Cintai Aku Tuan Duke

Cintai Aku Tuan Duke
Bab 19.Tak Sadarkan Diri


__ADS_3

...~Love Me My Lord Duke~...



...~oOo0oOo~...


"Ah!" Aku tersentak.


Bagai tersengat lebah, pergelangan tangan ku tiba-tiba terasa berdenyut seakan habis di tekan oleh setrika panas. Angka 47 yang terpatri dipergelangan tangan ku menjadi berwarna merah menyala.


Bulir-bulir air terasa dipermukaan kulitku, keringat mulai mengucur perlahan di sekujur tubuhku, rasa sakit yang tak bisa ku bendung membuat tubuhku bergetar. Aku memegang pergelangan tanganku dengan erat, berusaha meredam rasa sakitnya. Tapi itu sama sekali tidak berpengaruh.


Carxen langsung menarik pergelangan tanganku dan menekan pergelangan tanganku yang terasa sakit menggunakan ibu jarinya, "Hngh!!" aku mengerang kesakitan.


Aku menatapnya dengan mata memelas, keningnya mengkerut melihat reaksiku.


"Le-Lepaskan!...I-Ini menyakitkan..." suaraku terdengar parau.


"Bertahanlah."


Carxen memegang pergelangan tanganku erat lalu menarik ku dengan paksa agar aku ikut dengannya. Aku menggigit bibirku, berusaha tidak mengeluarkan suara rintihan karena menahan rasa sakit.


Entah kemana Carxen akan membawaku. Dia terus berjalan dengan langkah cepat tanpa mempedulikan aku yang tengah kesulitan menyesuaikan langkah kakinya di belakang.


Aku menarik baju Carxen tanganku masih bergetar, "A-Aku...Aku tidak kuat lagi..." kata ku pelan dengan suara yang masih bergetar.

__ADS_1


Carxen menoleh ke belakang ke arahku, tangannya masih menggenggam erat pergelangan tanganku. Dia segera menggendong ku ala bridal style.


Aku memejamkan mataku perlahan. Gelap. Kesadaran ku perlahan-lahan semakin menurun dan menghilang.


Kemudian---


"Carxen..." gumam ku.


Pergelangan tanganku terasa hangat, tidak semenyakit kan seperti di awal tadi. Aku merasakan sentuhan jari seseorang. Sepertinya ada seseorang yang sedang mengusap-usap pergelangan tanganku.


Dalam keadaan setengah sadar, aku berusaha membuka mataku sedikit. Meski samar-samar aku masih bisa melihat Carxen yang sedang duduk di kursi tepat di sebelah tempat tidurku.


'Kenapa dia masih disini? Apa dia sedang mengkhawatirkan ku?'


Aku mengerjapkan mataku perlahan, sentuhan jari Carxen masih terasa, membuatku terlena dalam kenyamanan, mengantarkan ku ke dalam kubangan ketidaksadaran dan membenamkan ku semakin dalam.


Saat ini aku tengah menatap ke luar balkon memandangi langit yang menawan. Pemandangan langitnya terlihat menakjubkan lewat kehadiran warna jingga yang menyembur dari arah matahari terbenam. Tirai-tirai berkibar terkena angin yang berhembus sejuk.


"Nyonya!" Aku segera menoleh, dan melihat ke arah Ivone yang baru saja masuk. Ivone melihat ku dengan mata mendelik, seolah terkejut dia segera berlari ke arah ku.


"Akhirnya Nyonya bangun..." ucap Ivone sembari mengusap pelupuk matanya yang berlinang air mata.


Aku tersenyum kecil kepada Ivone, "Aku hanya tertidur sebentar, kenapa kau terharu seperti itu..."


"Nyonya tidur selama 3 hari. Bagaimana bisa saya tidak sedih dan khawatir."

__ADS_1


Aku tersentak mendengar perkataan Ivone.


"Ap-Apa?! 3 hari?!" Aku menatap Ivone dengan kerutan dikening ku. Ivone hanya mengangguk pelan tanpa kata-kata.


Perasaanku bercampur aduk. Aku menjadi gelisah. Aku langsung memeriksa pergelangan tangan kiri ku. Dan benar saja angka di sana berubah. Mataku melebar begitu melihat angka yang terpampang jelas disana.


" 44..." Aku tidak bisa mengalihkan pandangan ku dari angka tersebut.


"Nyonya. Apa Nyonya baik-baik saja?" tanya Ivone sembari menyentuh tanganku.


"Festivalnya! Bagaimana dengan festival nya?!" sergahku seraya menatap Ivone.


Ivone menghindari tatapan ku dengan sungkan, "Besok adalah malam terakhir festival Nyonya..." ucapnya pelan.


"Be-Besok?..."


'Bagaimana dengan Kyle? Apa dia menungguku? Bagaimana pun, aku harus pergi ke sana malam ini dan menjelaskannya kepada Kyle.'


"Nyonya," panggil Ivone dengan ragu-ragu. Ia masih berusaha menghindari kontak mata dengan ku.


"Itu Nyonya kan? Stick Master yang sedang di bicarakan oleh orang-orang akhir-akhir ini?" Ivone mengangkat kepalanya dan menatapku dengan sayu.


Aku terdiam sejenak sembari mengalihkan pandangan ku, "Bagaimana kau bisa tahu?" aku memperhatikan di bawah sofa tempat dimana aku menaruh tongkatku.


"Ketika saya membersihkan kamar Nyonya, saya menemukan sebuah tongkat di bawah sofa. Saya segera yakin kalau Stick master yang sedang di bicarakan oleh para pelayan itu adalah Nyonya," ungkap Ivone.

__ADS_1


Aku menghela nafas pelan lalu menatap Ivone, "Aku memang tidak bisa menyembunyikan apapun darimu rupanya..."


__ADS_2