
Tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang melihat ke arah mereka dengan tetapan tidak senang. Gilang yang duduk tak jauh dari tempat Hari dan Tasya duduk melihat semua kejadian mesra yang dilakukan oleh gadis yang baru ia taksir.
"permisi ini pesanannya" ucap pelayan cafe mengantarkan pesanan mereka berdua.
"wow bau menyengat mie pedasmu ter endus sampai kesini" ucap Hari.
"ya namanya kita duduk bersebelahan pastinya kebaikan lah,,,, ya udah selamat makan" ucap Tasya.
Awal-awalnya Tasya kelihatan semangat memakan mie pedas, namun siapa sangka makin lama ia memakan semakin pedas. Hal asil Tasya di larang untuk menghabiskan makanannya oleh Hari. Hari langsung menukan makananya dengan Tasya.
"udah,, gak usah di habiskan" ucap Hari.
"huuhhhh, kenapa? " tanya Tasya yang kepedasan.
"liat kamu tu udah kepedasan,, bibirnya juga udah merah banget" ucap Hari.
"tapi kalau gak aku habiskan aku kan masih laper" ucap Tasya yang memang sudah tak kuat dengan kepedasan mienya itu.
"ini kamu makan punya aku, aku makan punya kamu" ucap Hari.
"ini pedas loh yang,,, " ucap Tasya.
" aku bisa habisin nya kok" ucap Hari.
Selanjutnya mereka menghabiskan makanan yang ada di depan mereka tanpa adanya suara. Gilang yang melihat Tasya kepedasan langsung merasa kasihan melihatnya, rasanya ingin sekali dirinya menarik tangan Tasya ke tempat penjual es. Agar rasa pedas yang ia rasakan itu hilang.
Tak lama kemudian makanan Tasya dan Hari habis tanpa sisa. Untungnya Hari juga orang yang suka makan pedas jadi ia tidak masalah memakan makanan Tasya yang pedas itu.
"kenyang,,, " ucap Tasya.
"sama,,,, " ucap Hari sambil mengelus perutnya yang kekenyangan.
"bentar lagi kita pulang ya,,, " ucap Tasya tiba-tiba.
__ADS_1
"loh kok cepat amat, apa kamu tidak senang? " ucap Hari.
"bukan gitu, aku senang dan sangat bahagia tapi aku ada tugas dari dosen" ucap Tasya.
"oooouuu,, ya udah bentar lagi kita pulang ok,, " ucap Hari.
"ok sayang" ucap Tasya.
Gilang yang mendengar Tasya memanggil laki-laki itu dengan panggilan sayang langsung mengepalkan tangan. Ia merasa kenapa laki-laki itu yang beruntung memiliki Tasya kenapa bukan dia.
...----------------...
Tasya dan Hari saat ini dalam perjalanan pulang menuju kos Tasya. Selama di perjalanan tak henti-hentinya Hari mengelus dan mencium punggung tangan Tasya. Sungguh Hari merasa sangat bahagia karena memiliki kekasih yang sebaik dan semanis Tasya.
Sesampai di kos Hari langsung pamit untuk pulang karna tak enak berlama-lama di lingkungan yang rata-ratanya perempuan semua. Harap di maklumi kawasan kos anak perempuan.
"Ameeeeellll" ucap Tasya yang baru memasuki kamarnya.
"apa sih Ca? gak bisa manggil dengan lemah lembut ya?" ucap Amel kesal dengan kedatangan Tasya yang menggangu ketenangan dirinya menonton drakor.
"kalau gitu kamu pake aja tu toa mushala" ucap Amel.
"heheheh,,, aku happy Mel" ucap Tasya bahagia.
Amel yang melihat ke arah Tasya merasa heran, tumben-tumbennya temannya itu sesenang saat ini.
"kenapa? " tanya Amel.
"hummm,,, aku udah jadian sama cowok itu Mel" ucap Tasya senang.
"wwwaaaaaaaa,,, keknya ada yang harus kasih PJ kek nya nih" ucap Amel.
"PJ nya gak ada Mel, tau gak tadi tu aku makan mie pedas aku kira gak pedas-pedas amat eh ternyata pedas banget" ucap Tasya menceritakan kejadian yang barusan terjadi kepada dirinya.
__ADS_1
"sok-sok an makan mie pedas sih,,, " ucap Amel.
"hehehe, tapi kan makanan aku di tukar sama makanan cowok aku Mel,,, dia bilang aku tu gak usah habisin makanan aku, aaaaaaaa,,,,,, i am happy Mel" ucap Tasya terlihat bahagia.
"bagus kalau kamu itu happy,,, semoga itu cowok betah dengan sikap kamu ya" ucap Amel.
"maksudnya? " tanya Tasya yang tidak paham.
"ia kan kamu orangnya cerewet, suaranya kek toa mushala, malu-maluin dan usil" ucap Amel yang menilai sikap Tasya selama dekat dengan dia.
"is au lah,, aku mau bersih-bersih dulu lah" ucap Tasya.
Disisi lain Gilang yang memperhatikan kebersamaan Tasya dan Hari tadi sungguh merasa marah lebih tepatnya ia cemburu dengan laki-laki yang saat ini sudah menjadi kekasih dari perempuan yang baru saja ia taksir.
Tara yang melihat temannya marah-marah tidak jelas menjadi bingung. Sepulanh dari tempat makan mie pedas tadi Gilang langsung memutuskan untuk ke kos Tara. Siapa sangka sesampainya di kos Tara, Gilang langsung mengambil sarung tinju.
Gilang melepaskan rasa amarah dan cemburunya kepada samsak yang berada di kos Tara. Kos Tara bisa di golongkan kepada kos-kosan elit, karna Tara adalah anak tunggal dari seorang pebisnis kaya raya di kotanya. sedangkan Gilang adalah orang yang memiliki bisnis di berbagai kota tanpa bantuan dari kedua orang tuanya yang juga seorang pebisnis di Eropa.
Gilang menetap di Indonesia dan melanjutkan studinya juga di Indonesia. Bukan karna ia ingin hidup bebas namun hanya ingin hidup tanpa ada aturan dari kedua orang tuanya. Gilang merupakan anak pertama dari dua bersaudara yang adiknya saat ini masih berada di Eropa. Gilang meninggalkan kemewahannya di Eropa demi hidup mandiri di tanah kelahiran sang ibu.
Gilang merupakan anak blesteran indo dan Eropa. Hal itu membuat ia banyak di gemari oleh perempuan di kampusnya di tambah terlahir dari keluarga kaya raya dan juga memiliki perusahaan di mana-mana di negara Indonesia. Meskipun begitu Gilang tidak pernah membalas perasaan perempuan yang menyukainya, namun siapa sangka ia harus menyukai seseorang yang baru ia kenal di kantin tadi siang dan sudah menjadi milik orang lain.
"lu kenapa Lang? datang-datang langsung marah kek gitu" tanya Tara.
" diam lu!!!! " ucap Gilang yang masing meluapkan emosinya kepada samsak yang berada di kos Tara.
"lah gue nanya jir,,,, lu ke kos gue itu karna mau lepasin emosi lu trus pergi gitu,,,, gak bisa jir" ucap Tara yang tak terima di bentak oleh Gilang.
Seketika Gilang juga menggam sarung tinju yang ada di meja. Gilang yang melihat Tara memakai sarung tinju menyengi.
"apa kemampuanmu sudah meningkat sehingga kau berani menentang ku? "ucap Gilang meremehkan Tara.
"mari kita mulai" ucap Tara.
__ADS_1
Saat ini Gilang dan Tara saling membalas pukulan yang di berikan, Gilang yang merasa sangat emosi meluapkan semua amarahnya kepada Tara. Hal itu membuat Tara kewalahan menghadapi kekuatan Gilang yang datang entah dari mana, sehingga membuatnya harus kalah dari Gilang.
Tara dan Gilang melakukan pertandingan yang adil, hal itu sudah mereka biasakan semenjak kuliah.