
"Sedang, apa kamu disini?" tanya Glen berdiri saat Sela berdiri dihadapannya.
Sela terdiam dan mengatur napasnya, dia menatap pria itu dari atas sampai bawah, merasakan bahwa dia benar-benar tidak ingin kehilangannya.
Grep.
Sela langsung memeluk erat Glen yang membuat Glen kembali terdiam, dia membenamkan wajahnya di dada Glen yang bisa membuatnya nyaman.
"Jangan."
"Kamu kenapa?" tanya Glen kembali pada Sela.
"Kak Glen yang kenapa? Setelah ngasih ini, kak Glen mau pergi gitu aja, setelah aku udah bener-bener jatuh cinta?"
"Saya, bukan pelarian lagi kan?"
Deg.
Sela merasa tertampar oleh kalimat Glen kepadanya, dia menundukkan kepalanya kemudian kembali memeluk Glen. "Maafin aku, harusnya aku gak ngejadiin kak Glen pelampiasan dulu."
"Saya mengerti Sela, jaga diri kamu, sebentar lagi pesawat saya akan berangkat," ujar Glen melepaskan pelukan Sela kepadanya.
"Gaboleh, kak Glen gaboleh pergi, lihat ini, aku udah makai cincin dari kak Glen, aku udah makai semuanya, kenapa kak Glen pengen pergi sekarang?"
"Saya harus memulai hidup saya, Sela, kamu juga harus memulai hidup kamu, masa lalu biarkan menjadi masa lalu," jawab Glen melangkahkan kakinya.
Glen membalikkan badannya sementara Sela terdiam dengan air mata yang mulai jatuh, serius, Glen menolak penerimaan Sela terhadap cintanya.
"Kak Glen! Kak Glen cinta gak sama aku?"
Glen menghentikan langkah kakinya, ia menyugar rambutnya perlahan. "Harusnya saya yang nanya ini, Sela, kamu cinta gak sama saya? Dan jawaban kamu dulu adalah Tidak, apalagi yang saya harapkan."
"Kak! Aku cinta sama kakak!" jawab Sela yang membuat Glen tidak menghiraukannya.
"Kak Glen, bukannya aku gak sopan, tapi bisa gak sih, kakak ngasih kesempatan kedua untuk Sela, aku juga gak mau pisah lagi sama kakak aku, cuma kak Glen keluarga kandung aku saat ini," Gilsha berjalan ke arah Glen kemudian berdiri dihadapannya.
__ADS_1
Glen mengusap kepala Gilsha kemudian memeluknya. "Kakak berusaha, Sha, tapi kakak gak bisa, sakit itu terlalu dalam."
"Satu kali aja kak, kasian Sela, dia udah berusaha memperbaiki kesalahannya," jawab Gilsha.
"Kamu jaga dirimu yah, Reza pasti bisa menjaga kamu dengan baik, kakak tidak tahu kapan kakak akan kembali," Glen mengecup kening adiknya kemudian kembali berjalan.
Semuanya terdiam, tampaknya Glen sudah bulat dengan tekadnya terhadap niatnya pergi, tak terasa hatinya pun sakit akan keikhlasan ini.
"Kak!" Sela berteriak memanggil nama Glen namun Glen tidak menggubrisnya. "Aku cinta sama kak Glen."
Glen masih terus berjalan, Kaki Sela sudah tidak mampu menopang tubuhnya, dia terduduk di lantai dengan kepala tertunduk, penyesalan memang selalu datang terlambat terlebih saat Glen sudah sangat tulus menyayanginya dulu.
Glen tidak kuat, ia membalikkan badannya kemudian berlari ke arah Sela, keinginannya goyah, seharusnya harus ada kesempatan kedua untuk seseorang, Glen langsung mengangkat tubuh Sela dan memeluknya dalam.
Melihat itu membuat Gilsha, Reza, Reno dan Aris tersenyum lega, Sela sendiri berusaha memprospek segala isi pikirannya terhadap semua yang terjadi.
"Kakak cinta sama kamu!"
"Kak Glen, Nerima aku?"
"Kita akan mulai semuanya dari awal, kakak sadar kakak gabisa melakukan hal ini, semakin jauh kakak melangkah, semakin sakit hati kakak, dan seharusnya kakak tahu bahwa yang kakak cari selama ini adalah kamu," jawab Glen.
Mereka berdua berpelukan ditengah hiruk pikuk bandara itu yang membuat semuanya terasa damai.
Beberapa Bulan Kemudian.
"Kondisi istri kamu bagaimana?" tanya Glen yang baru saja tiba dirumah sakit dan menemui Reza yang ada di koridor.
"Kak, Gilsha masih diproses sama Mbak Sela," jawab Reza yang kini memanggil Sela dengan sebutan Mbak karena Sela sudah menikah dengan kakak iparnya, yaitu Glen.
"Semoga mereka baik-baik saja yah, anak dan ibunya selamat," ujar Glen menepuk pundak Reza yang jelas khawatir.
Ini adalah kelahiran anak pertamanya, jelas yang paling deg-degan adalah Reza bahkan mungkin nanti yang akan terkena Baby Blues adalah Reza sendiri.
Tak lama kemudian terdengar suara tangisan bayi tapi saling bersahutan, Reza dan Glen saling memandang sebelum mereka masuk ke dalam, ternyata benar Gilsha sudah selesai melahirkan setelah mengalami proses pembukaan selama dua harian di rumah sakit dari pembukaan pertama sampai pembukaan sepuluh.
__ADS_1
"Alhamdulillah, Ibu dan Anaknya selamat dan ternyata anaknya adil loh," jawab Sela yang tahu maksud kedatangan Reza dan Glen.
"Adil?"
"Kembar, cowok dan cewek, ceweknya mirip Papanya, Cowoknya mirip Mamanya, Alhamdulillah, tunggu yah lagi di bersihin dulu," ujar Sela melepas sarung tangannya kemudian menyusul ke ruang pembersihan yang masih di ruangan yang sama.
Setelah selesai di bersihkan, kedua bayi mungil itu dibawa kepada Reza dan Gilsha, Reza sendiri tidak hentinya mengecup Gilsha dan bersyukur karena semuanya sudah selesai.
"Silakan di azani dulu," ujar Sela yang membuat Reza mengazani kedua pasang putra dan putrinya setelahnya ia menaruhnya di ranjang yang sama dengan Gilsha.
"Alhamdulillah yah, kali ini namanya mau siapa?" tanya Glen yang membuat Reza menatap Gilsha
Gilsha tersenyum memberi tanda setuju kepada Reza untuk mengungkapkan nama anak mereka.
"Namanya adalah Adelina Jia Cyarich dan Adrenz Godfrey Cyarich," jawab Reza mengecup anaknya.
"Nama yang bagus, semoga jadi anak yang soleh dan Solehah."
"Aamiin!"
"Dan semoga aku sama Mas Glen bisa nyusul kalian yah," jawab Sela yang membuat Glen memeluk istrinya itu.
BRAK!
"EH PONAKAN GUE MANA!" Reno masuk ke dalam ruangan itu bersama dengan Aris.
"Jomblo-Jomblo datang nih," ujar Sela yang membuat Aris dan Reno menatapnya tajam.
"Kalian bawa apaan?" tanya Glen.
"Bawa PS buat ponakan baru," jawab Aris yang membuat mereka semua tertawa.
Gilsha tersenyum, semuanya berakhir dengan indah, Gilsha selalu berpesan dan mengingat sesuatu, jika awal pernikahanmu buruk itu bukan salahmu, tapi sampai akhir tetap buruk itu jelas salahmu, dan akhirnya kamulah yang harus memperbaikinya.
SELESAI.
__ADS_1