku yang tak bisa ku ungkapkan lewat kata-kata, perasaan inilah yang selalu aku rindukan.


Aku teringat kembali dengan Kyle. Jika sejak awal yang kutemui adalah Kyle lalu menikah dengannya? Apa yang akan terjadi? Akankah aku terbebas dari kutukan ini?


Hentikan Viellen, apa yang sedang kamu pikirkan. Jangan pernah menyesali keputusan yang telah kamu ambil. Itu hanya akan membuatmu semakin tertekan dan ragu ketika melangkah ke depan.


Aku mulai memutar tongkat ku sembari berusaha menampik pikiran-pikiran yang terbesit di dalam kepalaku. Aku berusaha memutar tongkatku seirama dengan gerak tubuhku serta alunan musik yang terdengar berseru di telingaku.


"Ah!"


Aku tersentak begitu melihat Carxen yang berdiri di antara para penonton. Lengannya di silangkan ke depan dada. Sinar matanya yang seperti permata ruby itu sedang menuju ke arahku. Dia bahkan tidak memakai topeng wajah, seolah dia sengaja ingin memperlihatkan wajahnya kepada seseorang.


Sekujur tubuhku seketika merasa merinding, tanganku tiba-tiba bergetar membuat tongkat dalam genggaman ku terjatuh. Suara dentingan benda jatuh tak bisa terelakkan, membuat para penonton bungkam memperhatikan tindakan ku. Belum sempat aku mengerjapkan mata, dalam waktu sekejap itu pula aku kehilangan fokus, meluluhlantakkan segalanya.


'Se-Sejak kapan dia berdiri disana? Apa jangan-jangan yang aku lihat waktu itu juga adalah...?'


"Ah! Nona Stick Master Anda sangat cantik!" seru salah seorang penonton.

__ADS_1


Aku meraba-raba wajahku dan dengan cepat mengalihkan pandanganku ke bawah lantai panggung.


__ADS_2