
Reza menjalani harinya dengan biasa saja, seolah tidak memiliki rasa penyesalan terhadap kepergian Gilsha yang secara tiba-tiba bahkan Reno dan Aris sampai geleng-geleng sendiri melihat reaksi Reza yang seolah tidak peduli kepada sahabat mereka sendiri.
"Lo udah dapat kabar belum tentang Gilsha?" tanya Aris yang berjalan menghampiri Sela.
Sudah beberapa hari ini Sela mencari keberadaan Gilsha namun dia tak kunjung menemukan dimana Gilsha berada, bukan hanya khawatir tapi karena Gilsha sedang mengandung dan sebagai sahabat tentu mereka merasa khawatir.
"Gue juga bantu nyari kok, sabar yah La, okey!" ujar Reno mengusap kepala Sela.
Sela melirik Reno sejenak kemudian mengangguk pelan, setelah menemui Sela, Reno dan Aris memilih kembali ke ruangan mereka, karena ini masih jam kerja.
Disaat mereka kembali ke ruangan kerja mereka berpapasan dengan Reza yang baru saja keluar dari ruangan rawat pasien.
Reno dan Aris sengaja tidak menyapanya karena kesal dengan sikap Reza yang seolah tidak berhati nurani.
"Ren! Ris! Mau kemana?"
Pertanyaan Reza tidak digubris, Reza yang cukup kesal kemudian berjalan dan menahan kedua sahabatnya itu. "Kalian kenapa sih?"
Reno dan Aris saling menatap kemudian menghela napas panjang. "Awalnya kita tuh panutan sama lo, Za! Lo tuh selalu bilang jaga baik perempuan bahkan lo sayang banget sama adik lo yang cewek itu, tapi kenapa sama istri sendiri, lo perlakuin begini?"
__ADS_1
Mendengar ucapan Aris membuat Reza mendelik perlahan. "Kalian tuh kenapa sih? Aku udah juga udah gaada hubungan sama Gilsha."
"Harusnya kami yang nanya, lo kenapa Za! Mana Reza yang kami kenal dulu, sekarang lo kayak gak berhati nurani Za!" teriak Aris.
Reza mengusap pelipisnya kemudian menghela napas panjang. "Ada sebuah hal yang gak akan pernah bisa bikin kalian paham!"
Reza berjalan hendak meninggalkan keduanya namun Reno menarik tangan Reza bermaksud menahannya. "Apa Za? Cerita sama kita, kita sahabat lo juga, kenapa lo masih tertutup?"
"Kalian gak bakal benar-benar mengerti," jawab Reza. "Aku gamau ribut!"
Reno melepaskan tangan Reza, kemudian berdiri menatap kepergian Reza.
"Astagfirullah! Ya Allah!" desah Reza mengusap pelipisnya sendiri.
Reza melepas jas putih kedokterannya kemudian menggulung lengan panjangnya kemudian berjalan menuju musholla yang ada di rumah sakit.
Reza sebenarnya adalah sosok yang taat agama dan baik, entah apa alasan dibalik sikap buruknya selama ini kepada Gilsha, yang pasti ada sebuah alasan disana.
Reza mengambil air wudhu, kemudian melaksanakan sholat dhuhur di Musholla itu, perasaan Reza ada yang mengganjal seperti dia kehilangan sesuatu yang dengan sengaja ingin dia hilangkan.
__ADS_1
Setelah Reza selesai sholat, Reza kemudian bersimpuh, dengan keadaan hati ke hati dengan Allah, Reza memang selalu melakukan ini, meratapi apa yang sudah terjadi.
"Ya Allah, apakah keputusanku salah menjauhkan dia demi menghapus rasa bersalah ini? Maafkan hamba Ya Allah," bisik Reza dalam hatinya sendiri. "Maafkan Papa yah Nak, Papa bukan calon ayah baik, Papa malah dengan teganya memfitnah kamu, sebelum kamu lahir, Papa pengen banget cium kamu dan dampingi kamu sampai kamu lahir."
Air mata Reza perlahan jatuh, seperti ada sebuah sesak di dadanya, seperti dia menanggung sebuah beban perasaan yang membuatnya dipaksa berpisah oleh keadaan.
Pada siapa, Reza ingin berkeluh kesah selain menutupi diri sendiri dengan perasaan dingin yang seolah tidak peduli.
•
•
•
TBC
Assalamualaikum.
Setahu Author itu, Reza bukan pria yang jahat tapi Author bingung kok Reza kayak ada yang ditutupi yah.
__ADS_1
Kalian tahu gak?