Cintai Aku Tuan Duke

Cintai Aku Tuan Duke
Bab 6.Ciuman Pertama (17+)


__ADS_3

...~Love Me My Lord Duke~...



...~oOo0oOo~...


Carxen mengambil satu langkah ke depan sambil terus mencondongkan tubuhnya ke arahku.


Wajahnya perlahan-lahan mendekat ke wajahku. Aku menatapnya dengan kebingungan, pipiku terasa panas melihat wajahnya yang semakin mendekat. Tidak mungkin aku tiba-tiba mendorongnya ke belakang karena ada begitu banyak pasang mata yang sedang memperhatikan kami saat ini.


"Uhmp---!!!"


Bibir Carxen mendarat tepat di bibirku yang sedikit terbuka. Pupil mataku melebar selagi menatap matanya karena tak habis pikir dengan tindakannya. Aku bisa merasakan bibirnya yang lembut sedang menempel di bibirku, aku bisa merasakan hangat nafasnya di kulit wajahku. Jantung ku berdegup kencang, sungguh aku tidak tahu lagi harus berbuat apa setelah ini.


Carxen menatap mataku, tatapannya masih sama seperti sebelumnya. Dia bahkan tak terlihat gugup ataupun malu. Aku bertanya-tanya apa yang sedang dia pikirkan saat ini.


Carxen segera menarik diri dariku. Kecupan tadi bahkan tidak sampai hingga 10 detik. Jelas-jelas Itu hanya sekedar ciuman formalitas saja.

__ADS_1


Meski begitu, tetap saja apa yang dia lakukan itu keterlaluan. Dia telah mengambil ciuman pertamaku, tapi mengapa hanya aku saja yang berdebar dan salah tingkah seperti ini. Wajahku saja masih merona, ditambah lagi dengan telinga ku yang masih terasa panas.


Suara tepuk tangan tiba-tiba terdengar mengisi seisi ruangan. Aku langsung mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan. Para hadirin terlihat berdiri sambil memberikan tepuk tangan yang meriah dengan senyuman bahagia.


"Selamat atas pernikahan kalian berdua, Tuan Duke dan Duchess Callisto," ujar Martha yang duduk di kursi paling depan dengan didampingi Vounch dan Eleanor di sebelah kiri dan kanannya.


Aku tersenyum lebar menanggapi ucapan Martha. Entah mengapa tiba-tiba suasananya menjadi berubah, tidak seperti di awal tadi yang terasa canggung.


Sekarang adalah awal dari permulaan baru di kehidupan ku sebagai istri Carxen.


Aku menatap cincin di jari manis tangan kananku. Kemudian aku beralih melihat ke arah Carxen yang sedang memperhatikan ke arah lain.


Carxen bergeming, dia tidak mengatakan apapun saat aku mengatakan itu. Dia segera mengalihkan pandangannya ke arah lain. Aku menggaruk tengkuk ku karena merasa malu.


'Setelah di pikir-pikir lagi, jarak usia antara aku dan Carxen cukup jauh, yaitu 4 tahun. Aku 18 tahun sementara dia 22 tahun. Pasti sulit bagi dia bisa menerima istri yang masih terlalu dini. Tapi bukankah ada yang lebih parah dibandingkan jarak usia kami?'


Contohnya Count dan Countess Melfourd yang duduk di belakang barisan kursi Martha. Countess Melfourd, Elisa De La Melfourd, merupakan teman dekat Martha, usia Elisa 19 tahun. Elisa menikah dengan Count Melfourd, George Von Melfourd, yang berusia 25 tahun.

__ADS_1


'Jarak usia yang cukup jauh. Untung saja Count Melfourd cukup tampan. Disisi lain dia juga memiliki banyak uang. Bukankah kekuatan uang yang terpenting?'


"Ekhem..." Carxen berdehem pelan di sebelah ku. Aku segera menoleh ke arahnya, menatap dia dengan penasaran dan penuh pertanyaan.


'Hmm?... Sekarang ada apa dengan dia?'


"Kau bisa membuat orang lain salah paham dengan tatapan mu," pungkas Carxen, dia sama sekali tidak melirik ku, dan masih menatap lurus ke depan.


'Apa itu barusan?... Apa dia cemburu? Mana mungkin kan pria berdarah dingin ini cemburu...? Kalau dia cemburu besok matahari pasti akan terbit dari barat.'


Kemudian---


Carxen memegang tanganku sambil berjalan keluar dari Mansion, aku dapat melihat sisi lain dari dirinya yang sedang berusaha menyamai langkahnya dengan langkah kaki ku.


Ketika berada di luar gedung Vounch dan Eleanor memelukku dengan erat.


"Selamat menempuh kehidupan baru, nak," ucap Eleanor, sembari memegang wajahku dengan lembut, sentuhannya tak berubah tetap terasa hangat.

__ADS_1


"Kapan saja kamu membutuhkan kami, pulang saja ke rumah, kamu akan selalu menjadi putri kami," pungkas Vounch, dia memegang tanganku dengan erat.


Aku hanya mengulum senyuman sembari menatap keduanya, aku tidak tahu harus mengatakan apa. Air mataku mengalir sebelum aku membuka mulut untuk mengatakan salam perpisahan.


__ADS_2