
...~Love Me My Lord Duke~...
Tiga bulan kemudian, aku mendapatkan surat dari Martha bahwa dia akan segera menikah minggu depan. Dan pernikahan itu akan dilangsungkan di Mansion Grand Holy, mansion tua klasik yang bertempat di dekat hamparan pasir dan laut yang menakjubkan. Tempat dimana aku dan Carxen melaksanakan pernikahan dulu.
"Nyonya, jangan selalu berlama-lama berdiri di depan balkon kalau sudah petang. Nanti Nyonya bisa sakit."
Ivone menutupi bahuku dengan kain tipis. Aku menoleh ke belakang dan tersenyum lembut ke arahnya, "Jangan khawatir Ivone. Bukankah aku selalu melakukan ini? Tidak ada yang perlu dikhawatirkan."
Ivone terdengar menghela nafas pelan, "Saya tahu Nyonya. Hanya saja kali ini kondisi Nyonya sudah berbeda dengan yang dulu."
"Benarkah itu? Tapi aku tidak merasa demikian."
"Kalau begitu saya akan membuatkan Nyonya teh dan membawa beberapa kue."
"Ide bagus. Bawa saja kue strawberry aku sedang ingin makan itu."
"Baik Nyonya. Apa ada lagi yang Nyonya inginkan?"
"Um, sepertinya tidak ada lagi. Maaf aku harus merepotkan mu lagi Ivone."
Ivone tersenyum hangat kepadaku, "Sama sekali tidak merepotkan Nyonya. Apapun itu asalkan Nyonya merasa senang saya akan melakukannya dengan senang hati."
"Kemampuanmu membuat hatiku senang semakin hari semakin meningkat yah. Itu suatu pencapaian yang bagus."
Ivone tertawa pelan mendengar perkataan ku, "Kalau begitu saya permisi sekarang."
Aku lalu memalingkan wajah ke depan, menatap matahari terbenam berwarna jingga yang memanjakan mata.
Aku menghela nafas pelan, lalu aku beralih menatap angka yang terukir di pergelangan tanganku.
"Setidaknya masih ada sisa waktu... Sampai hari itu tiba."
__ADS_1
Angin sejuk berhembus menerbangkan rambutku dan membuat kain di bahuku melorot hingga ke lenganku. Seseorang membantuku menutupi bahuku dari belakang.
"Ah, terima kasih Ivone."
Lengan besar tiba-tiba melingkar di perutku, aku tersentak dan langsung menoleh ke belakang.
"Sayang?..."
Carxen menyandarkan kepalanya di pundak ku, "Hm..."
Aku mengusap rambut Carxen dengan lembut, "Kau sudah pulang sayang. Ada apa ini, kau bahkan tidak mengetuk pintu seperti biasanya?"
"Aku telah menyelesaikan semua pekerjaan dan bergegas pulang untuk menemui mu."
Lihatlah pria garang ini. Dia terlihat seperti singa yang habis disiram air sekarang. Sangat menggemaskan.
Aku menghela nafas dan tersenyum lembut, "Kerja bagus sayang. Aku bangga padamu."
Meski terkadang memalukan apalagi ketika para pelayan melihatnya, setidaknya aku jadi bisa tahu kalau dia sangat mencintaiku.
Aku lekas menarik diri dari ciuman, "Cukup sayang."
Carxen membalikkan tubuhku lalu memelukku dengan erat, "Tidak, ini belum cukup. Aku masih merindukanmu."
Aku tertawa pelan, "Kita hanya tidak bertemu setengah hari sayang."
"Tetap saja terasa sangat lama. Sekarang sudah ada dua orang yang akan menungguku pulang."
Aku tersenyum mendengar itu. Carxen melepaskan pelukannya lalu mengusap perutku dengan lembut dan hati-hati.
"Ada apa sayang?"
__ADS_1
"Tidak. Aku hanya memeriksanya."
Aku terkekeh pelan, "Dia baik-baik saja sayang. Jangan khawatir."
"Ya, kalian berdua harus selalu baik-baik saja." Carxen lalu mencium keningku dengan lembut.
"Sayang, tadi pagi aku mendapatkan surat dari saudariku. Dia mengatakan akan menikah minggu depan di Mansion Grand Holy."
"Hm, benarkah itu?" Carxen memainkan rambutku yang terurai di belakang.
"Sayang, apa kau mendengarkan aku?"
Carxen tersenyum kecil lalu memegang wajahku, "Aku selalu mendengarkan mu sayang."
Tak lama kemudian Ivone masuk dengan mendorong sebuah troli yang berisi teh dan beberapa kue strawberry. Aku segera menghampirinya. Sementara Carxen memperhatikan kami dari balkon.
"Terima kasih Ivone."
"Bukan masalah Nyonya. Kalau begitu saya permisi sekarang."
Ivone buru-buru keluar dari kamar ku. Sepertinya dia merasa segan kepada Carxen.
"Sayang, berhentilah menatap Ivone seperti itu."
"Aku memang seperti ini."
Tidak. Kau hanya menatap tajam ke arah gadis malang itu karena dia selalu datang disaat yang tidak tepat.
"Baiklah, aku akan mencobanya."
"Bagus, sayang."
__ADS_1
Entah sejak kapan, dia mulai menjadi kekanak-kanakan.