
"Ini Tas kamu, kakak sudah menyuruh orang mengambil pakaian kamu dari rumah Bu Syafa tempat kami menginap selama ini, kamu ganti baju dan ini tiket kamu!" Glen memberikan koper berisi baju serta tiket kepada Gilsha.
Gilsha yang bingung langsung menatap kakaknya itu yang membuat Glen memilih membuang muka karena tidak ingin ditanya oleh Gilsha.
"Tiket apa ini kak?" tanya Gilsha yang membuat Glen menghela napas.
"Kakak udah nyiapin rumah di London, kamu malam ini berangkat ke London, kakak bakal disini buat ngurus kasus penabrakan Ayah."
Mendengar itu lantas membuat Gilsha mendelik seribu bahasa pada Reza. "Maksud kakak apa!?"
Glen menghela napas panjang kemudian menarik Gilsha dengan kedua tangan yang dia letakkan di bahu Gilsha. "Maafin Kakak, kamu harus pergi malam ini, Reza itu gak pantas buat kamu."
Mendengar itu membuat Gilsha merasa dikhianati oleh kakaknya sendiri yang berjanji untuk tidak melanjutkan masalah ini.
"Kakak pembohong!" Gilsha memukul-mukul dada Glen yang membuat Glen berusaha menenangkan dirinya. "Kakak pembohong! Gilsha benci kakak!"
"Dengerin kakak Gilsha!" Nada Glen sudah rendah, tapi Gilsha tidak ingin mendengarkan yang membuat Glen membentak. "DENGERIN DULU! INI YANG TERBAIK BUAT KITA!"
"INI TERBAIK BUAT KAKAK, BUKAN BUAT AKU!" teriak Gilsha. "Apa yang baik buat aku, belum tentu buat aku!"
"Sudah Gilsha! Kamu dan Reza juga sudah cerai kan, jadi tidak akan ada masalah lagi, lupakan Reza, banyak pria lain!" Glen menarik tangan Gilsha masuk ke kamar. "Ganti baju kamu cepat!"
Glen mengunci pintu kamar itu yang membuat Gilsha memberontak ingin keluar tapi Glen sudah memasang setel tidak peduli.
"Tapi aku terlanjur cinta sama Mas Reza! Kakak gak pernah mikirin perasaan aku! Kenapa sih kakak itu egois!"
"Pakai baju kamu sekarang! Lupakan Reza dek! Dia tidak pantas!" jawab Glen dari luar kamar.
"Kakak gak tahu! Karena kakak gak pernah jadi aku! Kakak gak tahu rasanya jadi aku!" teriak Gilsha balas.
"Jangan sampai kakak kasar yah Gilsha! Kakak tunggu kamu!" Glen berjalan keluar dari rumah untuk menyiapkan mobil sedangkan Gilsha didalam kamar yang di kunci hanya bisa diam.
"Aku benci kakak!" Gilsha merasa marah pada dirinya sendiri kenapa tidak bisa melakukan sesuatu disaat-saat seperti ini.
Rasanya Gilsha payah dan bodoh saja, Gilsha masih ingat dia masih punya ponselnya yang tidak di ambil oleh Glen.
__ADS_1
Gilsha memilih mengirim voice note kepada Sela karena kalau dia menelepon jelas Glen akan tahu.
[Sela! Aku harus berangkat ke London malam ini, aku dipaksa sama kak Glen, mungkin aku gak bisa nemuin kalian dulu, aku pengen kamu sampein ini ke Mas Reza, aku bakal janji bakal balik, aku janji]
Diburu waktu Gilsha hanya bisa mengirim pesan suara seadanya, selebihnya dia menyiapkan dirinya, karena jika tidak, Glen akan terus memaksa.
Rasanya tidak ikhlas bagi Gilsha meninggalkan Reza dengan jarak yang begitu jauh, apalagi ada anak dalam kandungan Gilsha sebagai pengikat mereka.
Dengan berlinang air mata, Gilsha hanya bisa memandangi foto pernikahannya yang ada di ponselnya.
"Mas Reza, aku kangen."
•
•
•
Malam sudah menyambut penuh rasa sepi, Reza berada di ruangan ICU kondisinya masih belum terlalu baik untuk keluar dari ICU karena beberapa kali dia harus disuntik cairan.
Aris hanya diam, dia yang sudah mengetahui kabar tentang Gilsha tadi tidak bisa berkomentar banyak, cerita dari Reno dan Sela cukup membuatnya mengerti situasi yang terjadi diantara keduanya.
Aris tidak pernah expect bahwa Glen akan datang dan merusak momen bahagia Reza dan Gilsha, kini hanya Aris yang berada di ruangan ICU sedang Reno dan Sela keluar sebentar untuk mencari makan malam.
Reza sudah meminta Reno, Aris dan Sela untuk pulang saja karena seharian mengurusi dia tapi dikarenakan rasa persahabatan yang tinggi membuat ketiganya menolak untuk pergi.
"Lo makan aja dulu, urusan Gilsha biar nanti kita urus, kalau lo gak makan, lo bakal tambah sakit."
Disaat mereka diam tak bergeming, Sela dan Reno masuk ke dalam ruangan itu dengan wajah panik yang membuat Reza dan Aris bertanya-tanya.
"Lo berdua kenapa dah?" tanya Aris yang membuat Reno mengode Sela untuk berbicara.
Sela bingung harus bicara darimana, rasanya dia tidak tega kepada Reza.
"Kenapa sih?" tanya Reza kali ini.
__ADS_1
"Sela bakal dibawa ke London sama Glen, dia ngirim voice note, mereka bakal berangkat sekarang," jawab Sela memutar voice note itu.
Semuanya diam mendengarkan voice note tersebut, sebelum akhirnya ekspresi mereka semua diam kembali.
"Kita harus kejar mereka!" Reza berusaha bangkit namun ditahan oleh Aris.
"Lo masih sakit! Lo gausah biar gue sama Reno dan Sela aja!" cegah Aris.
"Gak! Aku harus pergi!" Reza menarik selang infusnya yang membuatnya terlepas walaupun ada darah namun Reza tidak mempedulikannya. "Kalian harus ikut!"
Ketiganya diam, mereka bingung harus begini, tapi karena kasian dan tidak tega akhirnya mereka bertiga bersedia mengejar Gilsha, walaupun mereka khawatir kalau kondisi Reza belum benar baik-baik saja.
Hujan turun di luar saat Reza, Reno, Aris dan Sela didalam mobil, Aris mengendarai mobil menuju tempat Glen karena Aris tadi mengikuti Glen saat menbawa Gilsha, saat mereka sampai disana tempat itu sudah kosong.
"Kita susul ke bandara, ambil jalan pintas biar kita bisa nyelip mereka," ujar Reno yang membuat Aris mengangguk.
Mereka kemudian segera menuju bandara melalui jalan lain, dan benar saja saat di jalan potong itu mereka bisa mendahului mobil Glen.
PRTT!
Decitan ban saat Glen mengerem mobilnya membuat Gilsha terkejut, pasalnya kini didepan mobil Glen sudah ada mobil Aris.
Reza, turun dari mobil itu, tidak memperdulikan kondisi hujan, dia merentangkan tangannya didepan mobil Glen.
"Bunuh aja saya kak! Karena ketika kak Glen membawa Gilsha, itu sudah merebut sebagian nyawa saya!" teriak Reza yang membuat Gilsha ingin keluar namun ditahan oleh Glen.
•
•
•
TBC
Assalamualaikum
__ADS_1
Glen meresahkan~